Sekilas Info

Ini Cara Polisi Hentikan Penambang Emas

DOK/KABARTIMURNEWS

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Mengantisipasi baliknya penambang emas secara diam-diam di Gunung Botak (GB), polisi menutup beberapa kawasan inti pertambangan emas. Diantaranya menutup lokasi penyuplai air, penertiban pemukiman baru atau tempat kos para penambang luar daerah, serta dilakukannya pemindahan Pos penjagaan.

Kapolda Maluku Irjen Polisi Royke Lumowa, membuktikan keseriusannya menutup dan membersihkan penambang ilegal dari kawasan pertambangan emas GB. Caranya, adalah menutup sejumlah wilayah inti yang dipakai penambang untuk mengambil dan mengolah emas.

Strategi Polda Maluku, itu dijalankan melalui operasi penertiban yang dipimpin AKBP. Ricky Purnama, Kepala Polres Pulau Buru yang baru, dengan melibatkan 70 personel gabungan dari Brimob Namlea, Kodim Namlea dan Satpol Pp. Bahkan, kemarin, Karo Ops Polda Maluku, memantau langsung kawasan GB, Kabupaten Buru.

Kedatangan Karo Ops, itu untuk memberikan arahan secara langsung kepada warga masyarakat adat di pos jalur D. Arahan yang disampaikan atas perintah Kapolda Maluku. Dimana, pihaknya akan mengambil langkah tegas berupa penindakan terhadap para penambang yang masih mencoba melakukan aktivitas penambangan.

Selain itu, kedatangan Karo ops juga sekaligus berkoordinasi sebagai tindaklanjut hasil pemetaan Kapolres bersama Dandim Namlea. Dimana, sejumlah Pos penjagaan yang berada di wilayah GB, akan diganti. Seperti menggeser Pos E ke pos jalur Pagar Seng. Pos Dava bergabung dengan Pos H.

“Pertimbangannya adalah kawasan tersebut dekat dengan wilayah Anahoni. Kawasan sedang berlangsung pembongkaran bak rendaman. Pembongkaran menggunakan escavator,” kata Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. Muhamad Roem Ohoirat kepada Kabar Timur, Rabu (7/11).

Selain beberapa Pos penjagaan diganti, kawasan Anahoni rencananya akan dijadikan sebagai Posko induk. Rencana tersebut telah disetujui oleh Karo Ops. Namun, pihaknya akan berkomunikasi dengan Pemkab Buru.

“Dalam operasi penertiban kemarin (Selasa), tim juga menertibkan kawasan Pagar Seng. Wilayah ini sering dipakai sebagai tempat penyuplai air menuju GB. Operasi di wilayah itu dikendalikan oleh Kabagops Polres Buru,” ujarnya.

Penertiban kawasan Pagar Seng dimaksudkan untuk menghentikan suplay air ke wilayah pertambangan. Sebab, jika tempat penyuplai air di tutup, maka aktivitas pertambangn emas yang dilakukan para penambang dapat diminimalisir.

Setelah penertiban dilakukan, dua hari lalu, tim penindakan juga berkoordinasi dengan Wakil Bupati dan asisten 3 Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru. Pertemuan tersebut dilakukan untuk membahas penertiban terhadap kawasan pemukiman baru yang diduga ditempati para penambang ilegal asal daerah lain. Wilayah tersebut biasa dijuluki warga sekitar dengan sebutan “Kodok-Kodok”.

“Harapannya jika ditertibkan maka akan mengurangi jumlah pelaku tambang ilegal dari luar Buru. Hasil koordinasi akan ditindaklanjuti dengan mengedepankan aturan pelanggaran sesuai Peraturan Daerah (Perda) oleh Satpol Pp yang nantinya di backup oleh Polres, Kodim, dan Brimob,” tandasnya.

Sementara itu, Gubernur Maluku, Said Assagaff mengaku pengamanan kawasan GB merupakan tanggungjawab TNI-Polri. “Kalau untuk hal tersebut tanyakan langsung ke aparat keamanan, karena disana sudah ditempatkan pos-pos pengamanan,”ujar Assagaff kepada awak media di kantor Gubernur Maluku, Ambon, Rabu (7/11).

Dikatakan, proses penutupan gunung botak merupakan salah satu langkah, untuk meminimalisir kerusakan sumber daya alam dan manusia dari penggunaan bahan kimia mercuri dan sianida. Apalagi menurutnya, komitmen ini sudah ditandatangani bersama Kapolda dan Pangdam, agar Maluku tidak terjadi adanya peredaran bahan kimia tersebut.

Dirinya menyakini TNI-Polri akan menjalankan tugas dengan baik, sehingga diharapkan tidak ada lagi penambang yang melakukan aktifitas pertambangan. “Kami semua sudah punya komitmen untuk memberikan gunung botak, sesuai instruksi Presiden Joko Widodo,” tandasnya. (RUZ/CR1)

Penulis:

Baca Juga