KABARTIMURNEWS.COM.DOBO-Baru saja mencicipi ketenangan setelah sempat ditutup, warga Kota Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku, kini harus kembali mengelus dada.
Aktivitas judi dadu di wilayah tersebut kembali dibuka secara terang-terangan, bahkan kondisinya kini jauh lebih marak dan meresahkan.
Tak tahan dengan situasi yang kian tak terkendali, warga setempat mendesak jajaran Polda Maluku untuk segera turun tangan menyapu bersih penyakit masyarakat ini.
“Harus ada tindakan tegas. Tangkap motor perjudian itu, lalu jebloskan ke dalam tahanan biar ada efek jera,” usul sejumlah warga dengan nada geram kepada kabartimurnews.com, di Dobo, Minggu, kemarin.
Kembalinya lapak judi dadu ini benar-benar merenggut hak warga untuk hidup tenang. Suara riuh dan gaduh yang konstan dari lokasi perjudian membuat warga sekitar stress karena kesulitan untuk sekadar beristirahat.
“Untuk tidur siang atau malam sangat sulit. Ribut-ribut dari sebelah (lokasi judi) yang buat kami resah. Kami berharap ada ketegasan dari aparat kepolisian,” keluh warga.
Namun, bukan hanya soal kebisingan yang bikin pusing. Warga juga dihantui oleh bom waktu bernama kriminalitas.
Pasalnya, arena judi tersebut kerap menjadi tempat berkumpulnya orang-orang dalam kondisi mabuk minuman keras (miras). Kombinasi antara kalah judi dan pengaruh alkohol dinilai sangat rawan memicu bentrokan fisik.
“Ini yang kami khawatirkan terhadap ancaman keamanan. Taulah kalau orang sudah mabuk gimana perilakunya, apalagi ditambah kalah judi dadu. Kita berharap ini jadi atensi Polda Maluku untuk melihat permasalahan ini,” beber mereka.
Ada fakta menarik yang terungkap di balik layar. Bisnis haram yang kembali menggeliat ini ternyata tidak lagi digerakkan oleh pemain lama, melainkan dikomandoi oleh sosok asing.
“Saat ini bos judi dadu orang baru, bukan yang lama. Yang lama, setelah ditutup kemarin, dia pun menghilang. Kini muncul bos baru alias wajah baru,” ungkap warga membocorkan.
Kini, bola panas berada di tangan aparat penegak hukum. Warga Dobo sangat berharap Polda Maluku tidak menutup mata dan segera mengambil tindakan konkret sebelum riak keresahan warga ini berubah menjadi konflik sosial yang lebih besar. (KT)


























