Polisi Diminta Usut Kapal Dishub SBB

ILUSTRASIIlustrasi

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON-Proyek pengadaan kapal Dishub Kabupaten SBB diduga hanya akal-akalan pejabat daerah itu untuk meraup uang negara masuk kantong pribadi. Faktanya dua kali tender, hasilnya sebuah kapal yang berbeda dengan spesifikasi kontrak.

Kontrak pertama pengadaan kapal tersebut 31 Agustus 2019 pemenangnya CV Khairos namun kontrak dibatalkan sepihak oleh Pemkab SBB. Lanjut kontrak kedua, 6 Maret-31 Desember 2020, dengan pemenang yang sama masih CV Khairos.

Anehnya, kontrak pertama dengan DIPA tahun 2019 senilai Rp 7,056 miliar, berbeda dengan nilai kontrak kedua tahun 2020 senilai Rp 7,1 miliar. Hal itu menimbulkan potensi kerugian negara kurang lebih Rp 500 juta.

“Tapi kalau kasus ini diduga dobel anggaran, bukan saja Rp 500 juta sekian maka potensi kerugian miliaran rupiah itu,” ujar Ketua Gerakan Reformasi Indonesia (Gerindo) Maluku Yusri M Jusuf Senin (18/1) dihubungi Kabar Timur melalui telepon seluler.

Menurutnya kapal ini sejak awal sudah bermasalah dalam spesifikasi kontrak. Kontrak pertama kapal menggunakan mesin tempel. Tapi dibatalkan dengan dalih tutup tahun anggaran.

Kalau pun tender dibatalkan dengan alasan apapun harus disampaikan kepada publik, untuk mengedepankan asas tranparansi dan akuntabilitas. “Tender pertama kontraknya mesin tempel, tiga unit. Sekarang diganti mesin dalam lagi, tapi mesinnya saja belum ada di tempat, makanya kita minta penegak hukum usut,” ujar Yusri.

Itu setelah proyek pengadaan pertama tahun 2019 dibatalkan Pemkab SBB dengan alasan akhir tahun anggaran. Sehingga alokasi anggaran direalisasi tahun berikutnya.

PPK pengadaan kapal Ny Herwiin membantah saat dikonfirmasi terkait gambar dimensi kapal yang diperlihatkan kepadanya. Pada gambar rencana, terlihat kapal bermesin tempel tiga unit.

Padahal gambar kapal diperoleh dari dokumen perencanaan Dishub Kabupaten SBB sendiri. “Itu bukan gambar kapal kita,,” jawab Ny Herwiin melalui pesan whatsapp.

PPK Dishub Kabupaten SBB itu membantah kalau kapal senilai Rp 7,1 miliar itu bermesin tempel. Ny Herwiin mengklaim kapal tersebut bermesin dalam. (KTA)

Komentar

Loading...