Sekilas Info

Fakta Baru Rekonstruksi Pembunuhan di Latu

REKONSTRUKSI PEMBUNUHAN: Para saksi (peran pengganti) memperagakan salah satu adegan saat rekonstruksi kasus pengeroyokan dan pembunuhan terhadap korban Syamsul Lussy di Lapangan Tenis Polda Maluku, kawasan Tantui, Ambon, Rabu (26/6). FOTO: RUZADY ADJIS/KABAR TIMUR

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Beberapa fakta terungkap langsung dari pengakuan para saksi saat proses rekonstruksi pembunuhan itu. Bhabinkamtibmas Latu terlibat. Benarkah?

Terungkap fakta baru kasus pembunuhan Syamsul Lussy di Hutan Taranu, Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB). Oknum Bhabinkamtibmas diduga terlibat. Sementara anak korban masih trauma.

Fakta itu terungkap dalam rekonstruksi alias reka ulang perkara pembunuhan tersebut yang digelar Polres SBB, dibantu Polda Maluku. Reka ulang berlangsung di seputaran lapangan tenis Polda Maluku, Tantui, Kota Ambon, Rabu (26/6).

Reka ulang peristiwa sadis ini dilakukan di Kota Ambon, karena alasan keamanan. Terdapat 13 adegan yang dipraktekan langsung oleh salah satu tersangka Jurnarnain Patty, dan para saksi hingga korban meregang nyawa.

Rekonstruksi dilakukan terbatas. Area reka ulang di pagari garis police line. Warga, termasuk jurnalis hanya bisa menyaksikan dari jauh jalannya proses pengulangan kasus penganiayaan yang menyebabkan korban meninggal dunia secara mengenaskan. Enam saksi dihadirkan dalam rekontruksi, termasuk Bhabinkamtibmas Latu, Awaludin Musa.

Awaludin kala itu berada di tempat kejadian perkara (TKP). Ia menggenggam senjata api. Pada tahapan adegan ke 12 tepat di jalan raya Lintas Seram, Hutan Latu, tampak Julkarnain Patty sebagai tersangka 1 tiba di lokasi kejadian.

Ia telah menggenggam senjata tajam (parang) dan langsung membacok korban. Empat pelaku lainnya yang hingga rekonstruksi kemarin masih buron, juga turut terlibat dalam aksi pembunuhan tersebut. Aksi mereka dilakukan oleh pemeran pengganti yaitu aparat kepolisian.

Beberapa fakta terungkap langsung dari pengakuan para saksi saat proses rekonstruksi pembunuhan itu. Diantaranya keberadaan Awaludin dengan senjata lengkap di TKP, tanpa melakukan tindakan penyelamatan.

Padahal, saat itu korban berada tepat di depannya. Kala itu, istri korban Fatma Sia telah meminta perlindungan dari Awaludin dengan cara bermohon dan menyentuh kakinya. Namun, permohonan istri korban, sama sekali tidak digubris untuk menyelamatkan korban, yang sudah bersimbah darah.

Adik kandung korban Rakiba Lussy, saksi lainnya, juga mengungkapkan dugaan keterlibatan Awaludin. Ia diduga menyuruh para pelaku untuk mempercepat aksi pembunuhan yang dilakukan para pelaku kepada korban.

“Awaludin saat itu ose (kamu) suruh pelaku supaya (agar) potong beta (saya) pung (punya) kakak capat la kamong lari,” teriak adik kandung korban, Rakiba Lussy, saat rekonstruksi berlangsung, yang didengar langsung oleh warga dari luar garis polisi.

Reka ulang sempat berjalan lambat. Selain karena faktor cuaca, juga karena saat proses rekonstruksi berlangsung, anak korban berusia 9 tahun tampak trauma ketika hendak dibawa ke laut. Hal yang sama juga dialami tiga keponakan korban yang dihadirkan dalam proses rekonstruksi kemarin.

Pada adegan ke-12 juga, Awaludin hanya terlihat diam menyaksikan para pelaku membacok korban hingga bersimbah darah dan terjatuh di atas aspal. Sementara jaraknya tidak lebih dari 1 meter dengan korban dan para pelaku. Rekonstruksi yang dimulai pukul 10.30 WIT sampai pukul 13.20 WIT, berjalan aman dan tertib.

Penasehat Hukum (PH) keluarga korban, Herlyn Akihary, menjelaskan, rekonstruksi dilakukan dari awal kejadian. Yaitu mulai dari Pantai ketika speadboat tenggelam, sampai ke jalan raya lintas Seram, dimana korban dibunuh.

“Dari adegan pertama sampai adegan ke 13 itu, memang ada beberapa adegan yang tidak sesuai apa yang terjadi sebenarnya di kejadian tanggal 4 Mei 2019. Makanya ada masukan yang diberikan oleh saksi untuk melengkapi adegan-adegan yang tadi,” katanya.

Seperti misalnya Bhabinkamtibmas Awaludin, kata dia, harusnya membawa senjata. Sebab, saat reka dirinya tidak menggunakan senjata. Kemudian saat terbaliknya speed, terdapat seseorang yang mengarahkan korban dan keluarganya dari pantai menuju jalan setapak. Namun tiba-tiba dalam perjalan itu, orang tersebut menghilang.

Ia mengaku, anak dan keponakan korban yang menjadi saksi, juga trauma ketika melihat sejumlah adegan rekonstruksi kemarin. “Mereka trauma ketika melakukan itu. Bahwa mereka bisa menjalani semua ini sampai selesai dengan baik. Walaupun saksi anak-anak, yang mungkin kecapean atau trauma, karena melihat kejadian itu langsung. Apalagi ketika mereka melihat tersangka itu hadir dalam reka itu,” jelasnya.

Selain itu, tambah dia, beberapa adegan yang tidak sesuai fakta BAP, seperti saat para korban turun dari speed dan berjalan menyusuri jalan setapak dari pantai ke jalan raya Lintas Seram. “Kan speed terbalik, itu ada salah satu saksi. Saksi itu membawa para korban ke jalan setapak, lalu menghilang,” terangnya.

Ditengah perjalanan menuju jalan raya, tiba-tiba saksi tersebut menghilang, yang secara bersamaan muncul sejumlah pemuda dan langsung memukul korban. “Dalam perjalan itulah, korban terus dipukul dan beberapa kali istri korban bermohon kepada para pelaku, namun tidak diabaikan hingga korban tiba di jalan aspal dan dibacok secara keji,” terangnya.

PH keluarga korban lainnya, Merlyn Polnaya, menambahkan, selain korban, saudara perempuan korban bernama Laily Lussy juga dianiaya. Laily dipukul hingga mengalami luka pada wajahya. Bajunya juga disobek hingga ke pakaian dalamnya.

“Dalam adegan itu, Laily juga mau dipotong. Tapi tidak jadi, dan mereka memukulnya hingga mengalami luka dan trauma. Saksi Kiba, adik kandung korban melihat langsung korban dipukul dan dipotong sampai terjatuh di atas aspal. Setelah itu semua pelaku menghilang,” jelasnya.

Merlyn menegaskan, pihaknya tetap mengawal proses ini sampai selesai, dan meminta kepolisian proaktif, agar para pelaku yang sudah menjadi DPO segera ditangkap. Sebab, dengan ditangkapnya para pelaku itu, proses mediasi untuk mendamaikan masyarakat akan jauh lebih mudah.

“Kita tidak inginkan hal-hal yang terjadi ke depan. Sebab itu, para pelaku ini harus segera ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kami berharap mereka (polisi) tetap lakukan koordinasi dengan baik, supaya tersangka-tersangka itu bisa ditangkap untuk menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan bersama,” tandasnya.

Kasat Reskrim Polres SBB AKP Mido Manik, yang memimpin jalannya rekonstruksi tersebut mengaku akan mengembangkan adanya dugaan keterlibatan Bhabinkamtibmas. “Untuk dugaan keterlibatan Bhabinkamtibmas kita akan kembangkan,” terangnya.

Dia mengaku, adegan yang dilakoni tersangka dan para saksi dalam rekontruksi kemarin sebanyak 13 gerakan inti yang diperagakan. “Reka dari awal sampai akhir berjalan aman dan lancar. Reka ulang untuk kepentingan penyidikan dan melengkapi P19 yang disampaikan jaksa,” tutup mantan Kapolsek Sirimau ini via telepon genggamnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga