Bareskrim Usut Skandal Izin BPS di Gunung Botak

Internasional

Mengurai Dampak Intervensi AS di Tengah Ketegangan Iran-Israel

badge-check


					Mengurai Dampak Intervensi AS di Tengah Ketegangan Iran-Israel Perbesar

Serangan udara terbaru AS ke Iran turut menjadi tonggak peristiwa bersejarah yang mengguncang lanskap geopolitik kawasan. Simak selengkapnya.

KABARTIMURNEWS.COM – Ketegangan di Timur Tengah kian memanas setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan presisi besar-besaran terhadap tiga fasilitas nuklir utama milik Iran yaitu Fordow, Natanz dan Isfahan. Langkah ini menandai bergabungnya Washington dalam konflik bersenjata antara Iran dan Israel.

Presiden AS, Donald Trump, menyebut serangan udara terhadap tiga fasilitas nuklir utama Iran sebagai sebuah keberhasilan militer yang spektakuler. Dalam pidato resmi dari Gedung Putih, Minggu (22/6/2025), Trump menegaskan bahwa Iran kini berada dalam dua pilihan tegas: mewujudkan perdamaian atau menanggung konsekuensi militer yang lebih dahsyat.

“Ini tidak bisa terus berlanjut. Akan ada perdamaian atau tragedi bagi Iran, jauh lebih besar daripada yang telah kita saksikan selama delapan hari terakhir,” kata Trump dalam pidatonya kepada rakyat dari Gedung Putih dikutip dari BBC, Minggu (22/6/2025).

Serangan udara terbaru AS ke Iran turut menjadi tonggak peristiwa bersejarah yang mengguncang lanskap geopolitik kawasan. Untuk pertama kalinya sejak Revolusi Iran pada 1979, Washington melancarkan serangan langsung ke dalam wilayah Iran. Dengan menggunakan bom penghancur bunker, GBU-57A Massive Ordnance Penetrator, serangan ditargetkan langsung ke tiga siklus nuklir strategis: Fordo, Natanz, dan Esfahan.

Israel nampak di atas angin atas serangan bantuan yang dilakukan sekutunya tersebut. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pemerintahan Trump telah memberitahunya tentang serangan itu.

“Presiden Trump dan saya sering mengatakan: ‘Perdamaian melalui kekuatan.’ Pertama-tama datanglah kekuatan, kemudian datanglah perdamaian. Dan malam ini, presiden Trump dan Amerika Serikat bertindak dengan sangat kuat,” kata Netanyahu dalam sambutannya setelah pengeboman.

Konflik antara Iran dan Israel pecah pada Kamis 13 Juni 2025, setelah Israel secara mengejutkan melancarkan serangan terhadap sejumlah target nuklir dan militer di Iran. Serangan tersebut diduga dilakukan dalam upaya untuk menghancurkan kemampuan nuklir Iran.

Menanggapi serangan itu, Iran segera membalas dengan serangan rudal dan bom, memicu aksi serang yang terus berlangsung hingga saat ini. Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik penting, yakni rencana perundingan antara Iran dan AS mengenai program nuklir Teheran.

Perundingan tersebut sedianya digelar di Muscat, Oman, pada Minggu (16/6/2025). Namun, eskalasi konflik yang terjadi membuat Iran belum bisa melanjutkan perundingan tersebut, sehingga pembicaraan pun urung terjadi. Saat ini, Trump mendesak Iran untuk melanjutkan negosiasi.

Jika dianalisis, apa faktor dan alasan AS turut menyerang Iran?

Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Pelita Harapan, Edwin Martua Bangun Tambunan, menilai Timur Tengah dan Eropa adalah dua teater geopolitik yang menjadi baromoter hegemoni AS. Timur Tengah lebih menjadi perhatian AS dibanding kawasan lainnya, karena wilayah ini produsen komoditas strategis yaitu minyak bumi.

Selain itu, di dalam kawasan ini ada sekutu tradisional AS yaitu Israel, dan ada mitra-mitra tradisional AS yang perlu diproteksi dengan baik dari kekuatan eksternal maupun internal kawasan agar loyalitasnya terhadap AS bisa tetap berkelanjutan.

“Iran tinggal satu-satunya kekuatan yang masih dapat mengancam tujuan-tujuan strategis AS di Timur Tengah. Trump telah mencoba pendekatan diplomasi, tetapi tidak ada tanda-tanda Iran akan mudah untuk ditaklukkan,” ujarnya saat dihubungi secara langsung oleh Tirto, Senin (23/6/2025).

Dari perspektif ilmu hubungan internasional, Edwin menjelaskan bahwa dengan cara menyerang Iran, Trump mencoba menggunakan coercive diplomacy atau diplomasi koersif yang dalam retorikanya sering ia sebut sebagai peace through strength (perdamaian melalui kekuatan).

Strategi ini digunakan dengan memanfaatkan momentum dan agresivitas kebijakan luar negeri Israel di bawah kepemimpinan Benjamin Netanyahu. Namun, pendekatan semacam ini justru menimbulkan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

“Tindakan ini tentu saja melanggar hukum internasional. Apa yang dilakukan oleh AS menyerang Iran, maupun tindakan oleh Israel, adalah tindakan agresi karena tidak ada justifikasi pembelaan diri yang kuat, tidak ada otorisasi dari DK PBB, tindakan tersebut melanggar kedaulatan Iran secara langsung,” sambungnya.

Terpisah, Dosen Hubungan Internasional, Universitas Katolik Parahyangan (Unpar), Ignasius Loyola Adhi Bhaskara, menilai keputusan Presiden AS, Donald Trump untuk menyerang fasilitas nuklir Iran tampaknya tidak sepenuhnya didasari oleh kekhawatiran terhadap ancaman nuklir.

Ia menduga, langkah ini justru lebih dipengaruhi oleh kedekatan personal Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, serta kuatnya lobi Israel dalam pemerintahan AS.

“Sebab, jika melihat pada statement kampanye presidensial Trump dia pernah mengatakan kalau dia tidak ingin terlibat dalam konflik luar negeri. Selain itu dia juga pernah mengkritik keterlibatan AS dalam perang yang tidak pernah selesai di Timur Tengah, yang menurut dia tindakan bodoh,” ujarnya saat dihubungi Tirto, Senin (23/6/2025).

Pria yang akrab disapa Adhi Baskara atau Aska ini, menilai Trump sebagai sosok yang sulit diprediksi dalam kebijakan luar negeri, yang dapat membawa dampak ganda—baik positif maupun negatif—bagi stabilitas hubungan internasional.

Dalam konteks serangan AS ke Iran, Ia menyebut ini merupakan preseden yang buruk karena berpotensi meningkatkan eskalasi konflik yang seharusnya bisa dihindari.

“Jika dikaitkan dengan pelanggaran piagam PBB, ya, kita bisa melihat kalau piagam PBB dibuat untuk menjunjung tinggi HAM. Dalam hal ini, perang jelas tidak dibenarkan dalam piagam PBB,” ujarnya.

Lalu, bagaimana respon Iran atas serangan AS ini?

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan negaranya mengantongi semua opsi dalam menanggapi serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Iran.

Dari menargetkan pangkalan AS di wilayah tersebut, hingga kemungkinan menutup jalur air strategis untuk pengiriman global, Iran kemungkinan sedang mempertimbangkan langkah selanjutnya.

“Sesuai dengan Piagam PBB dan ketentuan-ketentuannya yang memperbolehkan tanggapan yang sah dalam membela diri, Iran memiliki semua pilihan untuk mempertahankan kedaulatan, kepentingan, dan rakyatnya,” katanya dikutip dari Mint News , Minggu (22/6/2025).

Sementara, Barak Ravid, analis politik dan urusan global CNN, menyebut Iran telah berkali-kali menyatakan bahwa jika AS terlibat dalam perang ini dan menyerang fasilitas nuklir mereka, mereka akan membalas terhadap pasukan AS di wilayah tersebut.

Serangan baru dari Yaman terhadap aset-aset AS juga sudah diperhitungkan. Kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya telah berjanji akan menyerang kapal-kapal AS di laut merah jika negara Paman Sam tersebut ikut campur dalam konflik Israel-Iran.

Seturut pemberitaan CNN, seorang pejabat Houthi terkemuka mengatakan bahwa “Trump harus menanggung konsekuensi” atas serangan udara AS ke fasilitas nuklir Iran.

Selain melalui jalur militer, Iran juga memiliki opsi perlawanan lain yang tak kalah strategis, yakni dengan cara mengganggu jalur perdagangan minyak global. Langkah terbaru menunjukkan arah ke sana.

Pada Minggu (22/6/2025) parlemen Iran dikabarkan telah menyetujui kemungkinan penutupan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.

Tinggalkan Balasan

Baca Juga

Cetak Generasi Tangguh, Lanud Pattimura Gelar Persami KKRI 2026 bagi Pelajar Maluku

14 Februari 2026 - 19:19 WIT

Israel Ancam Serang Iran Tanpa Persetujuan AS

9 Februari 2026 - 16:33 WIT

Penduduk Uni Eropa Bersiap Perang dengan Rusia

9 Februari 2026 - 04:00 WIT

Trump: Iran Ingin Kesepakatan, AS Ingatkan Konsekuensinya Jika Gagal

7 Februari 2026 - 18:32 WIT

Skandal UP3 Tanimbar, Dugaan Pelanggaran Prosedur Pembayaran Proyek Ratusan Miliar

7 Februari 2026 - 12:11 WIT

Trending di Utama