KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Jusuf Kalla mengingatkan masyarakat Maluku agar tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan proyek strategis nasional Lapangan Gas Abadi Blok Masela.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku melibatkan Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) untuk memberikan masukan dalam merumuskan strategi pembangunan ekonomi daerah dalam memperkuat investasi, menciptakan lapangan kerja, dan mengoptimalkan potensi sumber daya alam.
Wakil Gubernur (Wagub) Maluku Abdullah Vanath di Ambon, Senin, mengatakan keterlibatan Jusuf Kalla dalam Maluku Business Forum 2026 menjadi kesempatan bagi pemerintah daerah untuk memperoleh pandangan dan pengalaman praktis dalam mengatasi berbagai persoalan ekonomi di Maluku.
“Meskipun pertumbuhan ekonomi Maluku menunjukkan tren peningkatan, daerah tersebut masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, terutama keterbatasan investasi dan belum optimalnya perputaran uang di daerah,” kata Vananth.
Ia menjelaskan pertumbuhan ekonomi Maluku pada 2025 tercatat sebesar 4,56 persen, kemudian meningkat menjadi 5,16 persen pada triwulan I 2026 dan 5,31 persen pada triwulan II 2026.
Namun, pertumbuhan tersebut masih lebih banyak ditopang belanja pemerintah, sedangkan kontribusi investasi dan sektor swasta belum berkembang secara optimal.
“Problem di Maluku itu kurangnya investasi, sehingga lapangan kerja menjadi tidak maksimal. Kalaupun ada, lebih banyak bersifat informal. Lapangan kerja formal masih sangat terbatas,” kata Vanath.
Di samping itu Wagub menyebut produksi padi di kawasan transmigrasi baru mencapai sekitar 30 persen, sementara sebagian besar kebutuhan pangan Maluku masih didatangkan dari Pulau Jawa.
Sektor pertanian dan perkebunan juga menghadapi tantangan akibat fenomena El Niño yang memicu kekeringan dan kebakaran di sejumlah wilayah sehingga berdampak terhadap lahan pertanian serta tanaman cengkeh dan pala milik masyarakat.
Karena itu, ia berharap pengalaman Jusuf Kalla dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan yang mampu memperkuat investasi, meningkatkan produktivitas ekonomi lokal, serta memperluas kesempatan kerja.
Sementara itu, Jusuf Kalla mengingatkan masyarakat Maluku agar tidak hanya menjadi penonton dalam pelaksanaan proyek strategis nasional Lapangan Gas Abadi Blok Masela yang memiliki nilai investasi sekitar 20 miliar dolar AS atau setara Rp338 triliun.
Menurut JK, proyek yang diproyeksikan mulai berproduksi pada 2030 tersebut berpotensi membuka peluang kerja bagi sekitar 12.000 tenaga kerja, terutama pada tahap konstruksi.
Namun, peluang itu hanya dapat dimanfaatkan apabila pemerintah daerah mulai menyiapkan sumber daya manusia dengan kompetensi sesuai kebutuhan industri sejak sekarang.
“Mulai sekarang siapkan, kirim orang bekerja, kirim ke sekolah, bukan hanya di Indonesia, ke luar negeri. Magangkan di Tangguh, magangkan di Kalimantan, magangkan di Laut Jawa, agar tenaga itu bermanfaat,” ujar JK.
Ia menekankan pentingnya menyiapkan tenaga kerja terampil, termasuk insinyur dan tenaga teknis dengan keahlian khusus untuk mendukung operasional proyek tersebut.
Selain kesiapan tenaga kerja, JK juga mendorong Maluku memikirkan pengembangan industri turunan agar pemanfaatan gas dari Blok Masela tidak berhenti sebagai komoditas energi.
Gas tersebut berpeluang dimanfaatkan untuk pembangkit listrik, industri pupuk, dan petrokimia sehingga dapat menciptakan nilai tambah serta memperluas aktivitas ekonomi daerah.
Menurut dia, keberadaan proyek berskala besar juga harus mampu menggerakkan usaha lokal melalui kebutuhan transportasi, logistik, jasa konstruksi, akomodasi, restoran, dan berbagai layanan pendukung industri.
Dengan demikian, manfaat investasi Blok Masela tidak hanya dinikmati perusahaan besar, tetapi juga membuka peluang bagi pengusaha lokal dan masyarakat Maluku. (AN/KT)
























