KABARTIMURNEWS.COM.JAKARTA-Kepulauan Banda bukan sekadar gugusan pulau di ujung timur Indonesia. Ia adalah saksi bisu sejarah dunia, laboratorium budaya, sekaligus kepingan surga dengan keindahan bawah laut yang mendunia.
Saking magisnya, tokoh bangsa Sutan Sjahrir pernah berpesan penuh kekaguman: “Jangan mati sebelum ke Banda.” Pesan ini mencerminkan betapa mendalamnya keindahan dan keunikan yang ditawarkan oleh pulau-pulau Banda, yang dikenal dengan kekayaan alam dan sejarahnya yang kaya.
Namun, di balik pesona luar biasa itu, Banda menyimpan tantangan klasik daerah kepulauan: keterbatasan kapasitas fiskal.
Keterbatasan ini dihadapi oleh banyak daerah terpencil, yang sering kali berjuang untuk mendapatkan akses terhadap sumber daya dan pembangunan yang memadai.
Selain itu, isu transportasi dan infrastruktur juga menjadi tantangan tersendiri, mengingat lokasi Banda yang terpencil dan sulit dijangkau.
Meski demikian, semangat masyarakat setempat untuk menjaga dan melestarikan budaya serta lingkungan mereka tetap menjadi cahaya harapan di tengah rintangan yang ada.

Anggaran daerah (APBD) saja tidak akan pernah cukup untuk merawat warisan sejarah sekaligus mendongkrak kesejahteraan warga, Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir, datang membawa solusi taktis.
Di hadapan para penguji dan sesama kepala daerah pada tahapan akhir Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026 di Aula BPSDM Kemendagri, Jakarta, Kamis, 23 July 2026, Zulkarnain sapaan akrab Bang Ozan memaparkan sebuah peta jalan strategis bernama “Banda Green: Nafas Budaya, Jejak Sejarah, Pesona Alam.”
Dalam pemaparannya yang didampingi oleh Kepala Bapplitbangda dan Kepala Dinas PUPR Kabupaten Maluku Tengah, Zulkarnain menegaskan Banda Neira memiliki keunikan yang langka—bahkan mungkin satu-satunya di dunia. Wilayah ini memegang tiga nilai keunggulan sekaligus: budaya, sejarah, dan keindahan alam, kata dia.
Melalui Banda Green, Pemkab Maluku Tengah ingin melebur seluruh potensi tersebut ke dalam satu kerangka pembangunan berkelanjutan (sustainable development) untuk periode 2027–2029
. Fokusnya mencakup pembangunan infrastruktur hijau, pelestarian cagar budaya, pariwisata berkualitas, perlindungan lingkungan, hingga pemberdayaan masyarakat.
Lantas, bagaimana cara mendanai mimpi besar ini di tengah keterbatasan kantong daerah? Di sinilah letak daya tarik strategi yang dirumuskan Zulkarnain, yang tidak hanya mempertimbangkan aspek ekonomi, tetapi juga melibatkan partisipasi aktif dari masyarakat.
Ia berpandangan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan komunitas lokal sangat penting untuk menciptakan sumber pendanaan yang berkelanjutan.
Dengan menggandeng berbagai pihak untuk bersama-sama merencanakan dan mengimplementasikan proyek yang inovatif, diharapkan solusi kreatif dapat muncul dari kekuatan sinergi ini.
Hal ini memungkinkan tidak hanya pencapaian tujuan finansial, tetapi juga memperkuat rasa memiliki dan tanggung jawab masyarakat terhadap kemajuan daerah.

Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Maluku Tengah, Rahmat, menjelaskan sang bupati mengambil peran layaknya seorang dirigen orkestra.
“Bupati menyadari kapasitas fiskal Malteng masih sangat terbatas. Karena itu, implementasi Banda Green dirancang melalui pendekatan kolaboratif dan multipendanaan. Bupati bertindak sebagai dirigen yang mengorkestrasi seluruh sumber pembiayaan agar bergerak selaras menuju satu tujuan yang sama,” ungkap Rahmat.
Alih-alih bergantung penuh pada APBD kabupaten, strategi Banda Green merajut kolaborasi lintas sektor.
Pembiayaan akan digalang secara keroyokan dan terintegrasi, mulai dari APBN, APBD Provinsi Maluku, APBD Maluku Tengah, hingga skema kemitraan strategis dengan kementerian/lembaga, korporasi (dunia usaha), hingga dunia perguruan tinggi.
Bagi Pemkab Malteng, Banda Green bukan sekadar dokumen perencanaan atau proyek infrastruktur semata. Ini adalah bentuk ikhtiar menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi modern dan napas sejarah masa lalu.
Dengan pendekatan inklusif dan gotong royong pembiayaan ini, Banda diharapkan tidak hanya sukses bertransformasi menjadi destinasi wisata berkelas dunia, tetapi juga tetap lestari sebagai rumah yang nyaman bagi generasi masa depan.
Sebab, merawat Banda berarti merawat sebagian dari jiwa sejarah Indonesia itu sendiri. (KTS)

























