Sekilas Info

Pembangunan Penginapan “Kadewatan” Dikomplen

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON -Seperti menjual kucing dalam karung, ulah Dinas PUPR Pemkot Ambon yang di dalamnya ada bagian Tata Kota yang bertanggungjawab mengeluarkan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) diduga belum dilengkapi ijin lingkungan. 

Akibatnya ketua RT di kawasan Kadewatan Kelurahan Rijali, Kecamatan Sirimau ini, Sammy Saputera (50) dibuat gerah oleh pembangunan guest house 7 lantai di kawasan itu.

Seperti apa pembuangan limbah dari tempat usaha tersebut belum diperoleh gambaran dari pemilik bangunan. “Intinya sampai sekarang beta seng tau nanti limbah itu dibuang kemana. Katong saja seng tau ini bangunan apa. Syukur-syukur ini penginapan atau gess haus, kalo restoran? Bayangkan gemuk-gemuk (lemak) limbahnya itu, sodara tau saja badakinya nanti macam apa,” ujar ketua RT 001/04 Lorong Kadewatan ini kepada sejumlah wartawan, Jumat sore kemarin.

Dia mengaku bukan hendak  menuding, keluarnya IMB untuk Guest House yang konon milik Hengky Toko Galaxi ini diduga ada yang tidak beres dilakoni oleh Hengky dan oknum dinas dimaksud. 

Dia mengatakan, diduga ada black market atau “pasar gelap” alias pengurusan ijin di bawah tangan sehingga IMB mulus dikantongi oleh pemilik bangunan itu. “Black market itu istilah saya. Saya mau tanya seandainya IMB ini keluar tanpa desain pembuangan limbahnya seperti apa, apa itu bukan namanya loncat terhadap aturan? loncat khan,” ujar Samy.

Samy yang mengaku pernah berkecimpung di bidang teknik sipil itu menilai tempat usaha ini bukan lagi disebut skala kecil. Terlihat dari bangunan yang menurut informasi tingginya nanti mencapai tujuh lantai itu.

Dengan demikian, harus ada kajian terkait lingkungan. Jika bukan ijin Amdal, ya mesti ada dokumen lain soal rencana pengelolaan limbah buangan seperti Upaya Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan (UKL-UPL). 

Kekesalan Samy cukup beralasan pasalnya, lorong Kadewatan yang bertetangga kampung dengan kawasan Tanah Tinggi itu akuinya jadi sampel pemerintah pusat soal lingkungan. Sungai di bawah lorong kadewatan, kata dia, warganya taat asas, tidak membuang sampah rumah tangga di  kali (sungai) seenaknya. 

Karenanya, ketika mengecek dari pekerja bangunan  tersebut diperoleh penjelasan kalau saluran pembuangan dimaksud akan menggunakan saluran warga sekitar, Samy mengaku gerah juga. Apalagi pemilik bangunan tidak pernah berkoordinasi mengenai hal itu dengan pihaknya. 

“Sampe sekarang saja beta selaku RT seng tau Hengky Galaxi itu orangnya yang mana. Dia seng pernah melapor ke RT sini,” akui Samy.

Terpisah pihak Toko Galaxi dimintai konfirmasi mengakui kalau bangunan yang sementara dibangun di Kadewatan itu miliknya dan untuk Guest House. Ditanya soal sistem pembuangan limbah pihak toko menyatakan tidak ada masalah lagi. 

“Kalau IMB sudah khan berarti ijin-ijin (lingkungan) itu semua sudah. Beta urus ijin-ijin ini satu tahun sebelum bangun,”  ujar pemilik bangunan ini yang menolak namanya dipublikasikan itu.

Dia mengaku, urusan perijinan semua sudah beres setelah berproses selama satu tahun di Dinas PUPR Pemkot Ambon. Dan dalam pengurusan semua ijin-ijin termasuk yang berkaitan dengan lingkungan pihaknya berhubungan langsung dengan Kadis PUPR Pemkot. Namun ada lagi nama lain, yaitu Pa Inyo, pada dinas tersebut. Seperti apa ijin-ijin ini diselesaikan, dia menyerahkan segala urusan ke Pa Inyo. 

Ditanya soal sistem pembuangan dari gedung yang mulai dibangun bulan September 2018 itu, dia mengaku sudah ada saluran yang disiapkan. Satu di depan gedung,satunya lagi di belakang. “Tapi nanti kita akan sosialisasi, lagi dengan Ketua RTnya. Intinya dong mau pembuangan seperti apa katong ikut saja,” akunya.

Sementara itu Kadis PUPR Pemkot Ambon Enrico Mattitaputty belum dikonfirmasi untuk dimintai penjelasan soal kelengkapan ijin-ijin lingkungan bangunan tersebut. Demikian pula, stafnya yang disebut-sebut bernama Pak Inyo itu pengurusannya apakah dapat diduga ada black market seperti dituding ketua RT 001/04 Lorong Kadewatan, Samy Saputra. (KTA)

Penulis:

Baca Juga