Dua Oknum Polisi dan Empat Warga Sipil Penjual Senjata ke KKB Papua Terancam Hukuman Mati

KABARTIMURNEWS.COM. AMBON –Enam pelaku yang terlibat dalam bisnis jual beli senjata api ke Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua,  telah ditahan di Rutan Polresta Ambon dan Pulau-Pulau Lease.

Dari ke-enam pelaku ini, dua diantaranya personil anggota Polri dan empat lainnya warga sipil. Mereka disangkakan melanggar pasal 1 Ayat (1) UU 12 Tahun 1951 tentang undang-undang darurat dengan ancaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya 20 tahun.

"Enam pelaku sudah di rutan Polresta Ambon. Dan Sanksi untuk mereka yang terlibat juga tak main-main," kata Kapolresta Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, Kombes Pol Leo Surya Nugraha Simatupang dalam keterangan persnya di ruang Aula Mapolresta Ambon, Selasa (23/2)

Menurutnya, pasal 1 Ayat (1) UU 12 Tahun 1951 ini menerangkan bahwa barang siapa yang tanpa hak memasukkan ke Indonesia, membuat , menerima, mencoba memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak, maka dihukum dengan hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara setinggi-tingginya dua puluh tahun.

Simatupang mengatakan, Polresta Ambon telah mengamankan pelaku berikut dengan sejumlah barang bukti, diantaranya, satu pucuk senjata laras pendek (revolver), satu pucuk senjata laras panjang rakitan, 600 butir munisi peluru aktif, dua buah handphone merk samsung, satu ATM BRI dan satu unit sepeda motor merk honda beat.

Dijelaskan, kasus ini mulai terungkap setelah ditangkapnya salah satu warga sipil berinisial WT alias J di Bintuni oleh personil Polres Bintuni, Papua Barat, 10 Februari 2021 lalu. Setelah dilakukan pendalaman, ternyata senpi ilegal dan ratusan peluru itu dibeli di Ambon.

Dengan adanya informasi tersebut, Kapolda Maluku, Irjen Pol Refdi Andri kemudian memerintahkan Kapolresta Ambon untuk melakukan penyelidikan dengan di backup oleh anggota Densus 88 anti teror.

Dari hasil penyelidikan, di peroleh bahwa senpi laras panjang jenis SS1 itu dijual oleh pelaku yang adalah salah satu anggota Polresta Ambon berinisial SAP. Senpi rakitan itu dibeli oleh SAP dari masyarakat. SAP ternyata telah menjalankan bisnis ini cukup lama. Sebab, sudah dua kali SAP menjual senpi ke J.

Sementara untuk satu pucuk revolver, dijual oleh MRA ke J. MRA dengan J masih memiliki hubungan kekeluargaan. Aksi ini bisa berjalan mulus kerena dibantu oleh empat warga sipil yang juga menetap di Ambon.

"Dari mana MRA punya revolver? Itu yang lagi polisi dalami. Yang jelas, motif dari kasus ini, untuk mendapatkan keutungan. Karena pelaku beli dari masyarakat dengan harga Rp 6 juta. Sementara dijual ke J dengan harga Rp 20 juta," ujar Kapolres

Bagaimana senpi dan peluru ini bisa sampai ke Bintuni? Simatupang mengaku, pelaku menggunakan transportasi laut. Kelonggaran pengawasan di laut inilah yang kemudian dimanfaatkan untuk membawa senpi ke Papua.

"Pelaku J ini orang Ambon tapi sudah lama berada di Papua. Kalau ke Ambon gunakan pesawat. Nanti kembali ke Papua bawa senpi dan peluru, barulah gunakan kapal. Informasinya J ini naik kapal dari Pulau Seram," terangnya. (KTY)

Komentar

Loading...