Sekilas Info

Gembong Narkoba Ambon Bakal “Geser” ke Nusakambangan

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Lembaga pemasyarakatan diharapkan menjadi institusi moderen yang membina narapidana agar setelah bebas mampu berkontribusi dalam masyarakat. Ini penekanan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoli yang mengarah pada pembenahan fungsi Lapas sebagai tempat pembinaan SDM napi agar siap pakai.

Faktanya, para napi sekarang mampu menghasilkan produk-produk ekonomi kreatif berkualitas dan mulai berkontribusi pada pendapatan negara bukan pajak. “Intinya, kata kunci untuk melakukan pembenahan diri itu adalah komitmen,” kata Menteri Yasonna Laoli dalam sambutan yang dibacakan Kakanwil Hukum dan HAM Maluku Andi Nurka pada peringatan Hari Bakti Lembaga Pemasyarakatan, Sabtu (27/4) di Islamic Center, Waihaong.

Namun bagi yang tidak bisa lagi dibina, tinggal tunggu waktu dipindahkan ke Nusakambangan, seperti Gerald Tomatala, gembong narkoba yang kini ditahan di ruang full gembok, Rutan Kelas II Ambon, Waiheru. Gerald sebelumnya menghuni Lapas Ambon, dipindah ke Rutan Waiheru pada blok khusus dengan tingkat pengawasan maksimum.

Disentil Kabar Timur soal dugaan kuat Lapas dan Rutan di Maluku yang kontraproduktif dari fungsinya sebagai tempat peredaran narkoba, Andi Nurka tak menepis. “Intinya anak buah saya sudah bekerja maksimal. Tapi ada saja person-person yang khilaf. Kita akui itu,” ujar Andi Nurka.

Anggota Komisi A DPRD Maluku Chris Leihitu mempertanyakan komitmen Lapas dan Rutan Kelas II Ambon. Mantan Kakanwil Hukum dan HAM Provinsi Maluku itu mengaku heran tempat pembinaan para napi ini bisa dijebol oleh pemasok narkoba.”Lapas dan Rutan aman tergantung hati nurani. Logikanya, Lapas dan Rutan itu hanya punya satu pintu. Pertanyaannya kenapa barang itu bisa masuk?,” ujar Chris Leihitu.

Sebelumnya Lapas Kelas IIA Ambon disinyalir sebagai sarang peredaran Narkotika dan Obat Berbahaya (Narkoba). Peredaran zat adiktif mematikan itu konon dikendalikan oleh Gerald dari dalam Lapas dengan menggunakan telepon genggam.

Itu terungkap setelah Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Maluku menciduk seorang kurir. Kendati demikian, BNN Maluku belum memberikan identitas kurir tersebut karena masih dalam pengembangan.

Menurut Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Hukum-HAM Maluku Frans Ehas Niko, Gerald Tomatala memiliki anggota yang cukup banyak di Lapas Ambon. “Salah satunya yang bernama Rivaldo itu,” ungkap Frans.

Itu sebabnya, pihaknya memindahkan yang bersangkutan ke Rutan Kelas II Waiheru.”Kalau dia gabung dengan napi-napi yang lain, bisa jadi satu massa yang banyak di Lapas. Ini bahaya. BNN sendiri bilang dia ini agak licin,” ujar Frans kepada Kabar Timur.

Sejak ditahan pada 14 April 2018 hingga 8 Mei 2018 lalu, narapidana yang kini sedang menjalani hukuman 6 tahun itu sempat mengendalikan bisnis haramnya tersebut dari dalam Lapas Ambon. Transasksi jual beli sabu-sabu yang berhasil diedarkan dari dalam lapas masing-masing ukuran 5 gram, 25 gram, dan 40 gram. Ada yang 1 paket berisi sabu seberat 20 gram, dan 30 gram. Dalam 1 bulan tercatat ada sekitar 60 gram sabu yang berhasil dijual melalui telepon genggam.

Kepala Rutan Waiheru Kelas II Ambon Irhamuddin kepada Kabar Timur menjelaskan, Gerald Tomatala ditempatkan pada blok khusus ukuran sekira 8 x 6 meter persegi. Dengan pengamanan maksimum dan terisolir dari blok lain, tanpa hape, tak bisa berkomunikasi dengan siapa pun selain sipir penjara dan aktifitasnya selalu dipantau.

Irhamuddin mengaku, Gerald ditargetkan untuk dipindahkan ke Nusakambangan. “Sudah ditargetkan untuk digeser keluar Ambon (Nusakambangan). Tinggal tunggu waktu saja,” akuinya. (KTA)

Penulis:

Baca Juga