Sekilas Info

DPRD Bakal Tinjau Aktivitas CV Batu Prima

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - DPRD Provinsi Maluku akan meninjau kerusakan lingkungan hingga tercemarnya air di kawasan sungai Wai Sakula Negeri Laha Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon akibat aktivitas penambanganan oleh CV Batu Prima.

“Jika dari aktivitas itu mengakibatkan masyarakat takut mengkonsumsi air, tentu ini masalah serius. Sehari dua ini DPRD Maluku akan melakukan agenda pengawasan. Kami akan meninjau langsung kondisi di Wai Sakula,” kata Anggota DPRD Maluku, Lucky Wattimury kepada Kabar Timur di Baileo Rakyat Karang Panjang, Ambon, Senin (28/1)

Menurutnya, untuk peninjauan ini, dewan akan melibatkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, pihak CV. Batu Prima dan kepala pemerintahan negeri Laha.

Hal itu penting sehingga ketika ada temuan yang memang merugikan masyarakat, DPRD langsung bisa berkoordinasi dengan kepala pemerintahan negeri Laha dn meminta untuk menghentikan aktivitas penggalian batu kali atau galian C.

“Kami akan gandeng pihak-pihak terkait untuk turun ke sana. Jika memang ditemukan masalah yang merugikan masyarakat, kami akan secepatnya berkoordinasi dan meminta pemerintah negeri Laha menutup aktivitas penggalian perusahaan itu,” tandasnya.

Politisi PDIP ini juga meminta DPRD dan Pemerintah Kota Ambon melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) tidak tinggal diam.

Secepatnya melakukan penanganan yang terarah sehingga warga di kawasan Wai Sakula tidak menjadi dilema dengan masalah yang terjadi di wilayah mereka.

“Harus ada penanganan cepat dan terarah. Masalah ini jangan dibiarkan berlarut-larut. Warga di sana sudah sangat resah karena air minum yang mereka konsumsi sudah agak sulit didapat,” kata Anggota Komisi C DPRD Maluku itu.

Sebelumnya, aktivitas CV. Batu Prima di sungai Wae Sakula Negeri Laha Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon akhir-akhir ini meresahkan warga setempat. Keresahan tersebut menyusul pencemaran lingkungan dari aktivitas galian C oleh CV Batu Prima di wilayah tersebut.

“Sudah enam tahun CV Batu Prima beroperasi di sungai Wae Sakula. Karena sering beroperasi, air di kawasan ini telah tercemar dan kita tidak lagi menggunakan air itu untuk mandi, minum dan lainnya. Untuk itu, kami minta CV Batu Prima segera menghentikan aktivitas di sungai Wae Sakula,” kata Kepala Soa Mewar, Yusuf Mewar saat bertandang ke redaksi Kabar Timur, Rabu (23/1).

Dia mengatakan, awalnya, air digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Namun, setelah adanya aktivitas penggalian batu kali secara terus-menerus, air mulai tercemar. Hal itu dibuktikan dengan hasil pemeriksaan Balai Laboraturium Kesehatan Provinsi Maluku pada akhir Desember 2018.

“Setelah kami uji sampel, ternyata air di sungai Wae Sakula mengandung unsur logam berat. Dari situ, warga tidak lagi menggunakan air tersebut untuk keperluan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Selain mencemari lingkungan, retribusi dari penggalian C ke Pemerintahan Negeri Laha juga tidak jelas adanya. Padahal, setiap mengangkut satu truk berisi material, CV. Batu Prima memberikan fee sebesar Rp 50 ribu ke kas negeri.

“Kami tidak tahu fee dari galian itu diberikan ke siapa, lalu digunakan untuk apa di negeri Laha. Karena sampai saat ini tidak ada pembangunan yang berarti di negeri. Pemerintah negeri juga tidak pernah terbuka soal fee. Kini, warga yang jadi korban dari pencemaran lingkungan,” tandasnya.

Untuk itu, dia menuntut CV. Batu Prima melakukan pemulihan fungsi lingkungan hidup di sungai Wae Sakula. Dan ganti rugi akibat kerusakan lingkungan. (MG3)

Penulis:

Baca Juga