Sekilas Info

Hindari Polemik, Calon Kepala Ohoi Jalani Sumpah Adat

KABARTIMURNEWS.COM, LANGGUR - Sejumlah calon kepala ohoi atau desa di Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) menjalani sumpah adat. Prosesi ini untuk meredam polemik pelantikan mereka.

Prosesi sumpah adat dengan cara meminum air bercampur tanah itu berlangsung di halaman Kantor Bupati Malra, Sabtu (16/2).

Siaran pers Humas Pemerintah Kabupaten Malra menjelaskan, sumpah adat ini merupakan salah satu tradisi masyarakat Kei untuk mencari pembenaran tentang hak milik.

Bupati Malra Muhammad Taher Hanubun mengatakan, prosesi sumpah adat itu diselenggarakan karena akhir-akhir ini semua orang mau merebut jabatan kepala ohoi sehingga terjadi polemik di ohoi-ohoi tertentu.

"Prosesi itu sekaligus menghormati adat istiadat kita di daerah ini. Kita angkat sumpah sehingga apa yang sering saya ucapkan, yakni falsafah kita "hera ni fo ini, it did fo it did" (milik orang tetap milik orang, milik kita tetap milik kita), betul-betul dijalankan," kata bupati.

Menurut dia, proses pemilihan kepala ohoi dilakukan di setiap kecamatan sesuai peraturan daerah yang berlaku. Hasilnya disampaikan ke Pemkab Malra untuk diteliti oleh Bagian Hukum. Bila semua persyaratan sudah terpenuhi, maka dilakukan pelantikan.

"Namun ada komplain dari beberapa pihak, terutama terkait hak untuk menduduki jabatan tersebut, maka prosesi ini (sumpah adat) kita lakukan untuk cari pembenarannya," kata bupati.

Bupati menegaskan, pemerintah daerah tidak punya kewenangan untuk menunjuk kepala ohoi definitif karena harus melalui proses administratif. "Kewenangan kita hanya menunjuk pejabat," tegas orang nomor satu di kabupaten berjuluk Larvul Ngabal ini.

Polemik yang muncul dalam penetapan dan pelantikan kepala ohoi menurutnya adalah hal yang biasa dan karena itu digelar sumpah adat agar polemik itu tidak berkelanjutan.

"Seharusnya sumpah ini dilakukan di ohoi jauh-jauh hari, agar proses kepala ohoi definitif sampai ke kami sudah bersih. Komplain boleh saja dilakukan oleh masyarakat ohoi, baik menggugat pemerintah daerah, menggugat raja saya persilahkan, tapi saya minta sarana umum jangan dirusak," kata bupati mengingatkan.

Dia berharap jabatan ohoi bisa diatur dengan memedomani falsafah hidup orang Kei. Ketika ada kepala ohoi definitif dilantik, diharapkan dapat merangkul semua warganya. "Contohnya kami saat ini sebagai bupati dan wakil bupati ketika usai perhelatan Pilkada, kami hilangkan perbedaan pilihan politik, karena kepentingan daerah lebih besar dari pada kepentingan pribadi kami," tegas Bupati.

Sumpah adat yang digelar di halaman kantor Bupati Malra, dipimpin oleh Bupati didampingi Wakil Bupati Petrus Beruatwarin dan disaksikan camat, tokoh adat (raja). Ohoi yang mengikuti prosesi adat yakni, Langgiar, Ngavan, Fa`a, Fako, Waer, Watsin, Uat Wear, dan Ngursoin. (ANT/KT)

Penulis:

Baca Juga