Sekilas Info

Tertibkan Gunung Botak Warga Adat Dihadang Polisi

IST

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON - Geram jatuhnya korban jiwa akibat pencemaran limbah cianida dan merkuri oleh  penambang emas di Gunung Botak, Kabupaten Buru, ratusan warga adat menertibkan penambang ilegal, Kamis (19/7).

Penertiban yang hen-dak dilakukan ratusan warga adat di cegat alias dihadang aparat Kepolisian Sektor Waeyapo dan Brimob Polda Maluku Kom-pi Namlea. Mereka kha-watir akan terjadi bentrok antara penambang dan warga adat.

Pantauan Kabar Timur di kawasan tambang emas Gu-nung Botak kemarin, ratu-san warga yang dipimpin ma-sing-masing kepala adat mau--pun soa, berkumpul sejak siang. Menggunakan pa-rang dan tombak, mereka ber-bondong bondong naik me-nuju kawasan tambang di Jalur H, Dusun Wamsait, Desa Dava, Kecamatan Wailata.

Sebelum menuju sasaran, tepatnya Amahoni, kawasan dimana Kaharudin (43), se-orang penambang yang tewas terkapar diduga akibat cianida 18 Juli lalu, mereka dicegat Kapolsek Waeyapo Ipda Novit Prasetyo dan sejumlah anggota Brimob Polda Ma-lu-ku Kompi C.

“Bukan saya tidak mau bapak-bapak naik  tertibkan para penambang liar, tapi ka-mi khawatir akan terjadi hal hal yang tidak diinginkan. Se-pe-rti bentrokan. Karena pe-nam-bang di atas juga ba-nyak,” kata Kapolsek.

Mendengar ungkapan Ka-pol-sek, sejumlah pimpinan adat tidak terima.  Mereka me---nuding polisi melindungi pe-nam-bang ilegal yang telah jelas melakukan pencemaran yang dapat membahayakan nya-wa warga.

“Bapak-bapak kenapa mem--bela orang yang salah (pe--nam-bang ilegal). Kami ke atas (Gunung Botak) bu-kan untuk berkonflik atau ben-trok. Tapi kami ing-in membicarakan baik baik de-ngan penambang. Biar ter-tib dan ada batas ba-tas yang harus di jaga,” har-dik se-jumlah pimpinan ber-pakai-an adat.

Penjelasan para tetua adat tersebut tetap tidak di ijinkan oleh pihak kepolisian. Kapolsek meminta agar penertiban yang diinginkan dapat di atur dan nantinya di bicarakan secara baik baik.

Ketua Panitia Adat Bersatu, Umar Nurlatu kepada wartawan, menyayangkan sikap yang dilakukan polisi. Padahal, maksud warga adat hanyalah agar tidak terjadi lagi pencemaran limbah kimia yang berujung kematian, baik dialami warga maupun hewan.

“Kami ke atas untuk membuat tapal batas antara Koperasi dan adat. Supaya masyarakat adat bisa tau ini kita punya batas kerja. Tapi kami di cegat kepolisian. Ada apa dibalik semua ini,” ungkapnya.

Ia menduga, pencegatan yang dilakukan kepolisian ada sesuatu. Sebagai masyarakat adat tidak terima. Ia menegaskan, pihaknya akan tetap berjuang kemanapun. “Walaupun kami tidak punya kepeng (duit), tapi kami akan terus berjuang, bila perlu sampai di pusat,” tegasnya.

Masyarakat adat merasa kecewa dengan H. Umar Nurlatu sebagai ketua panitia adat sebelumnya. Sebab, selama lebih satu tahun, pengelolaan Gunung Botak hanya untuk menafkahi pribadi tanpa melihat kesejahteraan masyarakat adat lainnya.

“Olehnya itu kami masyarakat adat sudah bersatu dan memberhentikan H. Umar. Tapi sampai saat ini dia masih terus bekerja. Dan masa polisi bela pihak yang salah,” ujarnya. Rencananya, lanjut Dia, selepas ini pihaknya akan berkumpul, bahkan bermalam di Markas Polres Buru.

“Sebentar saya arahkan warga adat berkumpul bahkan menginap di Polres sampai H. Umar di tangkap,” jelasnya. Menurutnya, di Gunung Botak saat ini, merkuri dan cianida sudah merajalela. “Kemarin (Rabu) ada 1 orang meninggal. Orang bugis, gara gara merkuri dan cianida,” aku Nurlatu.

Atas kejadian itu, maka hari ini pihaknya terpaksa mengambil tindakan sendiri menertibkan Gunung Botak. “Ini semua untuk memberantas cianida dan merkuri di atas (Gunung Botak). Tapi kami di cegat polisi. Katanya kami akan ciptakan konflik di atas. Padahal kami ingin membenahi agar menjadi baik,” sesalnya.

Olehnya itu, tambah Dia, meski kemarin di cegat polisi, namun pihaknya memberikan waktu selama dua hari kepada pihak kepolisian. Jika belum ada tindakan maka warga adat akan mengerahkan kurang lebih 6000 orang untuk melakukannya sendiri. “Kami kasih waktu dua hari kepada polisi. Jika tidak di benahi, kami akan kerahkan kurang lebih 6000 warga adat ke Gunung Botak,” tegasnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga