Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Utama

Hery Tinglioy, si Pencetus Budidaya Ikan Nila Air Laut di Teluk Ambon

badge-check


					Hery Tinglioy, si Pencetus Budidaya Ikan Nila Air Laut di Teluk Ambon Perbesar

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Dengan memahami keinginannya, sesuatu di alam dapat dibentuk sesuai keinginan kita. Contohnya Ikan Nila, Hery Tinglioy bahkan terobsesi perairan Teluk Ambon kelak dipenuhi oleh pembudidaya ikan air tawar tersebut.

Namun cerita sukses sosok yang bernama lengkap Lexon Hery J Tinglioy itu, menjadikan beberapa jenis ikan Nila (Oreochromis Spp) mampu hidup di air asin, bukan tanpa proses. Kosongnya job atau pekerjaan sebagai kapten kapal tidak membuatnya nongkrong makan gaji buta dari kantornya, Balai Penyuluhan dan Pelatihan Penangkapan Ikan (BPPP) Provinsi Maluku-Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon.

Sebaliknya di areal pantai yang luasnya sekira 2 kali lapangan futsal tak jauh dari bekas areal dermaga fery Poka-Galala dimana kapal latih milik BPPP, KM Mina Cendekia 1 yang dinakhodainya menganggur. Di situlah awal Hery mendapat inspirasi yang terbilang jenius. Kreatifitasnya muncul dalam kondisi ekstrim, alias tak ada tugas pekerjaan dari kantor.

“Filosofinya harus pernah jadi ikan,” jawabnya mengawali wawancara namun mengundang tanda tanya Kabar Timur, saat ditemui di areal Keramba Jaring Apung BPPP Maluku, Rabu (4/12).

Konon, Hery mulai mendapat ide gila, ketika mencari anakan ikan bubara untuk iseng-iseng memelihara ikan tersebut di keramba jaring apungnya di sekitar lokasi KM Mina Cendekia 1. Dari ratusan anakan bubara yang tertangkap jaring redi milinya, ternyata ada dua anakan ikan mujair.

Namun keanehan terjadi, dua anakan mujair ini tetap hidup setelah satu minggu di dalam keramba bersama semua anakan bubara. “Ternyata, rahasianya pada kadar garam. Waktu itu banjir jadi air laut agak tawar. Tapi air laut berobah pelan-pelan ke asin setelah satu minggu seng ada hujan,” ungkapnya.

Nah, filosofi yang disebutnya harus jadi ikan itu muncul, ketika mengamati keanehan pada anakan mujair yang notabene jenis ikan air tawar ini. Menurut dia, dua anakan mujair tersebut mampu survive karena berhasil beradaptasi dengan kondisi kadar garam di keramba, yang naik perlahan-lahan seiring redanya curah hujan.

Namun lebih jauh soal filosofi ini, menurut pria kelahiran Desa Watmury, Kabupaten MTB, 20 Juni 1969 silam, orang harus mampu memahami keinginan ikan. Untuk ikan Nila yang berhasil ia budidayakan di air laut, pertama orang harus tahu ikan tersebut bukan jenis ikan air asin.

Karenanya butuh perlakuan khusus dan ekstra hati-hati dalam proses menjadikan ikan tersebut sebagai ikan air asin. Hery lalu menunjukkan, sekira 200 anakan ikan Nila di dalam sebuah bak penampungan berbahan fiber berukuran 2,5 meter x 80 cm dengan air setinggi 40 cm.

Semua anakan ikan berukuran 4 – 8 cm di bak penampungan ini, sedang “dikondisikan” atau diproses menjadi ikan air asin. Caranya, Hery mengalirkan air asin ke dalam bak tersebut perlahan-lahan.

Seutas selang halus dipakai Hery untuk mengalirkan air asin dari sebuah ember ke dalam bak tersebut. “Setiap hari kita naikkan kadar garamnya sebanyak 3,2 ppt. Kalo 10 hari, apa bukan 32 ppt? sama dengan kadar garam di Teluk Ambon ini,” jelasnya sambil menunjuk ke ujung selang yang mengeluarkan air asin sekecil kencing bayi itu.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Lapas Ambon Perkuat Mental Spiritual Warga Binaan Selama Ramadhan

19 Februari 2026 - 11:42 WIT

Warga muslim di Leihitu Maluku Tengah puasa 1 Ramadhan Selasa

17 Februari 2026 - 20:42 WIT

Cetak Generasi Tangguh, Lanud Pattimura Gelar Persami KKRI 2026 bagi Pelajar Maluku

14 Februari 2026 - 19:19 WIT

Skandal UP3 Tanimbar, Dugaan Pelanggaran Prosedur Pembayaran Proyek Ratusan Miliar

7 Februari 2026 - 12:11 WIT

Maluku Raup Rp 6 Triliun dari Pajak Impor, Investasi Tembus Rp365 Triliun

6 Februari 2026 - 00:39 WIT

Trending di Maluku