Sekilas Info

Penambang Emas Ilegal Kembali Beroperasi

Istimewa/KABARTIMURNEWS

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON- Belum genap sepekan pasca penutupan tambang emas ilegal di Gunung Botak, Kabupaten Buru pada 30 Agustus 2018 lalu, para penambang yang telah ditertibkan aparat gabungan dari TNI, Polri, dan Pemda Buru, diduga telah kembali beroperasi seperti sedia kala.

Penutupan tambang yang dilakukan enam hari lalu, itu diduga kuat hanyalah rekayasa belaka. Buktinya, tenda-tenda para penambang masih terlihat berdiri di lereng-lereng kawasan Gunung Botak untuk melaksanakan aktivitas penambangan.

“Siapa yang bilang kalau sudah di tutup. Itu bohong. Ada banyak tenda yang masih berdiri di atas. Tenda-tenda itu seng dibongkar. Penambang juga masih banyak di atas,” kata Sumber yang menghubungi Kabar Timur dari Namlea, Selasa (4/9).

Ia menduga, penutupan dan penertiban yang dilakukan aparat gabungan beberapa hari lalu hanya sebagai simbol untuk menunjukan bahwa aparat serius mengatasi beragam problematika yang terjadi di kawasan tersebut.

“Kalau mereka mau serius, beta yakin tidak akan ada yang berani kembali. Tenda-tenda dan aktivitas penambangan yang masih jalan itu di kawasan Gunung Botak tepatnya di Gunung Batu, Daerah Wamsait,” jelasnya.

Kepala Polres Pulau Buru AKBP. Adityanto Budi Satrio yang dikonfirmasi Kabar Timur terkait masih berlangsungnya aktivitas penambangan padahal sudah di tutup enam hari lalu, belum merespon. Pesan yang dilayangkan melalui aplikasi Whatsappnya tidak dibalas.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kawasan tambang emas Gunung Botak di Kabupaten Buru, kembali dikosongkan dari para penambang liar. Ribuan penambang ilegal dibubarkan aparat gabungan TNI, Polri dan Pemerintah Kabupaten setempat, Kamis (30/8). Sebab, kawasan tersebut sudah banyak menciptakan gangguan Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas).

Kepala Polres Pulau Buru, AKBP. Adityanto Budi Satrio mengaku, sebelum penertiban mengosongkan kawasan berlangsung, pihaknya sudah terlebih dahulu memberikan sosialisasi kepada para penambang agar hengkang secara baik-baik.

Tadi saat penertiban tidak ada perlawanan penambang. Soalnya dari jauh-jauh hari kita sudah adakan sosialisasi. Tadi yang ada hanya beberapa orang penambang. Mereka sedang membersihkan tenda mereka sendiri,î kata Satrio, saat dihubungi Kabar Timur dari Ambon, kemarin.

Selain personel Polres Pulau Buru dan jajarannya, operasi penertiban juga melibatkan Kodim 1506 Namlea, Brimob kompi 3 Polda Maluku, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol Pp), Dinas Lingkungan Hidup Buru dan dibantu masyarakat adat setempat.

Jumlah personel yang dikerahkan dalam operasi penertiban sebanyak 300 orang. Penertiban tadi dilakukan sejak jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Sasaran operasi di seluruh kawasan tambang emas sampai di jalur D,î terangnya.

Dikatakan, jumlah penambang yang berada di gunung botak kurang lebih 7.000 orang. Dipastikan hingga kemarin sore, sudah kosong. Memang tadi saat operasi penertiban terdapat kurang lebih 50 orang penambang. Mereka sedang siap-siap turun. Dan sekarang sudah mulai turun, kata Satrio yang dihubungi sore kemarin.

Setelah ini, lanjut dia, pihaknya akan menempatkan pos mengantisipasi penambang kembali. Bukan saja itu, pihaknya juga akan terus memberikan sosialisasi agar para penambang tidak lagi naik ke Gunung Botak. Kita akan pasang pos di daerah Wamsait. Dan kita akan terus memberikan sosialiasi agar penambang sadar dan tidak lagi balik ke atas,î jelasnya.

Menurutnya, penertiban terpaksa dilakukan karena kondisi kamtibmas di wilayah tersebut semakin hari meningkat. Selain itu, jumlah penambang semakin meningkat sehingga rawan terjadinya gangguan kamtibmas.

Seperti kemarin ada bentrok yang menyebabkan orang meninggal dunia. Masyarakat di atas memang sangat banyak. Sehingga untuk kepentingan kamtibmas, makanya penertiban ini harus dilakukan,î ujarnya.

Penertiban yang dilakukan kemarin, tambah perwira dua melati di pundaknya ini, didukung seluruh elemen masyarakat. Sebelum penertiban dilakukan, kami sudah melakukan rapat koordinasi dengan Kodim 1506 Namlea, tokoh adat, masyarakat, forkopimda, dan termasuk OKP, LSM. Mereka mendukung dan senang dengan penertiban ini,î tandasnya menutup. (CR1)

Penulis:

Baca Juga