KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Maluku sebagai salah satu lumbung ikan nasional harus memastikan produk yang keluar maupun masuk dari wilayahnya bebas dari patogen berbahaya.
Dunia akuakultur modern tidak lagi hanya bicara soal memberi makan ikan dan membersihkan kolam. Di era sekarang, ancaman virus tak kasat mata bisa menghancurkan industri perikanan dalam semalam.
Menyadari tantangan besar tersebut, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Maluku membuka pintu laboratorium canggih mereka untuk menelurkan calon-calon “detektif” kesehatan ikan masa depan.
Melalui sinergi strategis, BKHIT Maluku memfasilitasi praktikum mata kuliah Bioteknologi Akuakultur bagi mahasiswa Budidaya Perairan Universitas Pattimura (Unpatti).
Bukan sekadar kunjungan biasa, para mahasiswa ini diterjunkan langsung untuk menguasai teknologi diagnostik molekuler—sebuah keahlian tingkat tinggi yang sangat dicari di industri perikanan nasional.
Kepala BKHIT Maluku, Willy Indra Yunan, mengungkapkan kolaborasi dengan institusi pendidikan seperti Unpatti adalah langkah untuk menjembatani jurang antara teori akademik dan realitas industri.
“Melalui kegiatan ini, mahasiswa tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana proses pengujian dilakukan di laboratorium karantina. Kompetensi seperti ini penting untuk mendukung pengelolaan kesehatan ikan dan pengembangan sektor akuakultur yang berkelanjutan,” ujar Willy di Ambon.
Mengangkat tema “Demonstrasi PCR untuk Deteksi Patogen Virus”, para mahasiswa diajak berkenalan dengan Polymerase Chain Reaction (PCR).
Jika selama ini masyarakat awam hanya tahu PCR untuk tes Covid-19 pada manusia, di sini mahasiswa belajar PCR adalah senjata utama untuk mendeteksi virus berbahaya pada komoditas perikanan sebelum menyebar dan menjadi wabah.
Tidak tanggung-tanggung, para mahasiswa terlibat aktif dalam seluruh rangkaian simulasi pemeriksaan layaknya saintis profesional.
Dipandu oleh tim ahli dari laboratorium BKHIT Maluku dan dosen pendamping dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpatti, mereka menjajal tahapan demi tahapan yang presisi:
Persiapan Sampel: Memilih dan menyiapkan bagian komoditas yang akan diuji. Ekstraksi Materi Genetik: Mengisolasi DNA atau RNA dari virus target. Amplifikasi: Menggandakan untaian genetik menggunakan mesin PCR. Dan, Interpretasi Hasil: Membaca data untuk menentukan apakah komoditas tersebut sehat atau terinfeksi.
Selain mengoperasikan alat, mahasiswa juga dijejali pemahaman ketat soal sistem biosekuriti. Mereka belajar bagaimana prosedur penanganan sampel yang benar agar tidak terjadi kontaminasi silang—sebuah standar operasional prosedur (SOP) mutlak dalam dunia perkarantinaan.
Willy Indra Yunan menjelaskan, kemampuan melakukan deteksi dini (early warning) terhadap penyakit ikan bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar utama dalam menjaga kelancaran lalu lintas perdagangan perikanan.
Maluku sebagai salah satu lumbung ikan nasional harus memastikan produk yang keluar maupun masuk dari wilayahnya bebas dari patogen berbahaya.
“Penerapan teknologi molekuler seperti PCR telah menjadi bagian dari sistem pengawasan kesehatan ikan yang mendukung kelancaran lalu lintas komoditas perikanan, sekaligus menjaga kualitas produk yang diperdagangkan,” jelas Willy.
Ke depan, Willy berharap kolaborasi akademik dan riset dengan Universitas Pattimura ini terus menggelinding bak bola salju.
Targetnya jelas: melahirkan lulusan siap kerja yang tidak gagap teknologi, menguasai bioteknologi akuakultur, dan siap menjadi benteng pertahanan bagi kedaulatan hayati serta kemajuan sektor perikanan Indonesia. (AN/KT)


























