KABARTIMURNEWS.COM.NAMLEA- Janji manis pemerintah untuk menjadikan rakyat lokal sebagai “raja” di tambang emas Gunung Botak kini dipertanyakan. Belum kering peluh petugas usai penertiban besar-besaran lahan penambangan emas tanpa izin (PETI) Desember lalu, publik dikejutkan dengan kehadiran enam Warga Negara Asing (WNA) asal Cina yang melenggang bebas di kawasan Desa Dava, Sabtu, 3 Januari 2026.
Kehadiran para “tamu asing” ini memicu alarm kecurigaan: Apakah penertiban kemarin hanyalah cara untuk mengusir rakyat kecil demi memberi karpet merah bagi pemodal asing?
Berdasarkan data Tim Pengawasan Orang Asing (PORA) Kabupaten Buru, ke-enam WNA tersebut tercatat sebagai punggawa PT Harmoni Alam, dengan jabatan mulai dari teknisi lapangan, manajer pemasaran, hingga manajer lapangan.
Namun, yang paling menarik perhatian adalah sosok pendamping mereka: Helena Ismail. Helena bukan orang sembarangan. Ia adalah pemegang saham sekaligus pengurus PT Wanshuai Indo Mining (WIM), yang selama ini dikenal sebagai “ibu angkat” sejumlah koperasi di Gunung Botak.
Skandal ini semakin diperparah dengan pengakuan mengejutkan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Buru. Meski Tim PORA sudah mengantongi data identitas para WNA, Dinas Koperasi justru mengaku buta sama sekali.
“Kami sampai saat ini belum mendapatkan informasi resmi tentang kehadiran sejumlah WNA itu, apalagi sampai beraktivitas di kawasan Gunung Botak,” ujar Kepala Dinas Koperasi Kabupaten Buru, Baharudin Besan, dengan nada heran, Senin, 5 Januari 2026.
Pertanyaannya: Bagaimana mungkin rombongan WNA bisa masuk ke kawasan yang statusnya sedang dalam pengawasan ketat dan sterilisasi pasca-penertiban tanpa diketahui otoritas daerah?
Hanya sebulan lalu, 1 Desember 2025, Asisten Wakil Gubernur Maluku, Dr. Djalaluddin Salampessy, dengan lantang menyatakan bahwa penataan Gunung Botak bertujuan untuk menyiapkan masyarakat lokal agar memiliki kompetensi dan menjadi pelaku utama.
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Saat masyarakat diminta bersabar dan “memperkaya kemampuan”, para teknisi dan manajer asal Cina justru sudah lebih dulu “menginjakkan kaki” di lokasi.
Sebagaimana diketahui, ke-enam WNA asal China di Gunung Botak, adalah: Tan Weizhong (Teknisi), Li Jianfeng (Teknisi), Wu Yuesheng (Field Manager), Wu Jing (Marketing Manager), Peng Ke (Staf Teknis), dan Cai Min (Staf Teknis).
Kehadiran PT Wanshuai Indo Mining (WIM) dan PT Harmoni Alam di tengah proses transisi ini memicu spekulasi adanya “operasi senyap” korporasi untuk mengunci konsesi lahan sebelum regulasi resmi untuk rakyat diterbitkan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi mengapa para WNA ini diizinkan masuk ke zona merah pasca-penertiban, sementara akses untuk penambang lokal masih ditutup rapat dengan dalih “penataan.” (*/KT)


























