KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Penanganan stunting di Provinsi Maluku kini tak lagi sebatas sosialisasi dan imbauan di atas kertas.
Melalui sinergi erat antara Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku dan PW Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Maluku, langkah pencegahan stunting ditingkatkan menjadi aksi nyata yang menyasar langsung meja makan keluarga berisiko.
Langkah strategis ini dimatangkan dalam pertemuan antara Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Maluku, Edi Setiawan, dengan Ketua PW Muslimat NU Maluku, Uri L Daeng Malimpo, di Ambon, Selasa.
Selama ini, upaya intervensi stunting masih didominasi oleh kegiatan edukasi. Namun, BKKBN Maluku menilai bahwa edukasi harus diimbangi dengan pemenuhan gizi langsung dan pemulihan ekonomi keluarga.
Untuk memastikan bantuan tidak salah alamat, BKKBN menyiagakan data Keluarga Berisiko Stunting yang dihimpun secara presisi dari rumah ke rumah. Data ini nantinya menjadi peta navigasi bagi Gerakan Ibu Asuh milik Muslimat NU.
“Kami memiliki data yang diperoleh langsung dari lapangan. Data ini bisa dimanfaatkan agar intervensi lebih tepat sasaran. Harapan kami, Gerakan Ibu Asuh tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi hadir melalui pemenuhan gizi, pemberdayaan keluarga, serta kolaborasi lintas mitra,” tegas Edi Setiawan.
Inisiatif Muslimat NU ini juga selaras dengan Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting), salah satu agenda prioritas dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN.
Gerakan Ibu Asuh yang digagas Muslimat NU sebetulnya bukanlah hal baru. Sejak 2023, para anggota Muslimat NU telah menyisihkan rezeki pribadi untuk menyokong tumbuh kembang anak-anak di Maluku.
Setiap bulan, pengurus dan anggota turun langsung menyapa keluarga sasaran. Tak sekadar memberikan penyuluhan pola asuh, mereka membawa paket nutrisi seperti telur dan susu yang dibeli dari hasil patungan mandiri.
“Program Ibu Asuh sudah kami jalankan sejak 2023. Setiap bulan kami turun mendampingi keluarga berisiko stunting, membawa bantuan makanan bergizi dari swadaya anggota. Melalui kolaborasi dengan BKKBN, kami berharap manfaatnya bisa menjangkau lebih banyak keluarga di Maluku,” tutur Uri L Daeng Malimpo.
Sebagai bentuk dukungan penuh, BKKBN Maluku akan memfasilitasi gerakan ini dengan penyediaan data sasaran, pendampingan program, hingga pencatatan resmi.
Integrasi data ini penting agar setiap bantuan yang disalurkan Muslimat NU tercatat sebagai bagian dari pencapaian nasional Program Genting.
Edi Setiawan mengapresiasi konsistensi Muslimat NU dan optimistis model kolaborasi ini dapat menjadi benchmark (contoh praktik baik) bagi daerah lain di Indonesia.
Sinergi antara pendekatan data pemerintah dan ketulusan gerakan berbasis komunitas keagamaan ini diharapkan mampu memperluas jangkauan ke seluruh kabupaten/kota di Maluku—melahirkan generasi Maluku yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (AN/KT)


























