KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Petani sawah di Namlea, Kabupaten Buru maupun Gemba di Seram bagian Barat atau Kobisonta di Maluku Tengah terancam beras produksi mereka tak dibeli pihak Perum Bulog Divre Maluku-Malut. Perusahaan logistik negara itu lebih memilih beras provinsi lain, bahkan luar negeri.
Kepala Divisi SDM Perum Bulog Maluku-Malut Abdul Latif Malawat tidak langsung menjawab kalau pihaknya menolak membeli beras petani sawah di Maluku saat dikonfirmasi. Namun dirinya menegaskan, yang dibeli oleh Bulog hanya beras yang sesuai standar Kementerian Perdagangan RI.
“Bulog beli beras sesuai permendag no 24 tahun 2020. Dengan kadar Air 14 % maximal. Dengan hargaRp. 8.300 /kg,” jelas Malawat singkat melalui pesan WhatsApp, diterima Kabar Timur, Sabtu pekan kemarin.
Sebelumnya sumber Bulog Divre Maluku-Malut mengaku pihaknya saat ini hanya membeli beras asal Provinsi Sulsel. Dan untuk menambah stok beras jika diperlukan, didatangkan beras impor dari Pakistan.
“Kalau Vietnam sementara ini tidak lagi,” jelas sumber di kantor Bulog Divre Maluku-Malut, Rabu pekan kemarin.
Dia menjelaskan, soal beras pasokan petani Namlea maupun pulau Seram, ditolak disebabkan kadar air yang tinggi daripada patokan pemerintah. “Hanya untuk beras yang bisa simpan di gudang sampai satu tahun. Jadi kadar air tinggi tidak bisa masuk gudang,” akuinya.
Kalaupun dibeli oleh Bulog, biasanya ada MoU lebih dulu dengan Pemda setempat yang membutuhkan. Misalnya untuk kebutuhan para pegawai Pemda atau kebutuhan lain yang sifatnya darurat.
Sementara itu pemerhati sosial Herman Siamiloy menilai dengan kebijakan pembelian pihak Bulog tersebut dipastikan harga beras produksi petani lokal di Maluku bakal murah. “Kalau pun tidak ditolak pasti Bulog beli dengan harga murah. Iya sudah pasti memukul petani, kesejahteraan mereka terancam,” ingat Herman. (KTA)



























