Sekilas Info

BPS Biang Masalah Gunung Botak

Istimewa

KABARTIMURNEWS.COM,AMBON - Sebagian besar lahan di kaki Gunung Botak, saat ini dikuasai PT Buana Pratama Sejahtera (BPS). Mereka tak sekedar menormalisasi sungai Anahoni, tapi melakukan pengolahan emas di kawasan itu.

Memasuki areal PT BPS di kawasan Gunung Botak, tak mudah. Setidaknya ada tiga pos besar  yang dipasang pihak perusahaan. Masing-masing pos dijaga puluhan orang berpakaian preman. Para penjaga pos menyeleksi setiap orang yang masuk maupun keluar areal kerja PT BPS.

Sejumlah lahan sagu tampak mengering di kawasan PT BPS. Situasi lahan kerja PT BPS yang luas dengan sejumlah kawasan yang telah mengering menjadi bukti pada lahan kawasan kerja PT BPS merkuri dan sianida digunakan.

“Lahan sagu yang mengering di kawasan PT BPS itu bukti, ada merkuri dan sianida disitu,” ungkap salah satu aktivis lingkungan, sambil menunjuk gambar yang diambil bersamaan kunjungan Kapolda Maluku di kawasan itu, pekan kemarin.

Dia mengaku,  kalau kerja PT BPS disesuaikan dengan izin untuk menormalisasikan sungai anahoni, lokasi atau areal kerja mereka hanya berada pada kawasan aliran sungai saja.  “Tapi faktanya hampir seluruh kawasan Gunung Botak, saat ini sebagian besar telah dikuasai PT BPS,” sebutnya.

Semua pihak, kata dia, harus jujur menyikapi masalah Gunung Botak. “Sebetulnya,  biang masalah bahan-bahan kimia di Gunung Botak, ada pada PT BPS. Itu kalau kita semua mau jujur. Saya tegaskan banyak pihak-pihak yang “makan” dari PT BPS. Sehingga metode menyelesaikan masalah di Gunung Botak bukan sekedar pembetulan ijin dan menurunkan penambang ilegal semata,” bebernya.

Solusi menyelesaikan masalah Gunung Botak, saat ini adalah harus ada ketegasan Pemerintah Pusat, Pemprov Maluku, Pemda Kabupaten juga TNI-Polri.

“Solusinya bukan sekedar membenahi izin perusahaan pertambangan seperti PT BPS yang beroperasi disana. Tapi, menghentikan semua kegiatan disana secara parmanen. Saya katakan tadi, PT BPS penyumbang terbesar kerusakan lingkungan di daerah itu,” paparnya.

Lihat saja, tambah dia, berapa besar areal hutan sagu yang masuk wilayah kerja PT BPS yang sudah mengering. Pertanyaan, apa yang menyebabkan hutan-hutan sagu itu mengering?  “Kan sudah pasti itu akibat bahan kimia, untuk mengelola emas. Limbahnya pengelolaan itu mengalir ke hutan itu. Faktanya demikian.  Apakah kita semua bisa jujur soal itu,” tanya dia.

SEMOGA YANG TERAKHIR

TerpisahAnggota DPRD Maluku, Dapil Pulau Buru, Ikram Umasugi menegaskan, penertiban penambang dan perusahan yang beroperasi di Gunung Botak harus bisa dilakukan tegas tanpa pandang bulu. Penertiban parmanen harus dilakukan mengantisipasi bahaya bahan-bahan kimia yang mengancam kehidupan masyarakat disana.

“Jangan lagi seperti pada tahun-tahunsebelumnya. Penertiban dilakukan dua kali, faktanya masih ada penambang dan perusahan yang terus beroperasi di kawasan itu. Perlu ada tindakan tegas Gunung Botak ditutup parmanen dari segala aktivitas,” kata Umasugi kepada wartawan di Ambon, kemarin.

Menurut dia, Pemkab Buru dan Pemprov harus berkaca dari pengalaman sebelumnya. Artinya, ketika penertiban pertama dan kedua gagal, yang ketiga kali ini harus benar-benar terlaksana sesuai kesepakatan.

“Pernah ada penertiban tapi hasilnya sama saja. Seminggu penertiban, besoknya sudah ada penambang dan perusahaan beroperasi. Ini harus jadi pelajaran. Jangan lagi penertiban ketiga kali dan hasil seperti sebelumnya. Uang daerah sudah terkuras berapa banyak untuk Gunung Botak, sementara perusahaan terus mengeruk keuntungan,” tandasnya.

Solusi mengatasi tuntas masalah GB, kata dia, semua pemangku kepentingan daerah terlebih dahulu harus menanggalkan kepentingan-kepentingan pribadi. Artinya, harus ada niat baik bersama sehingga pekerjaan bisa berjalan baik. Sebab, ketika masih ada pemikiran untuk mendapatkan keuntungan dari GB, dengan begitu persoalan di GB akan sulit ditemukan solusinya.

“Siapkan niat baik dalu. Kalau mau bekerja ini dengan hati ikhlas maka saya yakin hasilnya pasti baik. Tapi ketika ada yang masih memikirkan keuntungan percaya atau tidak, persoalan ini susah untuk mendapatkan solusinya,” katanya. (Mg3)

Penulis:

Baca Juga