KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Di bawah terik matahari yang menyengat Dermaga R.E. Martadinata, puluhan kapal kayu nelayan bersandar rapi.
Di sana, wajah-wajah legam yang sehari-hari akrab dengan asinnya ombak Teluk Tual dan Maluku Tenggara tampak berkumpul.
Hari itu, mereka tidak sedang bersiap menebar jala, melainkan mengantre untuk satu hal yang sering mereka lupakan demi mencari nafkah: kesehatan diri.
Sebanyak 100 nelayan setempat mendapat layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Aksi humanis ini diinisiasi oleh Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Tual yang berkolaborasi dengan KRI Panah-626, di sela-sela mengawal ketatnya Operasi Segara Purla Satgas TNI Papua 2026.
Bagi para nelayan yang saban hari bertaruh nyawa di laut lepas, kehadiran para “penjaga samudra” dengan stetoskop dan tensimeter ini menjadi oase tersendiri.
Di wilayah perairan Maluku yang strategis ini, kehadiran TNI Angkatan Laut memang bukan cuma soal patroli bersenjata atau penegakan hukum.
Ada misi menyentuh hati masyarakat maritim yang dibungkus dalam program nasional bertajuk “Aku Cinta Laut 2026.”
Komandan Lanal Tual Kodaeral IX, Kolonel Laut (P) Andik Putro Wibowo, mengungkapkan wilayahnya merupakan beranda depan pertahanan Indonesia.
Oleh karena itu, kehadiran negara di wilayah operasi harus membawa manfaat yang instan dan nyata bagi warga pesisir.
“Kami berkomitmen bahwa kehadiran TNI AL di wilayah operasi tidak hanya untuk menegakkan hukum dan menjaga kedaulatan, tetapi juga membawa manfaat nyata bagi masyarakat maritim,” ujar Kolonel Andik.
Pemeriksaan kesehatan ini, menurut Andik, adalah bentuk pendekatan humanis.
Nelayan bukanlah objek, melainkan subjek penting yang kesehatannya harus dijaga agar tetap tangguh melaut.
Mengapa nelayan begitu spesial di mata TNI AL? Jawabannya sederhana: mereka adalah garda terdepan di zona biru Nusantara.
Ketika radar tidak mampu menangkap riak mencurigakan di batas cakrawala, mata dan telinga para nelayan Kei-lah yang menjadi informan pertama bagi kedaulatan negara.
“Nelayan tidak hanya menjadi pelaku utama sektor perikanan, tetapi juga mitra strategis TNI AL dalam menjaga keamanan laut dan kelestarian ekosistem maritim,” tambah Andik.
Sinergi yang erat inilah yang ingin diperkuat lewat program “Aku Cinta Laut 2026.” TNI AL ingin memastikan bahwa di balik tubuh-tubuh kekar yang menarik jala, ada fisik yang sehat dan terlindungi.
Aksi kemanusiaan di dermaga Tual hari itu dipimpin langsung oleh Asisten Logistik Gugus Tempur Laut (Aslog Guspurla) Koarmada III Kolonel Laut (T) Sulis Yudho Prasetyo, didampingi Paban Ops Guspurla Koarmada III Letkol Laut (P) Agus Solikhin, serta Komandan KRI Panah-626 Letkol Laut (P) Yudha Himawan.
Kehadiran para perwira menengah ini di tengah-tengah masyarakat pesisir mempertegas satu pesan: “Tidak ada sekat antara prajurit dan rakyat.”
Saat mentari mulai bergeser ke barat, para nelayan pulang kembali ke kapal mereka, membawa senyum dan sekantong vitamin.
Melalui jabat tangan yang erat antara prajurit berbaju loreng layar dan nelayan bertangan kasar, sepotong asa terwujud di ujung timur Indonesia—sebuah harapan tentang masyarakat maritim yang tidak hanya sejahtera, tetapi juga tangguh menjaga laut ibu pertiwi.(AN/KT)


























