Sekilas Info

Pembunuh Isteri Karyawati ACC Diadili

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Abdullah alias Fikar (29) pembunuh istri di kamar kosnya di kawasan STAIN, kompleks Wara Kolam Sembilan Rt.007/RW 019, Kecamatan Sirimau akhirnya diseret ke meja hijau. Sidang perdana tragedi berdarah suami isteri ini dipimpin Hakim Ketua Syamsudin La Hasan dibantu Feliks Rony Wuisan dan Jeny Tulak.

Dalam persidangan, Kamis, kemarin di Pengadilan Negeri Ambon, JPU saat membacakan dakwaan mengungkapkan tindak pidana ini terjadi 7 Maret 2019, sekitar pukul 13.00 WIT,tepatnya di kos-kosan milik Ali Jodi di STAIN Wara Kolanm Sembilan, Rt.007/RW 019, Kecamatan Sirimau.
Awalnya terdakwa pergi menjemput istrinya Nur Nabila Nawaly yang merupakan korban dari tempat kerjanya di ACC Passo.

Setibanya mereka berdua di kamar kos, korban bilang kepada terdakwa bahwa makanan sudah habis, namun terdakwa tidak peduli dengan penyampaian korban. Terdakwa malah pergi bermain Game di kamar kos rekannya, sementara korban sendiri di kamar kos.

Ditinggal sendirian tanpa makanan, korban menelpon terdakwa supaya pulang sambil melontarkan makian. Akhirnya terdakwa pulang, tapi ketika sampai di kamar terdakwa tidak melihat korban di kamarnya sehingga dia pergi mencari korban ke tetangga sebelah.

Ketika menemui korban, korban kembali marah-marah terdakwa dan kembali melontarkan makian dan menduga terdakwa bohong kepada korban. Tidak sampai di situ korban juga membuang ludah di hadapan terdakwa menyebabkan terdakwa naik pitam. Di situ lah adu mulut terjadi, tapi terdakwa masih sempat mengajak korban pulang ke kamar.

Sialnya, setelah sampai di kamar, adu mulut antara terdakwa dan korban kembali lanjut. Hingga terdakwa tak mampu mengontrol emosi, dan memukul dan menginjak-injak korban. Tapi korban masih mengajak cekcok, terdakwa menampar korban sehingga kepala korban terbentur dinding kamar.

Melihat isterinya terdiam tak bergerak, terdakwa berbaring di tempat tidur. Beberapa menit kemudian, terdakwa pergi keluar kamar, namun setelah kembali dia melihat korban sudah tergeletak di depan kamar kos tak sadarkan diri.

Karena terdakwa berteriak minta melarikan korban ke rumah sakit, yakni RS Bhayangkara, Tantui. Namun, kondisi fatal terjadi, petugas medis menyatakan nyawa korban tak dapat ditolong.

Tak yakin atas jawaban medis petugas rumah sakit, terdakwa meminta untuk membawa korban ke RS DR J Latumeten, namun hasilnya tetap sama, pihak petugas rumah sakit tetap memvonis kalau korban telah meninggal dunia. Hingga akhirnya jenasah korban dibawa pulang kembali ke kamar kos mereka untuk mempersiapkan pemakaman jenasah korban.

“Perbuatan terdakwa sebagaiaman diatur dalam pasal 351 Ayat (3) KUHPidana,” tandas JPU.

Usaimendengar dakwaan JPU majelis hakim menunda sidang pekan depan dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi. (KTA)

Penulis:

Baca Juga