Sekilas Info

Terungkap, Bos Angin Timur Diakali “Duo” Terdakwa Pajak

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Ketika ditanya saksi Didat bilang dua-duanya punya perhitungan dan punya aturan. Lho kok begitu? Hasil beda yang satu Rp 1,7 miliar satu lagi Rp 1,37 miliar.

Persidangan lanjutan perkara suap untuk keringanan pajak yang digelar Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Selasa, kemarin di Pengadilan Tipikor Ambon menghadirkan tiga saksi untuk terdakwa mantan Kepala KPP Pratama Ambon La Masikamba dan pengawas pajak Sulimin Ratmin. Terungkap kalau Anthony Liando telah diakali kedua terdakwa, bahkan ditakut-takuti dengan beban pajak.

Akibatnya saksi Anthony Liando yang juga bos CV Angin Timur itu berupaya sebisa mungkin supaya kedua punggawa perpajakan itu membantu dirinya. Dengan harapan nilai setoran pajak akan dikurangi, padahal tanpa iming-iming pun selaku wajib pajak sekelas Anthony, pengurangan bisa saja dilakukan sesuai aturan yang ada.

Alhasil, sejumlah uang mengalir ke kantong La Masikamba maupun Sulimin. Ditelpon untuk dititipi uang ke sopir La Masikamba pun Anthony tak keberatan.”Padahal nilai setoran pajak itu otomatis bisa turun untuk Anthony Liando. Bisa turun dengan sendirinya. Bisa dibilang kedua terdakwa ini hanya pergunakan kesempatan lah. Nah karena kesempatan itu lah ditangkap sama KPK,” cetus Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK Feby Dwiyandospendy menjawab Kabar Timur, Selasa (5/3) usai persidangan.

Sesuai fakta persidangan, saksi kepala pemeriksa pajak Didat Ardimas menjelaskan, adanya dua metode perhitungan nilai pajak yang diterapkan untuk Anthony Liando. Dua cara tersebut sama-sama memiliki aturan dan memungkinkan keringanan pajak bagi Liando. Hitungan pertama Didat, kewajiban pajak Anthony sebesar Rp 1,7 miliar.

Tapi setelah dihitung-hitung dengan metode lain yang juga punya aturan tersendiri nilai itu turun menjadi Rp 1,37 miliar. “Ketika kita tanya saksi Didat bilang dua-duanya punya perhitungan dan punya aturan. Lho kok begitu? hasil beda yang satu Rp 1,7 miliar yang satu lagi Rp 1,37 miliar. Perbedaannya signifikan lho. Tapi katanya itu karena status wajib pajak Anthony Liando yang masih dimungkinkan untuk penurunan itu,” terang Feby.

Tiga saksi dihadirkan oleh JPU KPK masing-masing bos CV Angin Timur Anthony Liando, isteri Anthony, Ny Elis Luther dan kepala pemeriksa pajak dari KPP Pratama Ambon Didat Ardimas. Selain keterangan Didat, kedua JPU KPK Feby Dwiyandospendy dan Moh Takdir Sulhan menampilkan transkrip rekaman via telepon antara Anthony Liando dan La Masikamba. Anthony mengaku semua rekaman pembicaraan yang masuk katagori “top secret” KPK itu.

Seperti dinyatakan JPU Feby Dwiyandospendy kalau intisari percakapan antara Masikamba dengan Anthony Liando berisi permufakatan jahat untuk mengurangi setoran pajak yang diwarnai dengan kejahatan penyuapan. Secara rinci telepon dari terdakwa La Masikamba ke Anthony Liando, muncul nama Sulimin Ratmin yang dijanjikan oleh Masikamba akan menurunkan nilai setoran pajak Anthony Liando.

Dan masih dalam percakapan itu, Anthony Liando sebaliknya menjanjikan akan memberikan uang kepada kedua terdakwa jika urusan setoran pajak itu diselesaikan secepatnya. “Benar itu merupakan percakapan saya dengan La Masikamba,” akui Anthony Liando.

Akan halnya Sulimin Ratmin, terungkap tahun 2016 Liando memberikan uang dua kali dengan total Rp 20 juta, uang tersebut untuk menjalin hubungan baik dengan Sulimin selaku kepala pemeriksa pajak. Dan di tahun 2017, Liando kembali menyerahkan uang sebesar Rp 20 juta kepada Silimin atas permintaan yang bersangkutan. Di tahun 2018, saksi memberi uang sebanyak Rp 120 juta melalui rekening anak Sulimin Ratmin.

Sedang La Masikamba, pada Juni 2016 Anthony Liando berdalih meminjamkan uang kepada saksi sebesar Rp 100 juta. Uang diserahkan langsung di ruangaan La Masikamba. Di persidangan kemarin, Anthony mengaku uang diberikan karena kuatir terjadi hal yang bukan-bukan pada dirinya selaku wajib pajak terkait kewenangan La Masikamba.

Lalu pada Agustus 2018, Anthony kembali memberikan uang sebesar Rp 550 juta kepada La Masikamba melalui transfer ke rekening orang dekat La Masikamba yakni pengacara Muhammad Said.

“Kepada terdakwa La Masikamba itu uang bukan uang suap tapi uang pinjaman. Tapi saya waktu memang takut dengan La Masikamba dengan nilai pajak saya,” beber Anthony Liando yang telah lebih dulu menyandang status terpidana dalam perkara ini.

Sementara saksi Ny Elis Luther menjelaskan ketika dirinya mendapat informasi kalau Dirjen Pajak RI akan memeriksa suaminya selaku wajib pajak setelah ditelepon Sulimin Ratmin. Namun terdakwa La Masikamba menjelaskan agar tidak usah takut karena dia adalah kepala pajak. Sementara di daftar nama pengusaha Anthony Liando belum masuk target pengawas pajak.

Sementara saksi Didat Ardimas.mengaku dirinya yang bertugas memeriksa kewajiban pajak Anthony Liando seperti apa atas perintah Sulimin Ratmin. “Saya hitung dan temuai bahwa nilai tunggakan pajak Anthony Liando sebesar Rp 1,37 miliar. Tapi perhitungan ini belum dengan perhitungan awal menggunakan seluruh transaksi nilai pajak CV Angin Timur,” terang Didat Ardimas.

Usai mendengar keterangan saksi, JPU maupun pandangan tim penasehat hukum kedua terdakwa, Majelis Hakim yang dipimpin Pasti Tarigan beranggotakan 4 hakim tipikor dan hakim adhock itu menunda sidang hingga pekan depan dengan agenda masih pemeriksaan saksi-saksi. (KTA)

Penulis:

Baca Juga