KABARTIMURNEWS.COM,AMBON, – Dua lumbung beras di Maluku, Namlea Buru dan Seram Kobisonta belum bisa jadi pemain beras yang dapat diandalkan. Badan Usaha Logistik (Bulog) Divre Maluku mengaku dari sisi kualitas beras yang dihasilkan dua daerah itu, belum memenuhi syarat yang distandarkan.
Kepala SDM dan Operasional Bulog Divre Maluku Hamdani Malawat menjelaskan, padahal tahun-tahun sebelumnya bahkan sebanyak 700 ton beras per tahun dari pasokan Namlea, bisa dibeli pihaknya. “Tahun-tahun kemarin penyerapan hampir 700 ton, tapi tahun ini tidak bisa pernyerapan lagi,” kata Malawat kepada Kabar Timur di kantornya, Kamis kemarin.
Kata dia, bukan berarti Bulog tutup mata. Karena para pembina petani agar menghasilkan beras berkualitas merupakan tanggung jawab Pemda setempat. “Bulog taunya cuma beli. Simpan di gudang lalu salurkan ke pasaran atau masyarakat,” tukasnya.
Dijelaskan, kualitas beras dari dua lokasi tersebut termasuk Seram Gemba, masih di bawah standar yang ditetapkan pemerintah pusat. Untuk kadar air saja harus kurang dari 14 persen, sedangkan broken (bulir patah) di atas 20 persen.
Menurutnya, setelah Perum Bulog dipimpin Budi Waseso, standarisasi kualitas dimaksud makin ketat. Hal itu dikarenakan dana untuk membeli beras dari petani berasal dari APBN atau uang negara.
Diakui, beras yang kualitasnya di bawah standar tidak tahan lama bila disimpan di gudang-gudang Bulog yang ada. Sebut saja, beras dengan kadar air tinggi akan cepat rusak dalam penyimpanan di gudang.
Sementara broken di atas 20 persen, dari segi visual tidak diminati pembeli. Namun begitu, walau Bulog tidak bisa membeli beras petani tersebut, menurutnya masih ada pihak swasta.
“Swasta rata-rata modal kuat, punya mesin pengering. Mereka beli dari petani dan diolah kembali, lalu masuk karung, tinggal pilih kadar air berapa,” papar Malawat.(KTA)


























