Ada binar mata yang sulit disembunyikan dari wajah puluhan anak berseragam merah putih ketika langkah kecil mereka menuruni kawasan Dermaga Irian, Markas Komando Kodaeral IX Halong, Ambon. Hari itu, ruang kelas mereka berpindah seluas samudera.
Sebanyak 86 siswa Sekolah Dasar (SD) Pertiwi Ambon tidak sedang meresapi teori pelajaran di balik bangku sekolah. Di hadapan mereka terbentang megah dua unsur penjaga kedaulatan: geladak Kapal Angkatan Laut (KAL) Alkura dan KAL Panana.
Kunjungan bertajuk “Memperkenalkan Angkatan Laut” ini bukan sekadar tamasya edukatif biasa. Ini adalah sebuah ikhtiar merajut kesadaran maritim sejak dini—menanamkan dalam sanubari anak-anak Maluku bahwa tanah air mereka tidak hanya terbentang di daratan, tetapi juga disatukan oleh lautan luas yang wajib dijaga.
Bagi sebagian besar anak, kapal perang selama ini mungkin hanya sebatas gambar dua dimensi di dalam buku teks sekolah. Namun hari ini, anjungan kapal—pusat kendali pelayaran dan navigasi—berubah menjadi tempat ajaib.
Dengan sabar, para prajurit TNI AL membimbing tangan-tangan kecil mereka, menjelaskan bagaimana kemudi digerakkan, rute patroli direkam, dan wilayah perairan NKRI diawasi dari balik kaca jendela anjungan.
Komandan Kodaeral IX, Laksamana Muda TNI Hanarko Djodi Pamungkas, paham betul bahwa menumbuhkan rasa cinta tanah air tidak bisa dipatok lewat hapalan semata. Harus ada pengalaman batin yang disentuhkan langsung kepada generasi muda.
“Pengenalan kemaritiman sejak dini penting untuk menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap laut, bangsa, dan negara, sekaligus memberikan pemahaman tentang tugas TNI Angkatan Laut dalam menjaga kedaulatan wilayah perairan Indonesia,” ungkap Laksda Hanarko.
Ia menekankan, pembelajaran konkret seperti ini memberikan gambaran hidup mengenai berat dan mulianya tugas pertahanan maritim, yang mungkin sebelumnya hanya dibayangkan lewat cerita fiksi atau layar televisi.
Petualangan puluhan siswa SD Pertiwi ini tidak berhenti di batas geladak kapal. Suasana mendadak berubah hening dan sarat rasa penasaran ketika mereka digiring memasuki kawasan bunker bersejarah di dalam kompleks Mako Kodaeral IX.
Di tempat berbetonis tebal itu, lorong-lorong waktu masa lalu terbuka. Para siswa mendengarkan kisah-kisah tentang Ambon pada era Perang Dunia II—bagaimana jejak pendudukan Jepang dan pergulatan pasukan Sekutu menorehkan sejarah kelam sekaligus saksi ketangguhan tanah Maluku di masa lampau. Sejarah bangsa tidak lagi terasa asing atau abstrak; ia hadir nyata di hadapan mata mereka.
Rosina Liklikwatil, guru pendamping yang setia membersamai rombongan, mengakui bahwa metode belajar di luar kelas (outdoor learning) semacam ini memberikan dampak psikologis dan kognitif yang jauh lebih membekas bagi anak didiknya.
“Pengalaman langsung itu membantu siswa memahami materi kemaritiman dan sejarah secara jauh lebih menarik dibandingkan hanya mempelajarinya melalui penjelasan di dalam kelas. Ini memperluas cakrawala berpikir mereka,” tutur Rosina dengan senyum bangga.
Matahari perlahan bergeser di atas perairan Teluk Ambon, meninggalkan kesan mendalam di hati anak-anak SD Pertiwi.
Melalui langkah-langkah kecil di Dermaga Irian hari ini, Kodaeral IX Ambon telah menanam benih-benih harapan. Bahwa di masa depan, ketika mereka tumbuh dewasa, laut tidak lagi dipandang sekadar tempat mencari ikan atau jalur melintas, melainkan identitas, kekuatan, dan masa depan Indonesia yang harus dijaga dengan segenap jiwa raga. (KIE)
























