Kerja “Abunawas” Penyebab Gedung IAIN Ambon Ambruk

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Talud yang mesti dibangun tiga level dalam bentuk teras sering, tapi yang dibangun hanya satu level. Selain itu, tak ada sapiteng dan drainase.

Ada tiga paket proyek yang digelontorkan langsung dari pusat, untuk pembangunan tiga gedung dilingkup IAIN Ambon. Ketiga proyek tersebut mulai dibangun tahun 2017, dengan total anggaran Rp 43 miliar. Dana jumbo pembangunan tiga gedung itu, diperoleh dari hasil lobi-lobi bersama badan anggaran di Jakarta.

Data yang dihimpun Kabar Timur menyebutkan, ketiga paket proyek tersebut dikerjakan oleh tiga kontraktor asal pulau Ambon.

Masing-masing untuk, paket proyek pembangunan Student Center Rp 13 miliar dikerjakan pengusaha yang akrab disapa Habib. Untuk paket pembangunan Laboratorium Mipa Rp 14 miliar, pengusahanya bernama Hengki JB dan paket Auditorium ditangani oleh pengusaha bernama Nendy As’yari dengan anggaran Rp 14 miliar.

Dari ketiga paket proyek itu, yang bermasalah adalah proyek pembangunan Auditorium IAIN Ambon, Rp 14 miliar, yang hingga saat ini belum dilakukan diserah terimakan. “Hingga musibah datang, proyek Auditorium belum diserahterimakan dari kontraktor ke pihak kampus,” ungkap salah satu petinggi IAIN Ambon, kepada Kabar Timur, Selasa, kemarin.

Informasi di Kampus IAIN Ambon menyebutkan, proyek auditorium ini dikerjakan asal-asalan dan bisa jadi penyebab utama hingga ambruknya sejumlah gedung yang ada termasuk gedung auditorium itu sendiri.

Pasalnya, Talud yang mesti dibangun tiga level dalam bentuk teras sering, yang dikerjakan hanya satu level dan dua level lainnya tidak dikerjakan. “Dua level yang tidak dibangun penyebab tanah bergerak turun. Kalau ketiga level talud itu dibangun pasti disekitar lokasi gedung itu tidak ada pergerakan tanah,” ungkapnya sambil menunjuk lokasi talud.

Selain itu, jelas dia, gedung proyek auditorium yang dibangun tidak ada sapiteng dan drainase, sehingga gerakan air pada saat musim hujan semakin “liar.” Apalagi, di lokasi pembangunan auditorium dulunya merupakan bekas aliran sungai kecil.

“Dari dua fakta ini bisa disimpulkan, kalau kontraktor hanya kejar untung besar. Fakta-fakta ini perlu diungkap agar aparat penegak hukum tidak “dinina bobokan” oleh masalah bencana semata. Padahal penyebabnya adalah kerja mereka (kontraktor) yang asal-asalan dan hanya kejar untung tapi, tidak berpikir keselamatan manusia,” bebernya.

Kabar lain menyebutkan, pelaksana proyek auditorium sudah “kabur” sebelum proyek tersebut rampung, dan dituntaskan oleh kontraktor yang menangani proyek student center. “Info yang kami dapat demikian, coba saja dikonfirmasi kepada kontraktor yang menuntaskanm proyek dimaksud,” katanya.

Bahkan, ceritanya, sejumlah pekerja proyek sempat melakukan mogok dan menjual sejumlah perangkat AC pada proyek itu, untuk ongkos pulang. Nendi sang kontraktor juga disebut-sebut memperoleh fee dari dua pekat proyek yang dikerjakan rekanannya.

Pasalnya, Nendi yang mendatangkan anggaran dari Jakarta melalui salah satu koleganya untuk tiga paket proyek dimaksud. Benarkah? Nendi, yang dikonfirmasi sehubungan dengan berita ini, hingga kini belum terhubung. (KT)

Penulis:

Baca Juga