Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

KABAR ARU

Menjaga Nyala Api Persaudaraan, Saat Warga Kalar-Kalar & Salarem Berjabat Tangan

badge-check


Menjaga Nyala Api Persaudaraan, Saat Warga Kalar-Kalar & Salarem Berjabat Tangan Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM.DOBO-Ketegangan yang sempat membayangi Kota Dobo dalam beberapa hari terakhir akhirnya menemui titik terang.

Di tengah ancaman polarisasi, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Aru bergerak taktis memadamkan bara api sebelum sempat membesar.

Bertempat di ruang kerja Bupati Aru, sebuah meja bundar menjadi saksi bisu kembalinya pelukan hangat antara warga Desa Kalar-Kalar (Feruni) dan Desa Salarem, Rabu, 24 Juni 2026.

Mediasi yang diinisiasi oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) ini bukan sekadar pertemuan formal birokrasi, melainkan sebuah ruang refleksi kultural untuk mengingat kembali akar hakiki masyarakat Aru: Di atas segala perbedaan, semua yang berpijak di bumi Jargaria adalah bersaudara.

Dipimpin Kepala Kesbangpol Aru, Yoel Gaite, forum mediasi ini dihadiri langsung Bupati Kepulauan Aru Timotius Kaidel, Kapolres AKBP Albert Perwira Sihite, serta para tokoh masyarakat dan pemuda dari kedua belah pihak.

Atmosfer ruangan yang semula kaku perlahan mencair ketika Bupati Timotius Kaidel memberikan arahan yang menyentuh sanubari.

Dengan nada bertenaga namun penuh keteduhan, Bupati Kaidel mengingatkan bahwa konflik hanya akan membawa kemunduran dan penderitaan bagi anak-cucu.

“Kita semua bersaudara. Jangan biarkan persoalan ini berkembang menjadi konflik yang lebih besar. Mari selesaikan secara kekeluargaan demi menjaga keamanan dan kedamaian bersama,” tegas Bupati Kaidel di hadapan keterwakilan kedua desa yang berkonflik itu.

Bupati menegaskan ikatan darah dan budaya sesama anak Aru jauh lebih kuat daripada ego kelompok.

Pemerintah daerah berkomitmen untuk mengawal kesepakatan damai ini agar tidak berhenti di atas kertas sebagai seremonial belaka, melainkan membumi dalam interaksi sehari-hari masyarakat di hilir.

MEMBURU PROVOKATOR

Pertemuan ini juga melahirkan sikap kritis dari para tokoh yang hadir. Mereka menyadari, konflik horisontal seperti ini jarang sekali murni karena keinginan masyarakat bawah, melainkan kerap ditunggangi oknum yang menari di atas penderitaan orang lain.

Sorotan tajam datang dari tokoh masyarakat Desa Salarem, Demianus Labok. Dengan lantang ia meminta pihak kepolisian untuk memburu dan menindak tegas aktor intelektual atau provokator di balik ketegangan ini.

“Kalau ada oknum yang sengaja memperkeruh keadaan dan tidak menginginkan perdamaian, maka harus ditindak tegas sesuai hukum. Jangan biarkan segelintir orang mengorbankan hubungan baik antarwarga yang selama ini terjalin,” cetus Demianus.

Selain itu, forum juga memberikan catatan penting bahwa perdamaian yang berkelanjutan tidak cukup hanya lewat pendekatan hukum formal.

Dibutuhkan keterlibatan lembaga adat pelindung sosiologis Maluku, yaitu Ursia-Urlima, serta tokoh agama untuk memulihkan luka batin pasca konflik secara total.

Sebagai bentuk konkret di lapangan, kedua desa juga merekomendasikan langkah preventif yang ekstrem namun perlu: meminta kepolisian menyapu bersih siapa pun yang kedapatan membawa senjata tajam, baik dari Desa Salarem maupun Desa Feruni/Kalar-Kalar tanpa pandang bulu.

Menjawab tantangan tersebut, Kapolres Kepulauan Aru AKBP Albert Perwira Sihite memastikan jajarannya akan berdiri di tengah secara netral dan bertindak profesional. Polisi tidak akan ragu menyeret siapa pun yang mencoba mengoyak kedamaian Dobo ke jalur hukum.

“Kami akan melakukan penindakan sesuai ketentuan hukum yang berlaku. Yang terpenting saat ini seluruh masyarakat menahan diri dan tidak mudah terprovokasi,” cetus Kapolres.

Mediasi hari itu diakhiri dengan kesepakatan bersama untuk menghentikan seluruh bentuk pertikaian. Lewat jabat tangan yang erat antar-perwakilan desa, terselip harapan besar agar roda sosial, ekonomi, dan pembangunan di Kota Dobo bisa kembali berputar tanpa dibayangi rasa was-was.

Kalar-Kalar dan Salarem hari ini telah mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru Kepulauan Aru: “Ketika amarah sempat menyekat, maka adat, hukum, dan rasa persaudaraanlah yang menjadi jalan pulang menuju kedamaian,” demikian akta damai yang tercetus.(KT)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Judi Dadu di Dobo Marak, Warga Desak Polda Maluku Turun Tangan

24 Mei 2026 - 23:52 WIT

HUT IBI ke-75: Kepulauan Aru Bidik 1.303 Peserta KB Pascapersalinan

8 Mei 2026 - 06:27 WIT

Kapal Kandas di Perairan Benjina, 44 Penumpang Berhasil Dievakuasi Selamat

16 April 2026 - 11:53 WIT

Setahun Memimpin Aru Surplus Dari 11 Juta Jadi 60 Miliar

24 Februari 2026 - 03:39 WIT

Membongkar Skandal Korupsi Dana Hibah Aru, Rp 80 Miliar

22 Februari 2026 - 06:47 WIT

Trending di KABAR ARU