KABARTIMURNEWS.COM,AMBON – Wilayah Maluku sulit terhindar dari bencana alam seperti gempa bahkan tsunami. Itulah yang harus dihadapi Maluku sebagai wilayah kepulauan. Dengan letak geografis ini sejumlah potensi bencana mengancam. Apalagi, Maluku memiliki dua subduksi atau lempeng tektonik aktif di atas Pulau Seram dan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Ambon, Sunardi menjelaskan, di atas Pulau Seram, terdapat subduksi dari utara ke selatan. Garis tersebut memanjang dan melintasi kepulauan Maluku.
Sementara subduksi lainnya di Banda. Subduksi Banda merupakan kerawanan pertama di Kepulauan Maluku.
“Ini dua subduksi aktif yang ada di Maluku. Dan yang paling rawan berada di Banda,” kata Sunardi ketika audiens dengan Kapolda Maluku Irjen Pol Refdi Andri di Mapolda Maluku, Kamis (25/2).
Menurutnya, secara maritim, wilayah Kepulauan Maluku sering terjadi gelombang tinggi. Bahkan ketinggiannya bisa sampai mencapai enam meter.
“Sering terjadi ombak besar bahkan ketinggian ombak 2,5 sampai 6 meter. Catatan yang diterima dari Badan SAR, hampir 200 peristiwa kecelakaan laut sudah terjadi di Maluku,” sebutnya.
Dengan potensi kerawanan tersebut, BNKG dapat meningkatkan sinergitas dan membangun koordinasi secara langsung dengan jajaran Polda Maluku.
“Kami mau bekerjasama dengan Kapolda dan jajaran. Harapan kami stasiun BMKG bisa berkoordinasi dengan Polres setempat agar apabila terjadi sesuatu bisa langsung disampaikan ke Kapolres. Kami berharap Ke depan Polri dan BMKG semakin bersinergi,” harap Sunardi.
Polda Maluku miliki pandangan yang sama dengan BMKG. Polda sangat ingin bekerjasama sehingga dapat mengantisipasi potensi kerawanan yang ada.
“Terima kasih kepada BMKG sudah mau berkunjung ke Mapolda. Tentu, ini pertemuan yang baik. Sebab kami juga sepandangan untuk menjaga dan mengantisipasi potensi kerawanan di wilayah Maluku,” ujar Refdi.
Mantan Kakorlantas Polri itu berharap, potensi kerawanan bencana ini bisa menjadi perhatian bersama dengan pemerintah daerah.
Refdi meminta dilakukan pemetaan jalur evakuasi. Ini penting sehingga berapa meter lokasi evakuasi dari atas permukaan laut itu bisa diketahui. “Saya ingin ada pemetaan jalur evakuasi. Setiap jalur evakuasi harus ada beberapa meter di atas permukaan laut sehingga kita bisa tahu,” tukas dia. (KTY)


























