KABARTIMURNEWS.COM.SAUMLAKI- Hambatan di atas tanah Tanimbar akhirnya terurai dengan elegan. Masa depan megaproyek gas raksasa, Blok Masela, kini resmi memasuki babak baru yang progresif.
Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar sukses memfasilitasi tuntasnya pembayaran lahan seluas 5,5 hektare di Desa Lermatang, Kecamatan Tanimbar Selatan.
Selesainya pembayaran ini menjadi “lampu hijau” yang paling dinanti. Di satu sisi, langkah ini menandai kesiapan total area yang akan digunakan untuk prosesi groundbreaking (peletakan batu pertama) Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut.
Di sisi lain, proses ini menjadi contoh manis pembebasan lahan yang berjalan adem, transparan, dan tanpa riak konflik.
Sebanyak 23 keluarga pemilik lahan di Desa Lermatang kini bisa bernapas lega.
Hak atas tanah mereka resmi direalisasikan oleh PT INPEX Masela melalui mekanisme transfer langsung ke rekening masing-masing penerima.
Sistem ini sengaja dipilih guna menutup rapat celah pungutan liar atau potongan birokrasi, sehingga hak warga diterima utuh.
Bukti kuitansi pembayaran diserahkan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Brampi Moriolkossu, yang juga menjabat sebagai Ketua Satuan Tugas Penanganan Dampak Sosial Kemasyarakatan (PDSK) Tanimbar.
Prosesi ini disaksikan langsung oleh Satgas PDSK Provinsi Maluku dan manajemen INPEX Masela Cabang Saumlaki.
“Pemkab Kepulauan Tanimbar bersama Pemprov Maluku dan PT INPEX Masela terus berupaya memastikan seluruh tahapan penyelesaian lahan berjalan baik, transparan, dan mengedepankan hak-hak masyarakat,” ujar Brampi, Rabu, 8 July 2026.
Brampi menegaskan, tuntasnya koordinasi intensif ini secara otomatis membuat lahan seluas 5,5 hektare tersebut siap 100 persen untuk digunakan pada tahapan groundbreaking.
Dukungan tulus dari 23 keluarga di Desa Lermatang ini diakui pemerintah sebagai modal sosial yang sangat mahal.
Di tengah sensitifnya isu lahan adat di Maluku, keikhlasan warga menjadi bahan bakar utama agar investasi strategis nasional ini tidak tersendat.
Pemerintah daerah menyampaikan apresiasi kepada 23 keluarga pemilik lahan yang telah mendukung pembangunan proyek nasional ini.
“Dukungan masyarakat menjadi modal penting agar investasi strategis dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat bagi daerah,” tambah Brampi.
Sebagai informasi, Blok Masela merupakan salah satu proyek migas paling ambisius di Indonesia yang dikembangkan di Lapangan Abadi, Laut Arafura—sekitar 160 kilometer lepas pantai Pulau Yamdena. Lapangan raksasa ini menyimpan estimasi cadangan gas fantastis sebesar 6,97 triliun kaki kubik (TCF).
Dengan skema kontrak yang berlaku hingga tahun 2055, megaproyek ini diproyeksikan mampu memproduksi 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik standar gas per hari (MMSCFD), serta 35.000 barel kondensat per hari.
Tidak hanya menyuplai energi nasional, masa konstruksi Blok Masela juga diproyeksikan bakal membuka lapangan kerja baru bagi 10.000 tenaga kerja.
Lewat pembayaran lahan yang bersih dan transparan ini, karpet merah menuju kemandirian energi nasional dari beranda depan Nusantara resmi terbentang. (AN/KT)


























