KABARTIMURNEWS.COM, AMBON-Kerusakan jembatan Waikaka di Desa Tala, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, akibat banjir, Juni 2019 lalu tidak hanya memutuskan akses darat di Pulau Seram.
Kemiringan jembatan Waikaka dijadikan peluang bagi warga setempat untuk memungut rupiah alias pungutan liar (Pungli). Sudah dua bulan, praktik Pungli kian marak dan sengaja dibiarkan oleh pihak kepolisian dan Pemerintah Kabupaten SBB.
Kesal dan tak tahan menjadi korban Pungli, puluhan pengemudi truk maupun bus lintas Pulau Ambon-Seram mendatangi kantor DPRD Provinsi Maluku, Kota Ambon. Mereka mengeluhkan pembiaran terhadap Pungli.
“Kedatangan kami ingin menyampaikan keluhan kepada para wakil rakyat karena ada praktik pungli yang dilakukan oknum-oknum tertentu,” ungkap perwakilan sopir truk trans Ambon-Seram, Toton di Ambon, Jumat (23/8).
Meskipun salah satu ujung jembatannya sudah miring akibat tiang tengah penyangga jembatan roboh, namun kendaraan roda empat tetap nekat melintasi jembatan pada malam hari. Alasanya jembatan yang miring hanya antara tiga hinggga enam meter sehingga masih bisa dilalui.
Namun bagi mobil yang melintasi jembatan Waikaka, tidak gratis. Setiap mobil ditarik Pungli yang besarnya bervariasi antara Rp100 ribu hingga Rp500.000. Seringnya dipalak membuat sopir trans Ambon-Seram “menderita”. Ulis Rahakbauw mengaku trauma melintasi jalan trans Seram, terutama di Jembatan Waikaka.
“Beberapa waku lalu saya membawa truk berisikan enam ton ikan segar menuju Ambon, dan saat melintasi jembatan ditagih Rp250.000 di salah satu ujung jembatan dan saat tiba di sebelahnya, ditagih lagi Rp250.000 jadi total Rp500.000,” kata Ulis.
Sopir yang menjadi korban Pungli hanya pasrah tidak mampu berbuat apa-apa karena takut dipukul oknum warga setempat. “Kalau sudah membayar pungli seperti ini, lalu berapa rupiah lagi yang harus dibawa pulang untuk menghidupi keluarga kami?,” keluh Ulis.
Sejak dua bulan lalu, kawasan di jembatan Waikaka menjadi terminal dadakan. Lantaran tidak bisa dilintasi roda empat pada siang hari, penumpang tujuan Ambon dari Malteng atau SBT harus berjalan kaki melintasi jembatan dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil atau bus yang mangkal di dekat jembatan Waikaka. Hanya kendaraan roda dua dan pejalan kaki yang diperbolehkan melintasi jembatan besi tersebut.



























