Monsinyur Seno Ngutra Resmi Jabat Uskup Amboina

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, - Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Nuncio Apostolik bagi Indonesia) Monsinyur (Mgr) Piero Pioppo secara resmi menahbiskan Monsinyur Seno Ngutra sebagai Uskup Amboina, di Katedral Santo Fransiskus Xaverius, Kota Ambon, Sabtu.

Prosesi misa Ekaristi Tahbisan berlangsung sejak petang itu diawali arak-arakan Duta Besar Piero Pioppo bersama Uskup terpilih, para uskup se-Indonesia dan para imam dari Keuskupan Amboina menuju Katedral Santo Fransiskus Xaverius.

Monsinyur Piero Pioppo yang menjadi penahbis utama, memimpin misa ekaristi dengan didampingi Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC sebagai Penahbis I dan Uskup Manado Mgr Benedictus Estephanus Rolly Untu MSC sebagai Penahbis II.

Sebelum ditahbiskan Sekretaris Kedutaan Vatikan Monsinyur Arnaud du Cheyron de Beaumont membacakan surat pengangkatan Monsinyur Seno Ngutra yang akrab disapa “Inno” dari Takhta Suci Vatikan. Namun sebelum dibacakan Surat persetujuan dari Paus Frasiskus itu diperlihatkan keabsahannya kepada Dubes sebagai penahbis Utama serta Penahbis I dan Penahbis II, serta kepada seluruh uskup dan seluruh umat yang hadir.

Setelah itu, Dubes Piero Pioppo bersama penahbis I dan II serta para uskup se-Indonesia menumpangkan tangan untuk memberkati Monsinyur Seno Ngutra sebagai Uskup yang baru, kemudian mengurapi minyak krisma, penyematan cincin dan mitra (topi utama) serta penyerahan tongkat.

Dubes Piero bersama Uskup Agung Merauke dan uskup Manado kemudian memandu Uskup Mgr Senno Ngutra untuk mengikrarkan janji sucinya sebagai Uskup terpilih dan menuju tahta uskup untuk menerima salam persaudaraan dari para uskup se-Indonesia.

Sedangkan Uskup Agung Merauke Mgr Petrus Canisius Mandagi MSC memulai khotbahnya dengan menceritakan tentang kebiasaan terpendam Monsinyur Inno Ngutra. “Harap monsinyur tidak tersinggung, kalau tersinggung ampunilah saya,” katanya.

Menurut Mandagie setelah Monsinyur Inno ditahbiskan sebagai imam pada 6 Oktober 2001, Inno mulai melaksanakan tugas belajar di Manila, Filipina. “Tetapi saat studi itu beliau (Inno Ngutra) banyak bertolak (berangkat). Sering kali saya dengar beliau sudah bertolak ke Manila, tiba tiba sudah ke Singapura, Hongkong, vietnam tetapi juga bertolak ke Manado. Rupanya bakat terpendam (suka berangkat) lahir kembali di Manila,” katanya.

Karena itu, Menurut Uskup Mandagi, dirinya mengerti mengapa Monsinyur Inno memilih semboyan “Duc In Altum” atau ‘Bertolaklah ke tempat yang dalam’ sebagai motonya dalam mengembalakan keuskupan amboina.

Ia mengingatkan mengingatkan Uskup Seno Ngutra akan motonya Duc In Altum sebagai cita-cita luhur dalam mewujudkan pengabdiannya sebagai seorang uskup.

“Moto Duc In Altum yang termaktub dari Kitab Injil Lukas 5:4 menunjukkan komitmen dan cita-cita Monsinyur Inno Ngutra untuk menangkap umat Katolik maupun masyarakat Maluku yang masih terperangkap dalam lautan kejahatan,” katanya.

Mandagi yang sebelumnya menjadi Uskup Diosis Amboina dan bertugas selama 27 tahun mengakui di Maluku masih sering terjadi perkelahian antarkampung karena masalah kepemilihan tanah, kepemilikan laut maupun kekerasan yang timbul karena masalah politik seperti pilkades maupun pilkada.

“Banyak juga yang terperangkap dalam kasus korupsi, perselingkuhan dan masih banyak bentuk lautan kejahatan lain. Ini menjadi tugas Uskup Inno untuk mengumpulkan mereka dalam persekuatuan yang sejati,” katanya.

Dia mengakui, Mgr Inno memiliki basis yang kuat karena telah mengunjungi hampir semua tempat, termasuk daerah terpencil dan sulit di wilayah Keuskupan Amboina, sebelum ditunjuk dan diangkat sebagai Uskup Amboina. Karena Itu, dia berharap Uskup Inno mampu menggembalakan umat Katolik dalam melewati berbagai tantangan yang dihadapi saat ini.

Sementara itu, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengapresiasi suksesi kepemimpinan pada Keuskupan Amboina yang ditandai dengan Penahbisan Monsinyur Seno Ngutra sebagai uskup terpilih, oleh Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Monsinyur (Mgr) Piero Pioppo, di Ambon, Sabtu malam.

“Atas nama pribadi dan pemerintah mengucapkan selamat kepada Uskup Keuskupan Amboina, Mgr Seno Ngutra. Selamat menjalankan amanah dan tugas pelayanan kepada umat Katolik di Ambon,” kata Menag Yaqut saat menghadiri prosesi Penahbisan Uskup Amboina di Katedral Santo Fransiskus Xaverius Ambon.

Menag yang didampingi Plt Dirjen Bimas Katolik Kemenag, Albertus Magnus Adiyarto Sumardjono mengajak uskup yang baru untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya memposisikan nilai-nilai agama sebagai inspirasi dan motivasi untuk terus berbuat kebaikan dan menumbuhkan toleransi.

Ditegaskan, setiap uskup yang ditahbiskan menjadi bagian bukan hanya jajaran para uskup di Indonesia, namun para uskup sedunia di bawah kepemimpinan Paus Fransiskus yang bertanggungjawab terhadap seluruh gereja Katolik dan pengembalaannya.

Menag pun merasa bersyukur dan bangga karena pada Sabtu siang telah bertemu dengan Duta besar Vatikan untuk Indonesia (Nuncio Apostolik di Indonesia) Monsinyur Piero Pioppo serta para uskup dari 22 Keuskupan di Tanah Air yang dipusatkan di Katholik Center Ambon.

Terkait keberadaan Gereja Kathedral Santo Fransiskus Xaverius Ambon yang menjadi pusat Penahbisan Uskup Amboina, menurut Menag, merupakan tonggak sejarah awal gereja Katolik di Tanah Air. Keindahan dan kemegahan gereja ini merupakan warisan budaya yang mengakar kepada spiritualitas dan tetap menjadi tempat pemersatu umat hingga kini.

Proses penahbisan juga menggambarkan komando tegak lurus dalam suksesi kepemimpinan Gereja Katolik yang menunjukkan soliditas umat Katolik dan kekuatannya untuk bersatu menumbuhkan semangat kerukunan dan toleransi.

Menteri juga mengajak umat Katolik dan para Uskup se-Indonesia untuk terus menjaga ketenangan dan kedamaian bangsa, karena Indonesia merupakan bangsa yang besar dan beragam, baik secara adat dan atau agama.

Ia menyatakan, sempat bertemu Paus Fransiskus di Vatikan pada tahun 2019. “Tahun 2019, Saya bertemu Paus di Vatikan. Beliau sangat hamble, tokoh agama yang lembut dan jernih hatinya. Kita semua harus terus berusaha menciptakan ketenangan dan kedamaian. Ini harus terus dilakukan karena Indonesia sangat beragam,” tambah Menag Yaqut.

Menag Yaqut menyampaikan bahwa setiap orang harus dapat memberikan penghargaan dan penghormatan terhadap mereka yang memiliki keyakinan berbeda. “Atas nama pemerintah, saya minta kerjasama yang baik di kalangan umat Katolik. Saya senang hari ini bertemu dengan para Uskup,” kata Menag.

Menag berharap, momen Penahbisan Uskup serta pertemuannya dengan para uskup se-Indonesia ini bisa menjadi daya ungkit bagi perdamaian Indonesia di masa mendatang. “Selamat Paskah bagi seluruh umat Katolik. Momentum Paskah tentu menjadi momentum sangat baik, agar kita berusaha kembali mendorong sikap yang semakin toleran antar umat beragama,” tandasnya .

Dia menjelaskan, Kementerian Agama mencanangkan tahun 2022 sebagai tahun toleransi. Toleransi, katanya, hal yang niscaya di tengah keragaman bangsa. “Perbedaan kita adalah takdir, dan menjadi kekuatan untuk bisa melangkah bersama-sama menjaga Indonesia,” katanya. (AN/KT)

Komentar

Loading...