KABARTIMURNEWS.COM.AMBON-Sebagai wilayah yang berada di pertemuan lempeng-lempeng besar, Maluku tidak pernah benar-benar “tidur” dari aktivitas seismik.
Fakta ini dipertegas oleh Prof. Henry Junus Wattimanela, Guru Besar Bidang Statistika Spasial Universitas Pattimura (Unpatti), yang baru saja mengungkap anatomi kegempaan Maluku melalui pendekatan matematis yang sangat mendalam.
Dalam orasi pengukuhannya di Ambon, Rabu (19/2), Prof. Henry memaparkan bahwa rahasia di balik ribuan getaran bumi di Maluku dapat dibaca melalui pola proses Poisson dan metode Maximum Likelihood Estimation (MLE).
Lewat kacamata statistik ini, laju kejadian gempa hingga peluang munculnya guncangan di masa depan bukan lagi sekadar tebakan, melainkan prediksi yang memiliki dasar kuantitatif kuat.
Riset besar ini tidak main-main karena melibatkan pengolahan data gempa tektonik selama 54 tahun terakhir, tepatnya dari tahun 1970 hingga 2024. Dari total 23.994 kejadian yang terekam, Prof. Henry menemukan bahwa wajah kegempaan Maluku didominasi oleh gempa-gempa bermagnitudo 4,0 hingga 5,0 dengan jumlah mencapai 15.687 kejadian.
Secara vertikal, bumi Maluku lebih sering berguncang pada kedalaman menengah (60–300 km) dengan magnitudo rata-rata 4,37 Mw. Meski demikian, keberadaan 8.664 kejadian gempa dangkal tetap menjadi perhatian serius karena sifatnya yang lebih destruktif bagi pemukiman di permukaan.
Guna memetakan risiko secara lebih presisi, Prof. Henry membagi wilayah Maluku ke dalam 12 sub-wilayah (A1 hingga A12). Pembagian ini mencakup bentang alam yang luas, mulai dari Pulau Buru, Ambon, Lease, hingga wilayah terjauh seperti Maluku Barat Daya dan Kepulauan Aru.
Hasil analisisnya menunjukkan karakteristik yang kontras antar wilayah. Sub-wilayah seperti Ambon, Lease, dan Seram bagian barat (A2), bersama dengan beberapa titik di Papua Barat dan Kepulauan Aru, tercatat memiliki frekuensi gempa kecil yang sangat tinggi.
Namun, kewaspadaan ekstra perlu diarahkan pada wilayah Kepulauan Kei (A7), Maluku Barat Daya (A10), dan Tanimbar (A11), yang secara statistik memiliki potensi relatif lebih besar untuk mengalami gempa bermagnitudo besar.
ALARAM MASA DEPAN
Salah satu temuan paling krusial adalah meningkatnya peluang terjadinya minimal satu gempa dalam periode lima tahun ke depan, terutama di zona Laut Banda dan sekitarnya. Prof. Henry menegaskan bahwa temuan ini seharusnya menjadi “kompas” bagi pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan.
Pendekatan matematis objektif ini diharapkan menjadi dasar utama dalam revisi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) serta penyusunan zonasi prioritas mitigasi.
Dengan peta bahaya gempa yang terus diperbarui, kebijakan pembangunan di Maluku diharapkan bisa lebih tepat sasaran, memastikan kemajuan infrastruktur berjalan selaras dengan kesiapsiagaan terhadap ancaman bencana yang ada di bawah kaki kita. (AN/KT)