KABARTIMURNEWS.COM.TIAKUR-Di bawah kepemimpinan Bupati Benyamin Thomas Noach, Pemerintah Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) kini tengah mengalihkan fokus pembangunan ekonomi dari sekadar bantuan sosial menuju industrialisasi produk lokal.
Langkah berani ini diambil untuk memutus ketergantungan daerah pada pasokan luar dan memaksimalkan potensi asli yang selama ini belum tergarap secara profesional.
Salah satu terobosan paling signifikan awal tahun ini adalah keseriusan Pemkab MBD dalam mendorong legalisasi minuman tradisional Sopi.
Melalui koordinasi lintas daerah dan konsultasi dengan pihak keamanan serta BPOM, Pemkab MBD ingin mengubah stigma Sopi dari sekadar minuman keras menjadi produk ekonomi kreatif bernilai tambah tinggi.
“Sopi adalah warisan budaya dan potensi ekonomi yang besar bagi petani di pulau-pulau kita. Jika kita mampu mengemasnya secara legal, higienis, dan memiliki standar kualitas yang baku, Sopi MBD tidak hanya akan menjadi primadona lokal, tapi bisa masuk ke hotel-hotel berbintang bahkan pasar ekspor sebagai produk craft liquor khas Indonesia Timur,” ungkap Bupati Benyamin Noach.
Dikatakan, Pemkab berencana akan membangun sentra penyulingan modern yang dibina langsung oleh tenaga ahli, sehingga kadar alkohol dan kebersihannya terjamin. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan para petani penyadap nira (pohon koli) secara signifikan.
Selain Sopi, fokus ekonomi mendalam lainnya adalah optimalisasi sektor peternakan, khususnya Kerbau Moa dan Domba Kisar yang menjadi ikon MBD. Pemerintah daerah mulai menerapkan program “Inseminasi Buatan” dan perbaikan pakan untuk meningkatkan populasi dan kualitas daging ternak.
Langkah ini juga dibarengi dengan perbaikan jalur logistik transportasi laut (Tol Laut) guna mempermudah pengiriman ternak hidup menuju pasar besar seperti NTT, Makassar, hingga Surabaya.
“Kita punya lahan gembala yang luas. Tantangan kita adalah logistik. Tahun 2026 ini, kami memperkuat kerja sama dengan kementerian terkait agar jadwal kapal ternak lebih rutin dan tidak membebani biaya operasional peternak lokal,” tambahnya.
Dengan dua mesin ekonomi ini—hilirisasi produk lokal dan modernisasi peternakan—Pemkab MBD menargetkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan penurunan angka kemiskinan ekstrem. Pemerintah optimistis bahwa dengan mengelola apa yang sudah dimiliki oleh rakyat, pertumbuhan ekonomi MBD akan lebih stabil dan mandiri di tengah tantangan ekonomi global tahun 2026. (KT)



























