Sekilas Info

Keluarga Korban Pembunuhan di Pasanea Tuntut Keadilan

ILUSTRASI

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Sebelum meninggal, almarhum Ridwan Abdullah Pattilouw, korban pencurian dan penganiayaan sempat di BAP. Ia mengaku melihat dua orang. Pengakuannya sinkron dengan kesaksian tersangka Raju Taher melalui video rekaman. Tapi, polisi hanya menetapkan satu tersangka tunggal dalam perkara tindak pidana tersebut.

Keluarga Ridwan Abdullah Pattilouw, korban pencurian dan penganiayaan hingga meregang nyawa, menuntut keadilan polisi. Mereka menilai berkas perkara yang telah dikirim ke Kejaksaan tidak sesuai dengan fakta yang terjadi. Pasalnya, dalam perkara itu hanya terdapat satu tersangka.

“Berkas yang dilimpahkan penyidik Polres ke Kejari Malteng itu masih kabur, karena dalam berkas tersebut hanya ada satu berkas milik RT (Raju Tamher) sebagai tersangka tunggal,” tegas Muslim Abdulla Pulu, Penasehat Hukum keluarga korban, kemarin.

Penyidik kepolisian diminta bekerja profesional, maksimal dan transparan untuk mengungkap dugaan keterlibatan pelaku lain. Sebab, diketahui, dalam kasus itu Raju Tamher tidak sendiri, tapi bersama tiga orang rekannya.

“Sebelum meninggal almarhum sempat diperiksa. Dalam pemeriksaan itu, ia mengaku melihat dua orang yang masuk ke dalam rumah. Ini pengakuan korban. Maka sangat miris, jika dalam BAP itu polisi hanya menetapkan satu tersangka,” terangnya.

Selain pengakuan almarhum sebelum menghembuskan nafas terakhir, tersangka juga sudah mengaku jika dirinya tidak sendiri melakukan aksi pencurian dan penganiayaan yang menyebabkan lelaki 70 tahun itu tutup usia.

Pengakuan tersangka terekam dalam video yang diperoleh keluarga korban setelah melakukan komunikasi secara persuasif dengan dirinya. Tapi fakta-fakta itu diduga sengaja dikaburkan penyidik dengan tidak menyertakannya dalam berkas perkara.

“Sangatlah miris, jika dalam kasus ini hanya ada satu tersangka. Padahal ada dugaan tiga pelaku lainnya yang juga ikut terlibat. Video itu sudah diserahkan kepada polisi. Memang video itu tidak bisa digunakan sebagai alat bukti. Tetapi bisa jadi rujukan jika ada pelaku lain,” tuturnya.

Muslim menambahkan, pengakuan penyidik yang beralasan kesulitan mencari saksi dan bukti sangat tidak masuk akal. Sebab, video yang kini sudah dikantongi penyidik sudah sangat jelas. “Tinggal bagaimana polisi mau atau tidak mengembangkan kasus ini dengan sungguh-sungguh. Sehingga keluarga korban tidak dibebankan lagi untuk mencari saksi dan dan bukti-bukti,” ujarnya.

Berbagai upaya telah ditempuh keluarga korban untuk mencari keadilan. Beragam cara untuk mendorong kasus ini ditangani dengan benar hingga dugaan keterlibatan pelaku lain juga diproses hukum sudah dilakukan.

“Keluarga korban sudah menghadap Polsek, Kanit Reskrim, Kanit PPA untuk meminta supaya proses hukum kasus ini dibuka transparan. Tetapi lagi-lagi sampai saat ini tidak ada kejelasan. Bahkan keluarga korban juga sangat sulit untuk mendapatkan informasi terkait penanganan kasus ini,” ujar dia.

Kepala Seksi Pidana Umum Kejari Malteng mengaku, berkas perkara yang dilimpahkan penyidik Polres Malteng tersebut hanya memuat satu berkas atas tersangka Raju Tamher. “Saya lupa tanggalnya. Tapi kurang lebih satu bulan atau dua bulan lalu,” ungkap Donald.

Tersangka RT dijerat melakukan pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan orang meninggal. “Berkasnya sudah kita teliti tapi belum memenuhi syarat materi maupun formil sehingga berkas itu kita kembalikan lagi ke Penyidik Polisi. Dan sampai saat ini belum dilimpahkan lagi,” kata Donald.

Kasat Reskrim Polres Maluku Tengah AKP Syahrul mengatakan, hanya satu tersangka tunggal dalam perkara itu. Ia juga membenarkan jika berkas perkara tersangka Raju Tamher dikembalikan untuk diperbaiki. “Kalau kekurangan (berkas perkara tersangka) tidak bisa saya sebutkan. Saat ini masih dalam proses melengkapi berkas,” ujarnya kepada Kabar Timur.

Diberitakan sebelumnya, Ida Fadila Pattilouw menjelaskan keterangan ayahnya sebelum menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Masohi, 22 Maret 2019. Awalnya, rumah milik ayah kandungnya ini disatroni maling diduga sejak malam 16 Maret lalu. Para pelaku berjumlah empat orang, salah satunya tersangka yang kini telah mendekam di penjara.

Saat itu, setelah mencuri, mereka mengetuk pintu kamar ayahnya, korban penganiayaan. Diketuk, ayah korban keluar sambil menggenggam senjata tajam (parang). Sebab, rumah yang sekaligus dijadikan toko penjualan sembako ini kerap menjadi sasaran pencurian orang tak dikenal.

Berada di depan pintu rumah, korban melihat para pemuda misterius. Ia kemudian menanyakan maksud dan tujuan para pelaku. Tapi secara tiba-tiba, korban diserang dari samping oleh tersangka Raju Tamher, hingga terjatuh.

Melihat korban terjatuh, tersangka kemudian mengambil parang milik korban dan melakukan pembacokan beberapa kali. Akibatnya, korban mengalami luka potong pada pelipis kanan, jari tengah dan jari manis tangan kanannya putus. Sementara pelaku lainnya yang diduga bernama Ridwan Nurlete mengambil gunting di dalam toko kemudian menusuk dada korban pada 17 Maret, dini hari. Korban saat itu ditemukan bersimbah darah oleh istrinya Nur Gamar Tuhulele. “Saat itu ayah saya memanggil ibu saya. Ibu saya lalu berteriak. Ayah saya lalu dilarikan ke Rumah Sakit,” kata Fadila.

Sebelum menghembuskan nafas terakhir di ruang inap Dahlia RSUD Masohi, Kanit Serse Polsek Seram Utara Barat, Bripka Charis Wattimuri datang mengambil keterangan. Saat itu ia meminta pihak keluarga semuanya keluar dari dalam ruangan, kecuali istri korban.

Mirisnya, saat mengambil keterangan, Charis mendesak korban untuk mengakui jika pelaku penganiayaan hanya satu orang, yaitu tersangka. “Saat itu ibu saya mengatakan kalau bapak saya ini orang yang rajin shalat. Sehingga beliau tidak mungkin berbohong. Saat itu ayah saya mengaku jika dirinya dipotong dan ditusuk oleh dua orang,” jelasnya. (CR1)

Penulis:

Baca Juga