Sekilas Info

Pengacara Morits Diadili

Ilustrasi

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON -  Morits Latumeten, akhirnya duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Ambon sebagai terdakwa kasus dugaan penyerobotan, kekerasan dan pemalsuan surat penetapan eksekusi lahan Kepaniteraan Perdata Pengadilan Negeri Ambon di Desa Tawiri, Kecamatan Teluk Ambon.

Morits yang merupakan pengacara kondang ini tidak sendiri. Ia bersama rekannya Ekilopas Soplanit resmi diadili di Pengadilan Negeri (PN) Ambon, Rabu (12/9). Sementara seorang rekannya Yakob Hole tidak hadir karena sakit.

Sidang perdana yang dipimpin Majelis Hakim RA Didi Ismiatun, ini diawali pembacaan dakwaan oleh Awaludin, Penuntut Umum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Maluku. Morits tampak mengenakan kemejah putih lengan panjang, didampingi lima pengacara yang diketuai oleh Pileo Pioestes Noija.

Perbuatan Morits Cs dituangkan dalam dakwaan, tidak dibacakan. Tapi dianggap dibacakan oleh JPU atas kesepakatan bersama. “Jadi dakwaan anggap dibacakan, dan sidang kami tunda hingga 17 September 2018 mendatang, dengan agenda pembacaan keberatan (Eksepsi) oleh terdakwa,” kata Hakim ketua, RA Didi Ismiatun dibantu dua hakim anggota.

Ruang sidang penuh pengunjung yang notabene rekan seprofesinya sebagai Advokat. “Jadi kita skedulkan, hari ini (kemarin) baca dakwaan, kita tunda hingga senin depan agenda pembacaan keberatan, setelah itu 20 September tanggapan Jaksa, dan 24 September lagi kita ada dalam putusan Sela,” tutup Hakim Ketua.

Sebelum menutup sidang, Majelis Hakim menerima permohonan pengalihan penahanan yang diajukan oleh ketiga terdakwa melalui kuasa hukum mereka. “Permohonan kita terima, selanjutnya akan kita sikapi terlebih dulu,” ujar Hakim Ketua sambil mengetuk palu tanda sidang di tunda.

Dalam perkara ini, tersangka Morits Latumeten bertindak sebagai pengacara untuk kedua Kliennya, Elkiopas Soplanit dan Yaqob Hole, masing-masing selaku pemohon eksekusi lahan melawan Betty Pattikaihattu selaku termohon eksekusi.

Pada tanggal 11 April 2017, Morits mewakili kedua kliennya itu mengajukan permohonan eksekusi terhadap putusan Pengadilan Negeri Ambon Nomor : 120/Pdt.G/1990/PN.AB, tanggal 28 Januari 1990 yang dimenangkan Soplanit, Jo putusan Pengadilan Tinggi Maluku Nomor : 35/PDT/1991/PT.Mal tanggal 9 Desember 1991 Jo putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor : 796 K/PDT/1992 tanggal 27 Pebruari 1993. Putusan itu telah berkekuatan hukum tetap (Inkrach).

Atas permohonan itu, Ketua Pengadilan Negeri Ambon lantas melakukan peneguran terhadap pihak terkait, baik yang masuk dalam perkara gugatan maupun pihak-pihak diluar perkara tersebut. Selanjutnya, semua pihak termasuk PN Ambon melakukan peninjauan lokasi. Pada 19 Oktober 2017, Ketua PN Ambon mengeluarkan surat penetapan eksekusi nomor 120/Pdt.G/PN.AB, dan memerintahkan panitera PN Ambon segera melakukan eksekusi terhadap tiga Dusun Dati, yakni Warhutu, Rostantetu dan Papikar.

Di tanggal 9 November 2017, pihak Pengadilan melalui juru sita resmi melakukan eksekusi. Namun objek yang dieksekusi tidak sesuai dengan yang disengketakan, sebagaimana termuat dalam putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, melainkan yang dieksekusi adalah objek lahan milik Betty Pattikaihattu dan ahli waris keluarga dari turunan Salma Balqis Attamimi, sebagaimana tertuang dalam Sertifikat Hak Milik (SHM) Nomor : 145.

Tindakan Morits Cs ini kemudian dilaporkan Betty Pattikaihattu ke Polda Maluku dengan dugaan melakukan tindak pidana penyerobotan dan kekerasan serta pemalsuan surat penetapan eksekusi lahan.

Usut punya usut, pihak kepolisian, akhirnya menetapkan Maurits Latumeten bersama kedua kliennya itu sebagai tersangka. Perbuatan mereka sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 263 KUHP Jo Pasal 264 ayat (2) KUHP tentang Pemalsuan Surat, dengan ancaman pidana penjara selama delapan tahun.

Sedangkan perbuatan tersangka Ekilopas Soplanit dan Yaqob Hole, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 335 KUHP tentang Kejahatan Terhadap Kemerdekaan Orang atau Perbuatan Tidak Menyenangkan Jo Pasal 263 KUHP. (CR1)

Penulis:

Baca Juga