Sekilas Info

Ruas Dobo “Hancur” BPJN Harap Awasi Ketat

ISTILUSTRASI

KABARTIMURNES.COM, AMBON - Dari foto gambar yang dikirim warga kondisi ruas jalan di kawasan Depot Logistik BBM Pertamina kota Dobo pelaksanaannya berpotensi merugikan keuangan negara. PT Purna Dharma Perdana selaku kontraktor mesti diawasi ketat oleh BPJJN Maluku-Malut dalam pelaksanaan proyek jalan senilai Rp 20 miliar lebih tersebut.

Menurut Oleng Labok (40) warga Dobo, Kabupaten Kepulauan Aru ini, untung saja kegiatan pekerjaan belum sampai tahap hotmix. “Pekerjaannya hancur-hancuran. Diharapkan Balai jalan awasi ketat. Memang baru penimbunan, tapi masalahnya, yang digunakan tanah lumpur bukan material pilihan. Coba lihat foto-foto yang beta kirim,” ujar Labok kepada Kabar timur melalui telepon seluler, Selasa, kemarin.

Dari foto-foto tersebut ruas jalan yang akan dilakukan pelebaran 3 meter kiri kanan dalam rangka peningkatan jalan dari jalan provinsi menjadi strategis nasional oleh pihak BPJJN itu terlihat asal-asalan. Kecuali bagian tengah masih ada bekas aspal lama, tanah timbunan di sisi-sisi jalan terlihat bak adonan roti.

Dari informasi yang diperoleh, kata Labok, oleh PT Purna Dharma Perdana dengan kuasa direktur bernama Ramli untuk item pekerjaan penimbunan ini pengambilan materialnya dipaksakan. Seharusnya dipergunakan material pilihan dari luar daerah dengan lokasi terdekat, semisal Kabupaten Maluku Tenggara atau Seram Bagian Timur.

Material timbunan dari daerah-daerah itu biasanya keras dan padat. Sangat cocok untuk proyek infrastruktur jalan. Sekali pun kena hujan, timbunan dengan mempergunakan material pilihan membuat struktur lapisan dasar sebelum dihotmix akan semakin rapat dan kuat.

“Tapi ini tidak, kontraktor pakai tanah biasa yang diambil dari dekat-dekat  lokasi pekerjaan situ saja. Tau to, di Dobo ini seng ada tanah keras tapi tanah campur lumpur,” ungkap Labok.

Dari penelusuran Kabar Timur, proyek nomenklatur Preservasi Jalan di Kepulauan Aru telah tender ulang pada Maret 2019 lalu. Tender digelar oleh BPJN Wilayah III Provinsi Maluku dengan nilai pagu APBN tahun 2019 senilai Rp 25.208.935.000,00,-.

Peserta tender ulang diikuti 30 perusahaan salah satunya PT Purna Dharma Perdana dengan harga penawaran Rp 20.216.501.969,00,- Sementara harga terkoreksi senilai Rp 20.216.500.000,00,

Setelah tender ulang, dari seluruh peserta yang ikut, perusahaan yang beralamat Jalan kebon Jati No.167 Bandung-Padang Kota, Provinsi Sumatera Barat itu dinyatakan keluar selaku pemenang.

Sebagai kilas balik, ketika tender diumumkan, kualifikasi kontraktor yang diminta yang memiliki pengalaman paling kurang 1 tahun dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Selain harus memiliki kemampuan untuk menyediakan fasilitas, peralatan atau perlengkapan, yang juga disyaratkan peserta tender harus memiliki tenaga ahli di bidang pembangunan jalan. Yakni ahli madya/muda jalan dengan pengalaman minimal 5 atau 6 tahun.

Tapi yang terjadi sepertinya PT Purna Dharma Perdana tidak memiliki ahli jalan seperti itu. Faktanya, pekerjaan tahap penimbunan seperti terjadi di lapangan terlihat fatal. Sebab pada lapisan agregatnya tidak dipakai material batu pecah yang disisipi tanah keras berkerikil tapi tanah bercampur lumpur. (KTA)

Penulis:

Baca Juga