KABARTIMURNEWS.COM,AMBON-Ketua DPRD Maluku, Edwin Huwae dan Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, angkat bicara soal pernyataan Shafiq Pontoh, kalau pemuda Ambon buta teknologi, terutama sosial media.
Mereka menyayangkan pernyataan Pontoh karena telah mengorek harga diri dan melecehkan anak muda Maluku, khususnya anak muda Kota Ambon. “Soal Pontoh ini tentu mengorek harga diri anak muda Maluku. Pernyataan Pontoh mengecewakan dan tidak akurat,’’kata Huwae dan Louhenapessy kepada wartawan, secara terpisah, Kamis kemarin.
Huwae mengaku, dirinya mengetahui pernyataan Pontoh, setelah viral di media sosial, ‘’Ternyata dia asal bunyi juga. Dia (Pontoh) tidak pantas disebut sebagai seorang pakar. Pakar itu khan ngomong biasanya menggunakan data dan fakta,’’tandasnya.Menurut Huwae yang juga Ketua DPD PDIP Maluku itu, sejak 2015 lalu, anak muda Maluku sudah menggunakan Blackbery dan anak muda Maluku belakangan ini paling maju menggunakan media sosial.’’Apalagi, wilayah Indonesia Timur, cukup tinggi presentasinya. Memang dari sisi jumlah sedikit, karena jumlah penduduk kita sedikit, tapi presentasinya tinggi,’’ingatnya.
Apalagi, lanjut dia, penggunaan media sosial di Maluku dan Papua presentasinya tinggi. ‘’Itu berarti data yang disampaikan saat wawancara di Kompas TV, data hoax dan asal bunyi. Kalau bisa kedepan media nasional mengundang narasumber itu yang kapabel. Jangan abal-abal,’’harapnya.
Soal reaksi publik terhadap pernyataan Pontoh, dia menilai, wajar karena pernyataannya sudah menjurus kepada ras. “Kedepan jangan lagi ada seperti itu,’’imbuhnya.



























