KABARTIMURNEWS.COM,PIRU, – Sejak memisahkan diri dari Kabupaten Maluku Tengah (Malteng),13 Tahun lalu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) belum menunjukkan kemajuan signifikan dari sektor pembangunan dan ekonomi.
Salah satu indikator lambannya pembangunan dan ekonomi di bumi “Saka Messe Nusa” itu yakni, sulitnya investor menanamkan modal investasi, lantaran mahalnya harga tanah di wilayah tersebut.
Ketua Ikatan Pelajar Mahasiswa Amalatu (IPMAL) Cabang Ambon, Alwi Pattimura, kepada Kabar Timur, Minggu (27/6) kemarin mengaku, persoalan mahalnya tanah menjadi salah satu masalah dasar SBB tidak berkembang.
“Seperti di Kota Piru, harga tanah sangat tinggi, sehingga banyak investor yang mengurungkan niatnya menanamkan modal di ibukota Kabupaten itu, “ ungkap Pattimura.
Dijelaskannya, masyarakat atau makelar tanah tidak semestinya menjual tanah dengan harga tinggi.Pasalnya, investasi merupakan kunci utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten SBB ke depan.
“Saya khawatir, jika kondisi ini tetap tidak berubah, maka akan membuat para investor lari ke wilayah lain. Kalau sudah begitu, maka sudah pasti pertumbuhan ekonomi dan investasi di SBB nantinya terhambat, “ terangnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) SBB, mestinya harus lebih proaktif dalam melakukan sosialisasi kepada masyarakat, tentang manfaat dan keuntungan jika para investor berani menanamkan modal investasi.
“Jika tidak begitu, maka walaupun Pemda berusaha secara proaktif mendatangkan investor, namun mereka tidak akan pernah berani menanamkan modal, karena mempertimbangkan harga tanah yang sangat tinggi, “ tutupnya.
(KTE)


























