Sekilas Info

Ada Pungli di Unpatti, Mahasiswa Demo

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON- Biaya masuk Perguruan Tinggi yang dibebankan panitia penerimaan mahasiswa baru Universitas Pattimura Ambon dinilai terlalu besar dan tidak masuk akal. Diduga ada pungutan liar (pungli), ratusan mahasiswa yang baru lolos tes melalui jalur Mandiri tahun 2018 melakukan aksi demonstrasi, Rabu (15/8).

Unjuk rasa berlangsung di ruang registrasi dan depan gedung Rektorat Unpatti, Kawasan Desa Poka, Kecamatan Teluk Ambon, Kota Ambon. Sebab, biaya yang ditetapkan panitia dianggap sangat memberatkan orang tua.

Setiap mahasiswa baru diwajibkan membayar uang muka sebesar Rp 5 juta. Perinciannya adalah Rp 3 juta untuk uang semester dan Rp 2 juta untuk Sumbangan Pembangunan Internal (SPI). Mirisnya, uang SPI diserahkan dengan surat pernyataan yang ditandatangani orang tua di atas materai 6000.

“Uang pembangunan Rp 2 juta dibebankan kepada kami. Ini sangat besar. Bukankah kampus ini milik negara. Bagi orang tua yang mampu tidak apa-apa. Tapi bagaimana dengan kami yang merupakan anak seorang petani, nelayan dan hidupnya pas-pasan?,” kata seorang mahasiswa kepada Kabar Timur, kemarin.

Mahasiswa yang takut menyebutkan identitasnya ini merasa heran dengan adanya pembayaran uang SPI Rp 2 juta, disertai dengan surat pernyataan yang ditandatangani orang tua. Jika biaya SPI sudah diatur sesuai mekanisme dan aturan baku, kenapa hal itu dilakukan.

“Yang kami heran, orang tua wajib menandatangani surat pernyataan SPI di atas materai 6000. Ini ada apa. Kalau memang diharuskan, ya tinggal bilang. Ataukah panitia takut jika sewaktu waktu ditemukan adanya pungli, maka mereka sudah menyiapkan penangkalnya,” tambah dia heran.

Dia mengaku mahasiswa yang melakukan aksi sudah ditemui Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan DR. Yusuf Madubun dan Rektor Unpatti Ambon, Prof. DR Marthinus J. Saptenno. “Rektor bilang akan menjawab seluruh tuntutan mahasiswa secara umum pada hari Jumat (17 Agustus 2018) esok,” katanya.

Kepala Polsek Teluk Ambon, Ipda. Julkisno Kaisupy mengaku aksi unjuk rasa berlangsung aman. Aksi terjadi karena mahasiswa tidak sepakat dengan penetapan biaya masuk perguruan tinggi yang sangat memberatkan orang tua.

Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, Kaisupy mengerahkan sebanyak 26 personel untuk mengamankan kampus yang merupakan aset negara itu. “Aksi tadi dimulai dari gedung registrasi dan di depan Gedung Utama Rektorat Unpatti. Kami mengerahkan 15 Personil Polsek Teluk Ambon dan 11 personil PRC Sat Sabhara Polres Ambon,” terangnya.

Aksi yang berlangsung kurang lebih 2 jam itu berakhir setelah mahasiswa membubarkan diri usai mendengar penjelasan Warek III dan Rektor Unpatti. “Rencananya hari Jumat, Rektor akan memberikan penjelasan kepada seluruh mahasiswa,” tandasnya.

(CR1)

Penulis:

Baca Juga