Sekilas Info

Jalan-Jembatan di Leihitu Rusak Bupati Disoroti

JEMBATAN RUSAK: Kendaraan roda empat terparkir di kawasan jembatan Wainiri di Desa Tala, Kecamatan Amalatu Kabupaten Seram Bagian Barat, Jumat (28/6). Pasca rusaknya jembatan awal Juni lalu, mobil tidak bisa melintas

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Infrastruktur jalan dan jembatan di Kecamatan Leihitu diinformasikan rusak berat dan tak dapat dilalui kendaraan. Masyarakat di negeri-negeri kecamatan tersebut mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah daerah.

Tapi masalahnya tidak sampai di situ, sebab sarana transportasi juga terkait kamtibmas. Potensi konflik antar kampung menjadikan jalan dan jembatan sebagai sarana paling vital.

Di masa damai, akses jalan dan jembatan digunakan, itu juga kalau kedua sarana ini dalam kondisi normal. Tapi selama konflik, masyarakat desa seperti terjebak dan terisolir, apalagi di saat yang sama jalan dan jembatan ini rusak berat.

Menyikapi persoalan ini salah satu warga Desa Negeri Lima Kecamatan Leihitu, Faisal Soumena (40) meminta perhatian Gubernur Maluku maupun Bupati Maluku Tengah. Pasalnya, jembatan besar yang terletak di Desa Larike yang disebut warga setempat sebagai ‘jembatan gurita’ itu patah di bagian tengah sejak 5 hari pasca lebaran Idul Fitri lalu.

Akibatnya warga Desa Negeri Lima, Ureng, Assilulu yang merupakan negeri tetangga Desa Larike tak bisa melalui jembatan tersebut dengan leluasa. “Bupati Maluku Tengah seng pernah turun tinjau jembatan ini. Dari Dinas PU provinsi juga baru 4 hari terakhir kemarin datang tinjau,” kata Faisal.

Kondisi ini menimbulkan persoalan, terutama ibu-ibu yang setiap harinya beraktifitas ekonomi di pasar Kota Ambon. Ibu-ibu dari Desa Negeri Lima, kata dia, harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi. “Katong mama-mama harus bayar oto dua kali. Yang pertama ke Larike 20 ribu, lalu ganti oto ke Ambon dari Larike 30 ribu,” kesal Faisal.

Anehnya, meski kesulitan sedang dihadapi masyarakat se-Kecamatan Leihitu Bupati Maluku Tengah Abua Tuasikal, kata dia, tidak pernah turun melakukan peninjauan. “Katong minta Gubernur juga turun. Lalu Bupati jang diam dengan persoalan Negeri Lima dan Seith. Bupati pung Tabaos jangan cuma berlaku di Seram saja, seng usah berlaku di jasirah lai,” sentil Soumena kesal.

Dia menjelaskan, warga Desa Negeri Lima saat ini tidak bisa mengambil arah terbalik ke arah Desa Hitu untuk menuju Kota Ambon. Konflik antar kelompok warga dengan Desa Seith yang belum ada solusi. (KTA)

Penulis:

Baca Juga