KABARTIMURNEWS.COM, AMBON – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku mencatat, inflasi Provinsi Maluku bulan Februari 2019 secara bulanan meningkat, namun masih berada pada sasaran inflasi.
“Inflasi Provinsi Maluku pada Februari 2019 tercatat sebesar 0,41 persen (month to month/mtm) atau sebesar 2,87 persen (year on year/yoy)berada pada sasaran target Tim pengedalian inflasi daerah (TPID) Maluku sebesar 3,5 persen kurang lebih satu persen,” kata Ketua Tim Advisory dan Pengembangan Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Maluku Andy Setyo Biwado di Ambon, kemarin.
Tekanan inflasi Maluku bulan Februari 2019 sedikit meningkat dibanding inflasi pada Januari 2019 yang sebesar 0,35 persen (mtm) atau 3,11 persen (yoy).
Meningkatnya tekanan bulan Februari antara lain disebabkan oleh meningkatnya tekanan inflasi kelompok bahan makanan, utamanya subkelompok ikan segar. “Inflasi sub kelompok ikan segar meningkat dari 1,65 persen (mtm) menjadi 1.93 persen (mtm), seiring dengan mulai meningkatnya curah hujan di wilayah perairan Maluku yang memicu tingginya gelombang laut,” ujarnya.
Selain itu meningkatnya tekanan inflasi pada kelompok bahan makanan juga disebabkan oleh subkelompok sayur-sayuran, utamanya sayuran yang didatangkan dari luar daerah Maluku seperti tomat sayur dan sawi hijau.
Kenaikan tersebut sudah terjadi di sentra produksi sayur di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. Namun demikian, inflasi kelompok bahan makanan masih dapat tertahan oleh menurunnya tekanan subkelompok bumbu-bumbuan dari sebelumnya inflasi 0,35 persen (mtm) mernjadi deflasi 3,62 persen (mtm), utamanya pada komoditas cabai rawit dan lemon.
Sementara itu,inflasi bulan Februari di Maluku tertahan oleh menurunnya tekanan inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
Inflasi kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuangan menurun dari 0,51 persen (mtm) menjadi deflasi 0,59 persen (mtm), utamanya disebabkan oleh harga tiket angkutan udara yang mulai turun dari 3,33 persen pada Januari (mtm)menjadi deflasi 1,66 persen (mtm) pada Februari.
Hal tersebut dikarenakan beberapa maskapai yang mulai menurunkan harga tiket sejalan dengan arahan Presiden.
Meskipun sudah mulai turun, namun harga tiket pesawat saat ini masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu, sehingga harga tiket angkutan udara masih memberikan tekanan inflasi secara tahunan (yoy).
Menurunnya tekanan inflasi pada kelompok transportasi, komunikasi dan jasa keuanganjuga disebabkan oleh menurunnya harga BBM non subsidi pada bulan Februari.
Harga BBM jenis pertamax dan pertalite masing-masing turun dari Rp10.600 dan Rp8.000 pada bulan Januari menjadi Rp10.400 dan Rp7.850 pada bulan Februari.



























