Polda Diminta Usut Tuntas Kasus Penistaan Agama Petrus Fatlolon

KABARTIMURNEWS.COM. AMBON-Polisi Daerah (Polda) Maluku, diminta secepatnya mengusut tuntas kasus dugaan penistaan agama, yang dilakukan Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT), Petrus Fatlolon pada 2016 lalu.

Sekedar tahu, Petrus Fatlolon telah dilaporkan ke Polda Maluku pada tanggal 26 Agustus 2020, terkait dengan dugaan adanya unsur penistaan agama Islam.

Dugaan penistaan terhadap agama Islam tersebut, dimuat dalam Vidio berdurasi 2,33 menit, ketika Petrus Fatlolon melakukan kampanye Pemilihan Bupati 2017, di Desa Manglusi, Kecamatan Ninrumas, Kabupaten KKT pada 2016 lalu.

Dalam vidio tersebut, Petrus terlihat melontarkan kata-kata yang mengarah kepada Kitab Suci umat Islam yakni Al-Quran, di depan banyak pendukungnya kala itu.

Dalam kampanyenya dihadapan banyak pendukungnya saat itu, Bupati KKT Petrus Fatlolon, terdengar jelas mengrartikan namanya sendiri didalam dua kitab, yang pertama dalam Al-Kitab dan kedua Al-Quran

"Petrus dalam Al-Kitab didentikan dengan batu karang yang teguh. Benar apa betul,?. Didalam Al-Quran Petrus juga diberikan kepercayaan Tuhan Yesus untuk memegang kunci kerjaan surga. Benar apa betul?, " jelas Petrus persis seperti didalam video tersebut.

Apa yang dikatakan Petrus tersebut, dinilai telah menista agama Islam. Sebab, didalam Al-Quran tidak pernah ada satu ayat pun yang menyatakan hal seperti diucapkan oleh Bupati KKT itu.

Faisal Lina, warga Desa Labobar, kecamatan Warlabobar, Kabupaten KKT, kepada wartawan di Ambon, Kamis (7/1) kemarin mengatakan, dirinya telah melaporkan pernyataan Petrus Fatlolon ke Polda Maluku sejak 26 Agustus 2020 lalu.

"Saya tidak terima kalau kitab suci agama saya (Islam) dibilang seperti itu. Makanya sudah saya laporkan hal ini sejak 2019. Namun sampai sekarang belum ditindaklanjuti, dan saya akan terus cek perkembangannya, " katanya.

Dia juga mengaku, dari hasil koordinasi terakhir yang dilakukan pihaknya bersama penyidik Polda Maluku, bahwa dalam waktu dekat sudah akan dilakukan pemeriksaan terhadap saksi-saksi terkait kasus tersebut.

"Kalau dari hasil koordinasi, nanti akan dilakukan pemeriksaan terhadap saksi terlebih dulu, baru dilanjutkan dengan pemanggilan terhadap Petrus Fatlolon (terlapor). Kami sangat berharap kasus ini dapat diselesaikan secepatnya sesuai hukum yang berlaku, " ujarnya.

Tidak hanya itu, dia juga mengungkapkan, bahwa dirinya tidak memiliki kepentingan lain dalam kasus ini. Ini murni, lanjutnya, membela agama Islam. "Saya dan kuasa hukum akan kawal sampai selesai, " katanya.

Menurutnya, sejak dilaporkan pada Agustus 2019 lalu dirinya terus melakukan pengawalan terhadap perkembangan kasus itu. Namun, kondisi alam menjadi faktor utama kasus Petrus belum mampu diusut tuntas.

"Lambatnya penanganan kasus ini, disebabkan karena kondisi alam. Yang pertama pada 2019 Maluku digoncang gempa, kemudian 2020 Maluku di serang Wabah Covid-19. Makanya pada 2021 ini, kami datang lagi menanyakan perkembangan kasus itu, " jelasnya.

Diwaktu sama, Ketua Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII) Provinsi Maluku, Adam Johan Makatita menegaskan, pihaknya mendukung penuh upaya hukum yang ditempuh oleh pelapor dalam hal ini Faisal Lina.

"Kami akan bersama pelapor mengawal kasus ini. Dan GPII Maluku juga sudah melakukan koordinasi dengan Polda Maluku. Alhamdulillah, ada tanda-tanda atau respon baik untuk kasus tersebut ditindaklanjuti, " jelasnya.

Sementara itu, penyidik Ditkrimum Polda Maluku IPDA Fahrul Sabban yang menangani kasus Petrus Fatlolon tersebut, tidak mau berkomentar banyak saat dikonfirmasi oleh wartawan.  " Saya tidak bisa kasih keterangan yang lebih soal ini. Kita kan kerja tim. Nanti saja konfirmasi ke Pak Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Muhamad Roem Ohoirat, "tutupnya.(KTE)

Komentar

Loading...