Minyak Tanah Menghilang di Ambon

KABARTIMURNEWS.COM. AMBON – Minyak tanah menghilang di pulau Ambon. Di wilayah Leihitu, Salahutu dan Leihitu Barat, pulau Ambon, kabupaten Maluku Tengah kelangkaan minyak tanah (Mitan) terjadi hampir dua pekan.

Sepekan terakhir, kelangkaan Mitan juga merambah kota Ambon. Jika pun ada, harga Mitan melonjak Rp5000 per jerigen kapasitas lima liter. Semula Rp18.000-Rp 20.000 melonjak menjadi Rp 25.000 per jerigen. Rencana PT Pertamina (Persero) konversi Mitan ke elpiji disinyalir menjadi penyebab menghilangnya Mitan. Warga pun kelabakan karena bahan bakar minyak untuk memasak itu menghilang di pasaran.

Sejumlah pengecar Mitan di kota Ambon yang ditemui Kabar Timur mengaku pasokan dari agen Mitan telah berkurang sejak akhir Desember 2020. Penyebab pengurangan pasokan belum diketahui pasti, tapi diduga untuk memuluskan rencana Pertamina mengalihkan penggunaan Mitan ke gas elpiji.

“Mungkin untuk itu (konversi Mitan ke elpiji), karena kami diwajibkan oleh agen minyak tanah untuk membeli elpiji dan kompor gas,” ujar sejumlah pengecer Mitan di kawasan STAIN, Galunggung dan Batumerah, Ambon, Kamis (7/1).

Beberapa pengecer kepada Kabar Timur meminta namanya tidak disebutkan dengan alasan menjaga hubungan relasi dengan agen Mitan.

Mereka mengaku jika tidak membeli kompor dan gas dari agen, jatah pasokan Mitan dikurangi. Anehnya, meski telah membeli kompor dan gas elpiji, pasokan Mitan dari agen ke pengecer tetap dikurangi. “Biasanya saya dipasok minyak tanah empat kali dalam sepekan sebanyak empat drum, kini hanya dua kali, tidak tahu kenapa dikurangi,” ujar pengecer.

Kompor gas yang dijual agen Mitan ke pengecer merk Rinnai. Pengecer terpaksa merogoh kocek lebih dari Rp 1 juta untuk varian dua tungku ini. Pengecer juga diharuskan membeli tabung gas elpiji bright ukuran 5,5kg dan 12kg. Tabung warna pink yang telah diisi gas merupakan lisensi Pertamina. “Untuk dua tabung gas siap pakai yang kami beli itu harganya juga lebih dari Rp 1 juta,” kata pengecer.

Selain dipaksa untuk dipakai sendiri, agen meminta pengecer menjual gas elpiji ke warga. Tetapi gas elpiji nyaris tidak kunjung terjual karena warga di kawasan itu masih mengandalkan kompor konvensional berbahan Mitan untuk memasak. “Kalau pun ada warga yang beli itu profesi sebagai pedagang makanan. Sementara rumah tangga masih menggunakan kompor bahan bakar minyak tanah,” sebutnya.

Pengecer Mitan di kawasan tersebut dipasok dari sejumlah agen Mitan di kota Ambon. “Ada beberapa agen seperti di Waihaong, Benteng, agen di jalan Sultan Babullah dan di Waiheru,” sebut dia.

Pengecer di kawasan STAIN mengaku sudah sepekan tidak dipasok Mitan dari agen. “Kita sudah pesan sejak akhir Desember 2020 tapi sampai sekarang belum mendapat pasokan minyak tanah,” kata pengecer yang tidak ingin namanya diwartakan.

Setiap pekan, dia mampu menjual Mitan kepada warga sebanyak 10-15 drum kapasitas 200 liter. “Setiap minggu saya order dua sampai tiga kali, jumlahnya 10 sampai 15 drum ukuran 200 liter per drum Pertamina. Tapi tidak tahu kenapa pesanan kami belum dipasok agen,” ujarnya.

Pantauan Kabar Timur pengecer yang kehabisan stok, memasang tulisan “minyak tanah habis” di lembaran karton bekas dan diletakan di atas drum Mitan yang kosong. Beberapa pengecer yang masih memiliki stok terlihat melayani warga yang antri sambil membawa jerigen kosong.

Warga yang mayoritas ibu-ibu itu terlihat kesal akibat kelangkaan Mitan. “Beta dengan paitua (suami) su taputar cari minyak tanah dari kemarin, dapat di sini, syukur jua. Tampa laeng su seng ada lai,” kata ibu Nur dengan dialeg Ambon.

Meski harus antri, warga mengaku senang bisa mendapatkan Mitan, meski harga sedikit melonjak. “Seng apa-apa jua nae Rp 5000 per jerigen yang penting dapat (beli Mitan),” ujar Wati, ibu rumah tangga.

Warga berharap pemerintah melalui instansi terkait dan Pertamina menggelar operasi pasar Mitan. Tujuannya mengatasi kelangkaan dan menstabilkan harga Mitan.

Menurut mereka, jika pun dilakukan konversi Mitan ke elpiji, Pertamina harus sosialisasi kepada masyarakat. “Jangan mendadak minyak tanah menghilang karena mau diganti dengan elpiji. Tanpa pemberitahuan dari Pertamina tentu katong tidak siap dan kaget,” ujar Ina, warga Wara, desa Batumerah.

Pengalihan Mitan ke elpiji menurut warga membebani masyarakat yang memiliki ekonomi pas-pasan. “Beta ini cuma jual nasi kuning untuk menghidupi keluarga. Untuk memenuhi kebutuhan pokok keluarga saja susah, bagaiama katong mau beli kompor gas dan elpiji yang mahal itu,” kesal dia.

Warga berharap Pertamina memberikan subsidi kepada keluarga kurang mampu jika pada akhirnya Mitan dikonversi ke elpiji. “Harus ada subsidi untuk pembelian elpiji yang harganya mencapai Rp 250.000 untuk tabung 5,5 kg,” kata Andi, warga Galunggung. (KT)

Komentar

Loading...