Sekilas Info

Warga MTB-MBD di Ambon Diminta Bersabar

ilustrasi sabuk nusantara

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON-Masyarakat pengguna jasa kapal perintis dari Ambon tujuan Kabupaten Maluku Tenggara Barat dan Kabupaten Maluku Barat Daya diminta bersabar menunggu KM Sabuk Nusantara (Sanuns) 71 yang menggantikan KM Sanus 48.

“Kita harus bersabar karena kapal ini baru turun dari galangan dan sementara dalam perjalan menuju Pelabuhan Ambon,” kata Ketua Komisi C DPRD Maluku, Anos Yermias di Ambon, Senin.

Anos mengemukakan hal itu menanggapi keluhan masyarakat yang berbulan-bulan tidak bisa berlayar ke dua daerah tersebut karena KM Sanus 48 yang biasanya melayari rute pelayaran perintis ini tidak beroperasi.

Ada kebijakan dari Kemenhub agar kapal-kapal perintis melakukan doking rutin seperti KM Sabuk Nusantara 48. Pengaruh doking rutin luar biasa pada masyarakat karena kapal itu seharusnya melayari sebagian besar kawasan MTB dan MBD.

“Yang kami sesalkan adalah pemerintah, dalam hal ini Kemenhub terutama Direktorat Lalul Lntas Laut membuat jadwal terhadap doking kapal tanpa menyiapakan kapal pengganti,” kata Anos.

Setelah komisi melakukan rapat kerja dengan Dishub Maluku dan mitra terkait, baru diketahui bahwa KM Sanus 48 telah berada di Bitung untuk doking, tetapi tidak ada kapal pengganti.

Bahkan, sampai hari ini KM Sabuk Nusantara 48 masih lego jangkar menunggu giliran naik dok. Sebelumnya, selama dua bulan juga parkir di teluk Ambon.Karena ini dijadwalkan oleh kementerian. Pelni sebagai operator tidak bisa mengoperasikan kapal itu, kalau pemiliknya tidak mengizinkan.

“Kami sudah meminta kepada Dishub Maluku untuk melakukan koordinasi dan komunikasi dengan para pemilik kapal-kapal swasta selaku operator dan diusahakn ada subsidi sehingga masyarakat juga bepergian dengan biaya relatif ringan,” ujarnya.

Contohnya kalau harga tiket kapal perintis dari Pelabuhan Ambon menuju Tanimbar Utara, Kabupaten MTB sekitar Rp40-an ribu, tetapi kalau kapal cepat lebih mahal.

“Maka kami juga sudah melakukan pendekatan dengan Pertamina tetapi disarankan melakukan pendekatan dengan BPH Migas. Untuk itu masyarakat diminta untuk bersabar karena ada juga kapal-kapal baru yang masuk menggantikan kapal lama, dan fasilitas ini harus dijaga secara bersama.

Karena faktanya kapal sudah melayari Maluku lebih dari tiga bulan pasti saja ada yang rusak seperti kran air atau pengatur suhu ruangan. (AN/KT)

Penulis:

Baca Juga