Sekilas Info

Ini Penjelasan KPK Soal OTT Dua Pejabat Pajak Ambon

istimewa/KABAR TIMURnews

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON - “Info awalnya seperti itu. Dari pengaduan itu katanya ada pejabat pajak yang memeras. Yah itu, minta uang,” beber Hary.

Banyak yang tak tahu sepak terjang komisi anti rasuah KPK di OTT Kepala Kantor Layanan Pajak Pratama Ambon La Masikamba. Deputi Data dan Informasi KPK Hary Budiharjo mengaku, pihaknya mulai mengendus yang bersangkutan sejak dua bulan lalu.

Tak hanya itu, ikut diungkap akar masalah kasus ini, yakni pemerasan. “Untuk yang Ambon itu, dua bulan,” singkat Hary Budiharjo di awal wawancara per telepon dengan Kabar Timur, Jumat, sore kemarin.

Hary mengaku, data dan informasi terkait La Masikamba mulai diolah pihaknya sejak dua bulan lalu setelah menerima laporan dari bagian Pengaduan KPK. Yakni adanya unsur “pemerasan” dilakukan yang bersangkutan terhadap Bos CV Angin Timur Anthony Liando. “Info awalnya seperti itu. Dari pengaduan itu katanya ada pejabat pajak yang memeras. Yah itu, minta uang,” beber Hary.

Dalam laporan pengaduan tersebut, si wajib pajak mengaku diancam beban pajak yang tinggi. Tapi alih-alih ditindaklanjuti dengan eksekusi sesuai aturan yang berlaku, oknum pajak dimaksud malah memberikan solusi. “Dia bilang, kita siap bantu kalau mau supaya beban pajaknya diringankan. Dari situ mulai bekerja,” ungkapnya.

Lalu berdasarkan info awal tersebut, penyidik KPK, kata Hary, melakukan pengumpulan data dan keterangan alias pulbaket. Setelah dirasa cukup, KPK lalu melakukan telaah terhadap kasus yang ditemukan di Ambon itu.

Setelah tim penyelidik memastikan kasus ini dapat ditindaklanjuti, kata Hary, Direktur Penyidik KPK lalu menerbitkan surat perintah penyadapan. Yaitu surat perintah untuk tim KPK sendiri yang ditindaklanjuti dengan permintaan ijin ke pihak-pihak terkait terutama PT Telkom Indonesia untuk melakukan penyadapan. “Khan banyak tuh BTS-BTS pemancar Telkom di Ambon, dari semua operator. Itu yang kita pakai nyadap,” terang Hary.

Alhasil, lanjut Hary, setiap pembicaraan maupun pesan singkat dari target dalam hal ini La Masikamba dimonitor. Dia mengaku untuk keperluan itu, sebanyak 4 personil KPK diterjunkan memantau aktivitas La Masikamba.

Hary juga menyebut-nyebut peralatan penentu posisi GPS (global positioning system). Sayangnya tidak dijelaskan panjang lebar, seperti apa diaplikasikan memantau target. “Itu hanya untuk memastikan titik koordinat dia ada dimana,” akunya.

Selain itu, dijelaskan, dari 4 personil KPK yang diterjunkan salah satunya ditugaskan menempel target. Hary hanya menyatakan “menempel” tapi tidak dijelaskan, maksud kata itu terkait pemantauan terhadap La Masikamba seperti apa.

Ditanya mengapa pihaknya hanya memantau La Masikamba, tidak yang lain. Hary mengaku, karena yang bersangkutan merupakan target operasi tim KPK di Ambon.  “KPK hanya memantau pejabat negara, yang kelola uang negara khan mereka,” imbuhnya.

Ditanya lebih lanjut soal keberadaan personil KPK, Hari Budiharjo mengaku beberapa personil di Ambon pasca OTT ditugaskan untuk menelusuri aset-aset milik La Masikamba. “Tidak lagi untuk OTT, tapi untuk menelusuri aset-aset pejabat eselon III nya itu. Antisipasi untuk tutupi kerugian negara setelah dihitung berapa banyak,” terangnya.

Dan untuk keperluan tersebut, dia mengaku, KPK bekerjasama dengan pihak PPATK untuk menelusuri aset-aset milik tersangka utama La Masikamba.

Sebelumnya diberitakan, OTT dilakukan KPK terhadap empat pegawai pajak Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Ambon lewat operasi tangkap tangan (OTT) yang digelar pada Rabu (3/10) di Ambon.

Hanya dua pegawai ditetapkan sebagai tersangka. Kedua pegawai itu adalah Kepala KPP Pratama Ambon, La Masikamba dan Sulimin Ratmin, selaku supervisor atau pemeriksa Pajak KPP Pratama Ambon.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif mengatakan OTT terhadap pegawai pajak di Ambon berawal dari informasi masyarakat. Setelah mendapat informasi, penyidik langsung melakukan serangkaian penyelidikan. Awalnya, kata Syarif, tim penindakan KPK menangkap La Masikamba, Rabu (3/10).

“Tim mengamankan yang bersangkutan (La Masikamba) di depan toko CV AT sesaat setelah keluar toko pukul 10.30 WIT,” kata Syarif dalam jumpa pers, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (4/10).

Syarif melanjutkan, setelah menangkap La Masikamba, tim penindakan menciduk pemilik CV AT Anthony Liando alias Atang dan istrinya selang beberapa menit atau tepatnya pukul 10.45 WIT. Mereka bertiga kemudian dibawa ke Kantor Brimob Ambon, untuk menjalani pemeriksaan awal.

Pada waktu yang bersamaan, tim penindakan KPK lainnya menangkap Sulimin dan dua pegawai pajak KPP Pratama Ambon. Kemudian, kata Syarif, tim membawa Sulimin ke rumahnya untuk mengamankan uang yang diduga diterima dari Anthony sebesar Rp100 juta. Selanjutnya mereka bertiga dibawa ke Kantor Brimob Ambon, untuk menjalani pemeriksaan awal.

Dari OTT itu, tim turut mengamankan sejumlah barang bukti, di antaranya bukti setoran bank senilai Rp20 juta dari Anthony kepada Sulimin, uang tunai Rp100 juta dari tangan Sulimin, dan buku tabungan dan ATM dari La Masikamba atas nama Muhamad Said. Syarif menambahkan, pada pagi tadi, kelima orang yang ditangkap itu dibawa ke Jakarta untuk diproses hukum lebih lanjut.

Usai melakukan pemeriksaan 1x24 jam dan dilanjutkan gelar perkara, KPK menetapkan tiga orang sebagai tersangka suap terkait pengurangan nilai kewajiban pajak wajib pajak orang pribadi di KKP Pratama Ambon tahun 2016. Mereka adalah La Masikamba, Sulimin, dan Anthony. La Masikamba dan Sulimin diduga sebagai penerima, sementara Anthony sebagai pemberi.

La Masikamba dan Sulimin diduga sepakat mengurangi kewajiban pajak Anthony dari nilai Rp1,7 sampai Rp2,4 miliar menjadi Rp1,037 miliar. Atas kesepakatan tersebut terjadi komitmen pemberian uang sebesar Rp320 juta yang bakal diberikan bertahap.

Namun, pemberian uang dari Anthony kepada La Masikamba dan Sulimin yang baru terealisasi sebesar Rp120 juta. Sementara itu, Rp200 juta baru akan diberikan akhir Oktober 2018 setelah surat ketetapan pajak diterima Anthony.

Atas OTT pegawai pajak ini, Menteri keuangan Sri Mulyani menyatakan berterima kasih ke KPK. Ia mengatakan merasa terbantu dengan penangkapan yang dilakukan komisi anti rasuah tersebut. (KTA)

Penulis:

Baca Juga