Sekilas Info

Massa Banjir di Kampanye “BAILEO”

RUZADY ADJIS/KABAR TIMUR

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON- Blusukan di 450 desa/dusun memastikan Murad Ismail-Barnabas Orno mengetahui persoalan mendasar yang dihadapi rakyat.

RIBUAN warga banjiri kampanye terakhir pasangan Murad Ismail-Barnabas Orno di Lapangan Merdeka, Kota Ambon, Jumat (22/6) sore.

Petinggi Parpol pengusung dan juru kampanye pasangan dengan jargon “BAILEO” ini hadir menyampaikan pidato politiknya dihadapan ribuan massa pendukung.

Yel…yel…yel…, ganti gubernur dan Maluku butuh gubernur baru terus menggema di saat satu persatu petinggi Parpol dan jurkam pasangan “BAILEO” menyampaikan orasi politiknya di hadapan ribuan pendukung dan simpatisan calon nomor urut 2 ini.

Petinggi PDI Perjuangan, Sekjen PDIP Hasto Kristianto menyatakan, dirinya datang dari Jakarta membawa pesan Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri.
Pesan itu, Megawati meyakini kata-kata sang ayah, Soekarno, Presiden pertama Indonesia. “Ketika awan gelap di angkasa, di situlah akan terbit matahari dari Maluku.”

“Dia lah Murad,” kata Hasto meneruskan kata-kata Megawati dihadapan ribuan massa yang disambut antusias pendukung “BAILEO.” Saat Hasto menyampaikan itu, langit ditutupi awan mendung, membungkus langit Kota Ambon, kendati tak ada hujan.

Menurut Hasto, Megawati berpesan agar kedua calon pemimpin Maluku ini tidak sungkan menemui rakyat di kampung-kampung. Sekalian untuk menyampaikan salam Presiden Joko Widodo untuk membangun Maluku yang lebih baik.

“Ketoklah pintu-pintu rumah mereka sampaikan salam Pak Jokowi,” kata Hasto meneruskan pesan Megawati. Bahwa Maluku kini jadi perhatian global. Karena poros maritim dunia yang digadang-gadang Jokowi terinspirasi dari posisi geostrategis Maluku di masa lalu dan masih relevan hingga hari ini.

Apalagi Maluku dikaruniai sumber daya alam melimpah, butuh pemimpin yang optimal dan komitmen membangun Maluku. “Saya yakin Maluku di bawah kepemimpinan “BAILEO” akan keluar dari semua masalah kemiskinan,” kata Hasto mengakhiri orasi.

Orasi politik juga disampaikan Ketua Tim pemenang pasangan “BAILEO” Karel Albert Ralahalu. Suara mantan gubernur Maluku ini masih lantang ketika dia menegaskan, hasil survei terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI) yang menyatakan “BAILEO” unggul.

Kata dia, ini tanda bangkitnya Maluku. “Hasil survei LSI itu bukan abal-abal, tapi tertanggungjawab. Hasil survei yang menempatkan “BAILEO” unggul dari lawan-lawan politiknya merupakan tanda-tanda kesejahteraan Maluku kedepan,” kata Ralahalu.

Mantan Gubernur Maluku dua periode itu menambahkan, hasil survei LSI tersebut bukan tanpa sebab. Ini merupakan hasil dari kerja keras partai koalisi dan seluruh simpatisan “BAILEO” melakukan konsolidasi di 11 kabupaten/kota di Maluku.

Menurut Ralahalu blusukan di 450 desa/dusun memastikan Murad Ismail-Barnabas Orno mengetahui persoalan mendasar yang dihadapi rakyat di negeri-negeri tersebut.

“Dan itu berarti konsolidasi kami mendapat tingkat kepercayaan rakyat untuk “BAILEO” memimpin Maluku lima tahun mendatang sudah sangat tinggi,” jelas dia.

Seperti kampanye perdana “BAILEO” Murad Ismail dalam orasinya mengungkapkan motivasi dirinya bertarung di ajang Pilgub Maluku. Dia kembali menegaskan kalau dirinya rela melepas jabatan sebagai Dankor Brimob Polri dan menolak secara halus promosi jenderal polisi bintang tiga yang ditawarkan pimpinan Polri.

“Saya merasa berdosa jika dengan apa yang saya miliki ini, saya tidak kembali untuk membuat Maluku menjadi lebih baik. Kalau saja Maluku itu sudah bagus, pasti saya masih tetap di Jakarta, namun ini panggilan jiwa dan hati,” kata purnawirawan Polri bintang dua ini.

Keinginannya menjadi gubernur juga didorong rancangan undang-undang (RUU) Provinsi Kepulauan dan RUU Maluku sebagai Lumbung Ikan Nasional. “Dua masalah ini jika mampu diselesaikan, maka Maluku akan menuju jalan kesuksesan. Saya berjanji, memperjuangkan kedua RUU itu hingga selesai, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” tandasnya.

Soal kemiskinan Maluku, mantan Kapolda Maluku ini kembali mengkritisi pemerintah daerah yang terkesan bangga dengan predikat “Maluku Miskin tapi Bahagia.” Menurutnya orang Maluku bukan bahagia karena miskin, tapi karena tingkat kesabaran orang Maluku saja.

“Yang bilang miskin asal bahagia itu semua bohong. Rakyat sudah terlalu sabar dalam menghadapi pelayanan kesehatan yang buruk, pendidikan yang rendah, dan tinggal di rumah yang tidak layak. Maluku butuh pemimpin baru untuk keluar dari kondisi itu,” tegas Murad.

Murad berjanji, jika dipilih sebagai gubernur oleh mayoritas rakyat Maluku dirinya tidak akan membiarkan anak-anak Maluku berada dalam skala pendidikan rendah, apalagi putus sekolah. “Kalau ada yang putus sekolah, silahkan datang kepada saya dan saya berjanji jika menjadi gubernur tidak akan ada anak Maluku yang putus sekolah. Sebab semua generasi muda Maluku harus berpendidikan tinggi,” kata Murad.

Terkait isu yang berkembang, bahwa Murad Ismail tidak bisa menjadi Gubernur Maluku, lantaran tidak pernah memimpin suatu wilayah, juga ditanggapinya. Dia menegaskan dirinya merupakan orang Maluku pertama yang menyandang bintang dua Polri.

Bahkan selama 20 tahun, dirinya bekerja melebihi porsi yang dibebankan oleh negara. Faktanya, lencana bintang Karya Pratama disematkan untuk dirinya. “Ada yang bilang di media sosial Facebook bahwa saya tidak pantas memimpin Maluku, lantaran tidak punya pengalaman, saya tegaskan dengan penghargaan Karya Pratama itu saya ini kalau meninggal nanti dimakamkan di Taman Makam Pahlawan,” kata Murad.

Sementara, Calon Wakil Gubernur Maluku Barnabas Orno dalam orasi politiknya menjelaskan semua kebisuan Murad Ismail pada saat proses debat publik tahap satu beberapa waktu lalu memang disengaja. Untuk memberikan gambaran dirinya sebagai pendamping Murad akan diberi ruang yang lebih luas untuk berperan dalam pemerintahan sesuai dengan kemampuan yang dia miliki.

Diamnya Murad Ismail dalam debat, menurut Orno sekaligus untuk meyakinkan rakyat tentang kekompakan keduanya jika terpilih. “Pak Murad diam pada saat debat itu memiliki makna. Beliau selalu memberikan kesempatan kepada saya pada saat debat publik untuk berbicara, itu merupakan bukti bahwa kami solid. Kami bukan kandidat yang lapar bicara lain, kenyang bicara lain,” tuturnya.

Bahkan dia dan Murad ingin menjadi simbol pemersatu bagi masyarakat Maluku. Bagi BAILEO, jelas Orno, isu ras, suku, dan agama atau SARA tidak boleh ada dalam kehidupan masyarakat Maluku yang lekat dengan falsafah hidup orang basudara.

Kritikan tajam sempat mengemuka dalam kampanye terakhir BAILEO, kemarin. Disampaikan oleh Bupati Buru Selatan Tagop Soulisa terhadap kepemimpinan gubernur petahana Said Assagaff lima tahun lalu. “Kali ini, saya harus bicara jujur dan terbuka di hadapan semua masyarakat Maluku, harus diketahui bahwa kita selama ini dipimpin oleh orang yang salah. Maka harus ada gubernur baru untuk bisa mengeluarkan Maluku dari semua persoalan,” tegas Tagop disambut yel…yel dan tepuk tangan ribuan massa pendukung BAILEO.

Bahkan menurutnya, kalau pun Maluku saat ini dinilai memiliki sejumlah capaian positif pembangunan, itu lantaran kepemimpinan mantan Gubernur Karel Ralahalu. “Semua yang ada di kantor Gubernur Maluku sana, jangan sombong. Kalian harus tahu, kalau tidak ada Pak Karel kalian semua tidak ada di dalam kantor itu. Sebab, yang membangun Maluku ini adalah Pak Karel,” tandas Tagop sambil menunjuk ke arah kantor Gubernur yang bersebelahan dengan lapangan Merdeka.

Untuk itu saja, sambungnya, demi mengeluarkan Maluku dari semua masalah, dirinya yakin, Paslon nomor urut dua, BAILEO mampu melayani rakyat serta mampu mengeluarkan Maluku dari jurang kemiskinan. “Saya siap jadi jaminan kepada masyarakat Maluku, apabila BAILEO terpilih mereka tidak melayani rakyat. Sampai hal itu terjadi, saya sendiri yang akan datang gedor pintu rumah Pak Murad Ismail dan Pak Barnabas Orno (untuk sampaikan aspirasi rakyat),” ujarnya. (MG5/KTA)

Penulis:

Baca Juga