Betti Patikaihattu Tuding Polda Rekayasa Kasusnya

Ilustrasi

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Setelah terancam dipanggil  paksa, bos program sejuta rumah, Betti Patikaihattu balik menyerang Polda Maluku. Dia bahkan menuding penyidik Ditreskrimum Polda Maluku merekayasa kasus, sehingga seolah-olah dirinya telah dua kali dipanggil. Padahal dia mengklaim hingga detik ini belum pernah dilayangkan surat panggilan untuk dimintai keterangan. 

“Tidak benar saya dipanggil sebanyak dua kali. Itu tidak benar dan bohong. Itu pencemaran nama baik,” tegas Patikaihattu ketika menghubungi Kabar Timur,” Kamis (26/11).

Penegasan Patikaihattu, sekaligus menyikapi Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol. M. Roem Ohoirat yang menyatakan, penyidik bakal menjemput paksa Patikaihattu. Sebab dua kali mangkir dari panggilan penyidik Ditreskrimum Polda Maluku.

Patikaihattu dipolisikan oleh pengusaha Jhon Tuhuteru yang mengklaim sebagai pemilik lahan di Tawiri yang dikuasai Patikaihattu.

“Ada rekayasa perkara sehingga saya sudah lapor penyidik dan Direskrimum ke Propam Mabes Polri. Saya sudah lapor dua kali, juga lapor Jhon Tuhuteru di Mabes Polri,” tegas Patikaihattu.

Dia menuding, penyidik rekayasa kasus agar dirinya dipolisikan Jhon Tuhuteru terkait penyerobotan lahan di Tawiri. “Ini terjadi penyalahgunaan kewenangan (oleh penyidik),” tuding Patikaihattu.

Akibatnya, sebut dia pada 19 Oktober 2020,  dirinya bersama tim penyidik dari Mabes Polri  berjumlah 16 orang ke Ambon memeriksa pihak-pihak yang dilaporkan ke Mabes Polri atas kasus penyerobotan lahan di Tawiri. “Saya bersama mereka dari Jakarta. Tim Mabes Polri periksa Tuhuteru dan pihak lain,” bebernya.

Patikaihattu kembali membantah dua kali mangkir. Dia berdalih dirinya belum pernah dipanggil untuk diperiksa. Tapi penyidik Ditreskrimum  tekah melayangkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Tinggi Maluku. “Dalam SPDP itu seolah-olah saya sudah diperiksa. Tapi sampai sekarang saya tidak pernah diperiksa. Kejati juga sudah kembalikan SPDP,” tandasnya.

Setelah itu, lanjutnya, dirinya melaporkan Direskrimum Polda Maluku ke Propam Mabes Polri karena penyalahgunaan wewenang. “Tim Propam Mabes Polri beberapa waktu lalu juga sudah turun periksa penyidik Ditreskrimum Polda Maluku,” terang Patikaihattu.

Patikaihattu katakan, sebelum Tuhuteru melaporkan dirinya ke Polda Maluku, pihaknya terlebih dahulu melaporkan Tuhuteru pada medio Maret 2020. “Ketika itu suami saya yang lapor, tapi ditolak Direskrimum. Bahkan sampai dua kali. Begitu juga pengacara saya Adolf Saleky, dampingi suami saya lapor di Polda juga ditolak. Makanya saya lapor Tuhuteru di Mabes Polri,” tegasnya.

Dia menduga, setelah laporannya di  Ditreskrimum Polda Maluku ditolak, dua pekan kemudian Tuhuteru dimanfaatkan oknum penyidik Ditreskrimum Polda Maluku untuk melaporkan dirinya. “Itu yang saya tuding penyidik rekayasa kasus saya. Dia (Tuhuteru) lapor saya karena penyerobotan lahan di Tawiri. Katanya lahan itu milik dia,” tuturnya. 

Patikaihattu menyesalkan pernyataan Ohoirat, persoalan lahan Tawiri masuk ranah sengketa perdata. “Tapi kenapa laporan polisi saya ditolak? Justeru laporan Tuhuteru diterima dan diproses. Saya jadi terlapor dia pelapor. Sebenarnya ada apa ini?,” kesal Patikaihattu. (KTM)

Komentar

Loading...