SMS-GES Tampil Memukau di Debat Kandidat

KABARTIMURNEWS.COM, NAMROLE – Debat kandidat kedua Pilkada Buru Selatan 2020, pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati, Safitri Malik Soulisa-Gerson Eliaser Selsily benar-benar tampil memukau. Tiga Paslon kembali beradu visi misi dalam debat kedua yang digelar di Gedung Serbaguna, kota Namrole, Sabtu (28/11) malam. 

Debat kandidat diikuti tiga kontestan Pilkada Bursel 2020, yaitu Paslon nomor urut 1, Hadji Ali-Zainudin Booy. Paslon dengan akronim AJAIB ini diusung oleh Partai Golkar (3 kursi) dan Gerindra (1 kursi). 

Berikut Paslon nomor urut 2, Abdurrahman Soulisa-Elisa Ferianto Lesnusa. Paslon dengan jargon MANIS ini diusung Partai Nasdem (3 kursi), Hanura (2 kursi),  dan PPP (2 kursi).

Dan Paslon nomor urut 3, Safitri Malik Soulisa-Gerson Eliaser Selsily. Paslon akronim SMS-GES ini didukung PDI Perjuangan (2 kursi), PAN (2 kursi), Perindo (2 kursi), Partai Demokrat (2 kursi) dan Partai Berkarya (1 kursi). SMS-GES juga didukung oleh lima partai non kursi, yakni PKB, PKS, PSI, PKPI dan PBB.

Seperti debat kandidat perdana pada 24 November, SMS-GES mampu menguasai panggung dan menuai decak kagum panelis dan audiens yang hadir. 

Pertanyaan panelis maupun dari rival mereka di Pilkada Bursel, mampu dijawab oleh SMS-GES dengan baik pada debat kandidat kedua atau pamungkas itu. Sebaliknya Cabup nomor urut 1, Hadji Ali, terlihat tegang dan gagal paham menjawab pertanyaan yang diajukan SMS-GES.

Memasuki segmen keempat debat, Safitri mengajukan pertanyaan seputar sektor pendidikan. Menurutnya Angka Partisipasi Kasar (APK) dan Angka Partisipasi Murni (APM) adalah salah satu faktor penting dalam human development indeks. Dan indikator ini sangat berhubungan dengan tingkat kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. “Bagaimana Pak Hadji Ali menanggapi permasalahan ini?,” tanya Safitri.

Hadji Ali terlihat tegang ketika menyampaikan jawaban. Dikatakan masalah pendidikan di Bursel merupakan tanggungjawab kepala daerah maupun pemerintah daerah. Dia mendapati pada Sekolah Dasar (SD) ternyata guru honorer tidak memiliki basic pendidikan sesuai dengan apa yang mereka kerjakan.

Dia mencontohkan di kampung halamannya, Desa Nalbesy hanya ada satu guru PNS sementara sisanya guru honorer,  sehingga di sinilah tingkat kemiskinan muncul. Hadji Ali meminta calon wakilnya Zainudin Booy untuk melanjutkan jawaban. Zainudin katakan, pada dasarnya pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengangkat harkat dan martabat status sosial masyarakat.

“Olehnya  yang kita dorong adalah minat masyarakat dalam hal ini putra-putri kita untuk mencintai pendidikan sebagai salah satu sektor dalam rangka memperbaharui hal itu,” tuturnya.

Menanggapi jawaban itu, Safitri menyampaikan apa yang diutarakan Hadji Ali tidak tepat sasaran. Sebab menurutnya menyentil guru PNS dan guru honorer merupakan bagian dari gagal paham Hadji Ali terhadap pertanyaan yang dilontarkan. 

“Mungkin mengenai apa yang diutarakan Pak hadji Ali tidak tepat sasaran. Kita berbicara meningkatkan kemiskinan dan kesejahteraan masyarakat. Mengenai guru status PNS dan honorer, bagian dari Pak Hajdi Ali gagal paham terhadap pertanyaan saya. Sebab ini indikator. Jadi apa yang dijelaskan  Pak Zainudin merupakan bagian dari yang saya maksudkan,” kata Safitri.

SMS-GES menjelaskan, tiga hal yang merubah human development indeks, yakni persolan pendidikan, perekonomian dalam hal ini pendapatan per kapita masyarakat serta kesehatan.

Menurutnya APK dan APM mengalami proses perubahan yang juga diikuti human development indeks juga terjadi perubahan dalam peningkatan pembangunan di Bursel. (KTL)

Komentar

Loading...