Sekilas Info

Penyiram Wajah Novel Baswedan Diduga Warga Ambon

Novel Baswedan

KABARTIMURNEWS.COM, AMBON - Pelaku penyiraman air raksa ke wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi, Novel Baswedan diduga warga Ambon. Ini dibuktikan dengan kedatangan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) di Kota Ambon. Tiga hari sudah, TGPF berada di Ambon untuk mengungkap pelaku dibalik kasus tersebut.

TGPF dibentuk Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, yang terdiri dari Polri, KPK, masyarakat dan sejumlah pakar.

Di Ambon, 7 anggota TGPF melakukan pemeriksaan terhadap lebih dari satu orang. Para saksi yang diperiksa diduga mengetahui insiden penyiraman air keras terhadap penyidik senior KPK itu.

Nurcholis, anggota TGPF mengaku kedatangan mereka ke Kota Ambon untuk melaksanakan uji alibi terkait kasus Novel Baswedan. Kedatangan TGPF merupakan hasil pengembangan pemeriksaan sejumlah saksi di Kota Malang dan Bekasi.

Mantan Ketua Komnas HAM RI ini menjelaskan, pemeriksaan sejumlah saksi di Malang dan Bekasi merupakan tindaklanjut dari hasil penyelidikan yang telah dilakukan tim terdahulu.

“Tim terdahulu menyatakan bahwa orang-orang yang diduga terkait dengan peristiwa Novel Baswedan, tidak berada di tempat. Artinya tidak berada di rumah saudara Novel Baswedan. Kemudian kita dalami,” kata Nurcholis di Bandara Pattimura saat akan kembali ke Jakarta, Rabu (10/4).

Dari penyelidikan tim sebelumnya, TPGF bergerak kembali menuju Malang dan Bekasi. Dari hasil pemeriksaan, para saksi mengaku saat kejadian tidak berada di tempat kejadian perkara (TKP), atau di rumah Novel Baswedan.

Selain hasil tersebut, TGPF juga menemukan fakta baru dan akhirnya tim menuju Kota Ambon untuk melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. “Ini merupakan hasil pengembangan sejumlah saksi di Malang dan Bekasi, kemudian mengarahkan kami ke sini (Ambon),” jelasnya.

Selama pemeriksaan saksi di Ambon, kata Nurcholis, belum mengarah ke tersangka. “Pelaku sampai sekarang kita belum bisa tetapkan. Tetapi kita masih mendalami keterangan orang-orang yang diduga mengetahui peristiwa ini. Kita masih mengidentifikasi saksi,” ujarnya.

Ditanya identitas saksi yang diperiksa di Ambon, Nurcholis menolak buka-bukaan. Alasannya, hal itu sudah masuk ke materi pemeriksaan, sehingga TGPF belum bisa menyampaikannya ke publik.

“(Pelaku tinggal di daerah mana) kita belum bisa buka. Namun saksi yang diperiksa di Ambon lebih dari satu. Sampai saat ini puluhan orang saksi sudah kita periksa,” terangnya.

Ia menjelaskan, kasus penyiraman air keras ke wajah Novel Baswedan sebelumnya ditangani penyidik Polri selama hampir dua tahun. Selanjutnya terdapat permintaan untuk membentuk tim gabungan dibawah Presiden. Tapi Komnas HAM juga melakukan investigasi. Hasilnya, Komnas HAM melahirkan rekomendasi, meminta Kapolri membentuk tim gabungan menyelidiki kasus Novel Baswedan.

“Sekarang yang bergerak adalah tim yang dibentuk oleh Kapolri. Di tim ini ada tim Pakar namanya. Termasuk saya Nurcholis, mbak Pungki, pak Amsulian, pak Endardi, kemudian ada Kiki, Egakasim sama profesor Isa. Jadi ada 7 orang,” sebutnya.

Kedatangan TGPF di Ambon di back up oleh Polres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease. “Secara teknis Polri yang melakukan penyelidikan dan penyidikan. Dan kami mengawal,” jelasnya.

Nurcholis meminta dukungan dan partisipasi masyarakat. Warga yang mengetahui informasi terkait kasus ini, diharapkan bisa memberitahukan kepada TGPF. “Kalau ada saksi atau yang mengetahui keberadaan pelaku, tentu kami dengan senang hati, membuka diri menerima laporan, informasi itu. Karena tim sangat berkeinginan agar kasus ini bisa terungkap,” pintanya.

Anggota TGPF Pungki Indarti, menyampaikan kasus ini untuk sementara belum bisa disampaikan kepada publik. Jika hasil kerja tim telah rampung baru akan dipublikasikan. “Kami bekerja keras, dan sungguh-sungguh. Jadi tidak benar kalau ada yang mengatakan jika tim tidak bekerja. Tim bekerja secara independen,” ujar yang Komisioner Kompolnas ini. (CR1)

Penulis:

Baca Juga