Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Politik

Pilkada Kota Ambon, Pemilih Irasional Bakal Mendominasi

badge-check


Pilkada Kota Ambon, Pemilih Irasional Bakal Mendominasi Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Masa jabatan Richard Louhenapessy dan Syarif Hadler sebagai Walikota dan Wakil Walikota Ambon akan berakhir pada Desember 2021 mendatang. Siapa yang nantinya duduk mengganti jabatan yang dilepas Louhenapessy? Itu belum bisa dipastikan. Semua baru akan terjawab usai Pilkada Kota Ambon 2024 digelar.

Kini, sejumlah nama mulai bermunculan. Figur yang digaungkan itu mulai dari kalangan politisi maupun birokrasi. Mereka akan bertarung dalam Pilkada Kota Ambon 2024 mendatang. Misalnya di PDI Perjuangan, ada nama Edwin Adrian Huwae, Lucky Wattimuri, Mercy Barends, Febry Tetelepta dan kader PDI Perjuangan lainnya.

Hal ini juga terlihat di Partai politik lainnya, seperti Partai Golkar, PPP, Gerindra, Nasdem dan lainnya. Masing-masing Parpol ini menyiapkan figur terbaiknya untuk diusung merebut kursi Walikota-Wakil Walikota Ambon.

Sementara dari kalangan birokrasi, nama Rusdi Ambon santer dibicarakan. Isu berhembus, Rusdi malah disiapkan oleh Ketua DPD PDI Perjuangan Maluku, Murad Ismail sebagai calon walikota Ambon dalam perhelatan lima tahunan tersebut.

Lalu, siapakah yang nantinya punya peluang besar untuk menduduki tampuk kekuasaan di Kota berjuluk Manise itu? Pengamat Politik Maluku, Amir Kotaramalos berpendapat, tergantung siapa yang mampu untuk mendatangkan hal-hal besar, maka tokoh itulah yang dipilih rakyat.

“Tergantung si calon pernah berbuat apa, berapa besar perbuatannya, dan akibat perbuantannya itu bagaimana dampaknya ke kesejahteraan masyarakat,” kata Amir kepada Kabar Timur, Rabu (15/9)

Kendati demikian, akademisi Universitas Pattimura Ambon itu agak pesimis jika masyarakat akan berlaku rasional dalam pesta demokrasi di Kota Ambon nanti.  Dia malah menilai kalau rakyat lebih banyak yang irasional. Artinya, rakyat akan melakukan sesuatu yang tidak berdasarkan akal atau pikiran yang sehat.

“Kalau memang Pilkada dalam masa pandemi, maka itu menciptakan masa yang irasional. Orang tidak lagi berpikir panjang. Mereka akan replay pada kehidupan politik atau elit-elit politik ketika itu. Mereka lihat rakyat atau tidak,” sebutnya

Kemudian, jika orang memilih untuk tidak memilih dalam pilkada, itu berarti ada kekecewaan disana. Sekarang, hanya bisa berharap semoga rakyat bisa berpartisipasi secara baik. “Walaupun ada eleman masyarakat lain yang rasional, tapi saya melihat tidak rasional yang lebih dominasi. Itulah akses dari pandemi covid-19,” pungkasnya. (KTY)

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

15 Hari di Luar Daerah per Bulan: Pemerintahan KKT Dinilai “Jalan Setengah Mesin”, DPRD Didesak Ambil Sikap

25 Juli 2026 - 20:17 WIT

Pelni Ambon & Tim Gabungan Perketat Pengawasan Kapal dari Penyelundupan Satwa Dilindungi dan Barang Terlarang

22 Juli 2026 - 21:30 WIT

BKKBN Maluku & Muslimat NU Bergandengan, Ubah Edukasi Stunting Jadi Aksi Nyata Lewat “Ibu Asuh”

21 Juli 2026 - 20:33 WIT

Ini Strategi Pemprov Maluku di Blok Masela Biar Putra Daerah Tak Cuma Jadi Penonton

21 Juli 2026 - 20:21 WIT

Menanti Blok Masela: Pelni Ambon Siap “Tancap Gas” Jika Arus Logistik Mulai Membanjir

17 Juli 2026 - 00:14 WIT

Trending di Maluku